Follow Us @curhatdecom

Follow by Email

Saturday, January 9, 2021

Tips Sebelum Melakukan SwabTest

3:58:00 PM 0 Comments

Nemenin suami yang mau swab antigen 


Beberapa waktu lalu untuk kelengkapan syarat melahirkan, gue di haruskan menjalani swab test. Sebetulnya kalau boleh memilih, pengennya sih gak pakai swab test segala. Selain gak siap dengan efeknya yang katanya menyakitkan, bikin bersin-bersin berhari-hari atau bahkan sampai berair mata, ketakutan terbesar gue adalah melihat hasilnya. 

Walaupun sudah menjalani protokol kesehatan ketat, khawatir kecolongan. Banyak kan kasusnya yang dia gak kemana-mana, gak kontak langsung dsb tau-tau positif. Tapi kalau memang ternyata ada tanda-tanda kemungkinan Terinfeksi menghindari test adalah tindakan tidak bertanggung jawab. 

Setelah gue akhirnya melakukan test swab, meski gak nyaman prosesnya, tapi ternyata gak semengerikan itu loh. Tempat gue melakukan Test Swab juga sangat terjaga sehingga gak khawatir tertular dari peserta test lainnya. 

Nah buat kalian yang mau melakukan test swab, coba simak tips berikut ini ya... 

Survey dahulu Providernya

Ini penting ya, jangan sampai tempat test swab nya "abal-abal". Jaman sekarang gak sulit loh mencari riview dan testimoni dari sebuah provider. Jangan sampai kita kecewa dengan pelayanan dan bahkan hasil yang gak valid karena tidak profesional saat pengambilan sampel. 

Bahkan ada loh provider yang protokol kesehatan nya asal. Malah bisa jadi cluster baru karena banyaknya orang berkerumun.

Update Informasi 

Gue termasuk yang gak update soal swab test karena dulu sama sekali gak berniat melakukan test. Dan ternyata banyak ragam test untuk mengetahui ada tidaknya virus covid-19 di tubuh kita. Dulu gue taunya rapid aja. Ternyata perkembangannya sekarang ada beberapa jenis test. 

Bahkan sempat rancu di kalangan tetangga gue saat ada yang keluarganya positif dan melakukan swab mandiri. Karena alatnya mirip alat rapid tapi katanya pengambilan sampel nya bukan darah melainkan di swab/usap. Ternyata test yang di maksud rapid antigen.

Dengan update informasi kita juga bisa tahu kalau ternyata pemerintah menerapkan batas atas harga pelaksanaan test. 

Pilih Test yang Tepat

Beberapa waktu lalu saudara yang bekerja sebagai tenaga kesehatan sharing, kalau sebelum nya pernah positif covid-19 dan sudah sembuh, jika ingin melakukan test lagi sebaiknya pilih swab pcr. Sebab jika yang di pilih rapid hasilnya akan reaktif karena imun tubuh sudah terbentuk. Jadi daripada buang-buang biaya karena harus test dua kali, sebaiknya ketahui dulu informasi ini. 

Tenang Saat Pengambilan Sampel

Jangan panik saat pengambilan sample. Ikuti arahan dari petugas. Karena kalau sampai panik bisa-bisa semakin tidak nyaman dan bahkan bisa gagal mengambil sampel.

Nah semoga tips dari gue ini membantu kalian ya guys. Semoga kita semua diberikan kesehatan. Jangan lupa protokol kesehatan diri dan keluarga dijaga. 

Friday, January 8, 2021

Jangan Remehkan Menejemen Jika Buka Warung Kecil di Rumah

7:19:00 AM 0 Comments

 

Sumber gambar pixabay

Menjadi ibu rumah tangga biasa, terkadang suka ngiri dengan kehidupan wanita karir yang selain bisa mengembangkan dirinya (bukan tambah gendut yak maksudnya hihihi) juga memiliki penghasilan sendiri. Kadang suka gerah juga kalau ditanya “kok gak kerja” atau dapat nyinyiran “enak ya, Cuma jadi Ibu rumah tangga mengandalkan gaji suami aja”. Eh eh eh eh udah udah stop. Jangan malah memancing mom war kwkwkw. Intinya bukan gak bersyukur Cuma yakan terkadang rumput tetangga memang lebih terlihat hijau kwkwkw.

Tapi kalau memang ingin punya penghasilan sendiri, jaman sekarang tuh hampil gak mustahil kok meski full jadi ibu rumah tangga. Bisa jualan online, jualan kue, nulis, atau kalau punya modal lumayan bisa buka warung kecil-kecilan dirumah.

Meski tidak terkesan prestise, jangan kira toko klontong tidak dapat menghasilkan. Bahkan dengan menejemen seadanya, Emak gue bisa menambah pemasukan rumah tangga sampai 4 anaknya bisa kuliah semua. Adik bungsu gue saat baru lulus kuliah dan belum bekerja pun sempat mengelola warung emak sampai dua tahun. Bahkan dengan merapihkan menejemen berdagang dan disiplin keuntungan warung bisa terlihat nyata.

Kata si bungsu, sebetulnya nyaman banget ngurus warung Emak. Selain nyantai, sebulan tabungan bersihnya bisa mencapai tiga juta rupiah. Padahal sudah “foya-foya” untuk bayar listrik, sekolah keponakan, internet, pulsa, dan makan siang online setiap hari hahaha. Tapi akhirnya “diusir” sama emak karena di nyinyirin tetangga “sarjana kok jualan warung”. Padahal si bungsu lagi bersiap untuk merekrut karyawan biar kerjaannya lebih ringan di warung. Sekarang sih anaknya alhamdulillah tambah sukses membangun pabrik roti dan memiliki 9 karyawan. Pabrik yang dibangunnya dari tabungan selama mengurus warung.

Nah coba deh tips dari si Bungsu ini jika kalian memang ingin punya warung kecil-kecilan di rumah

Jual yang dibutuhkan pembeli bukan yang kita inginkan

Sebelum dikelola si bungsu, kakak tertua gue juga sempat mengelola warung saat emak sakit. Banyak barang dia beli untuk dijual lagi tanpa mempertimbangkan akan laku dijual atau tidak. Katanya ingin terlihat bonafit warungnya seperti minimarket. Tapi kemudian barang dagangannya malah tidak laku. Catat barang yang sering dicari pembeli, jika banyak peminat tidak ada salahnya kita tambahkan ke etalase

Tetapkan keuntungan produk stabil agar harga stabil dan tidak kemahalan atau kemurahan

Gunakan persentase untuk menentukan harga jual. Biasanya keuntungan dari tiap produk bekisar 20-30% per item. Setelah dijumlahkan kita bisa survey lagi dengan harga toko lain. Kalau warung kecil-kecilan rasanya gak perlu sih harga psikologis. Maksudnya seperti harga Rp 2480, langsung saja genapkan jadi Rp 2500. Nanti bingung kalian cari kembalian hahaha

Tata barang dagangan dengan menarik dan terlihat

Biasanya kalau ke warung selagi penjual menyiapkan belanjaan kita, mata kita suka survey seisi toko kan. Belanja di supermarket aja kita suka lihat-lihat barang lain. Kadang akhirnya masuk keranjang belanja. Nah begitu juga di warung. Meski tidak saat itu juga, pembeli akan kembali jika membutuhkan barang tersebut karena ingat pernah melihatnya di etalase kita.

Tetapkan penghasilan untuk diri sendiri

Ini maksudnya gaji kita tiap bulan. Anggap aja kita karyawan, jadi bisa dianggarkan gajinya dari keuntungan (bukan omset ya) bulanan. Nah sisa keuntungan atau laba ini bisa kita simpan untuk menambah produk dsb. Jangan sampai tercampur ya, bahkan sampai menggunakan omset untuk keperluan pribadi. Bisa-bisa habis dan gak bisa berputar lagi modalnya.

Tiadakan hutang

Ini penting banget. Kadang orang suka lupa bayar, atau malah sengaja kalau berhutang ya larinya ke warung kita karena diperbolehkan. Emak sendiri pernah gak bisa belanja lagi karena gak ada modal. Padahal mereka yang berhutang kalau lagi punya uang belanjanya di tempat lain. Si bungsu bahkan sampai menuliskan hadis tentang Hutang di etalase kwkwkw.

Rekrut karyawan secara selektif

Kalau memang sudah memungkinkan gak ada salahnya merekrut karyawan. Bahkan toko kecil bisa disulap ala minimarket jaman now. Jangan takut di curnagi karyawan, karena sekarang sudah ada aplikasi kasir tanpa perlu mesin kasir besar dan software rumit. Kalau sedang di mall, pasti gak asing deh melihat mesin kasir hanya berupa tab tipis.

Thursday, January 7, 2021

Swab Test untuk Persiapan Melahirkan di Masa Pandemi

9:50:00 PM 0 Comments

Bagaimana rasanya melahirkan di masa pandemi? Yang jelas bagi gue nano-nano. Selain kekhawatiran akan tertular virus Covid-19, gue pun kejar-kejaran dengan standar melahirkan di fasilitas kesehatan. Yaitu mengantongi surat keterangan bebas covid-19 dari hasil swab.

Rencana melahirkan gue adalah spontan pervaginam alias melahirkan normal. Berbeda dengan Secar yang waktunya bisa dipilih/ditentukan, melahirkan normal tentunya menunggu sinyal-sinyal kapan si baby mau keluar. Meski ada yang dinamakan HPL (hari perkiraan lahir) tapi tetap aja bikin “galau” kapan harus swab test

Setelah konsultasi dengan dokter kandungan gue, akhirnya dipilihlah waktu usia kandungan 38 minggu untuk test swab. Pilihan awal jatuh di Rumah Sakit tujuan bersalin. Tapi ternyata setelah suami survey testimoni peserta, banyak yang mengeluhkan hasil yang lama keluar. Sekitar tiga sampai empat hari.

Mungkin karena permintaan yang meningkat, dan mungkin salah satu penyebab lambatnya keluar hasil karena tempat pengambilan sampel tidak memiliki laboratorium sendiri. Sehingga antriannya panjang.


Setelah mendapatkan rekomendasi dari adik bungsu gue yang belum lama test swab istrinya untuk keperluan kelengkapan dokumen CPNS, akhirnya gue dan suami memutuskan untuk Swab Test di GSI Lab yang berlokasi di Fatmawati.

Semua proses pendaftaran dilakukan secara online dan mudah. Begitupun pembayaran juga dilakukan secara online. Jadi kita hanya perlu mengisi formulir identitas diri, menentukan waktu pelaksanaan, melakukan pembayaran dan survey semua secara online.

Uniknya sudah ada jadwal yang available tertera dalam formulir. Sehingga kedatangan peserta bisa terakomodir dan tidak terjadi penumpukan karena hari tanggal dan jam sudah disesuaikan terlebih dahulu. Metode pengambilan pun lumayan memudahkan dan aman. Karena bagi yang membawa kendaraan bisa drive thru. Jadi gak perlu ribet cari parkir, dan tetap Social distancing karena gak perlu keluar dari kendaraan.

Buat yang menggunakan sepeda motor atau datang tanpa kendaraan juga gak perlu khawatir tidak dilayani. Karena ada posnya tersendiri. Dan yang membuat gue takjub, hasil yang di janjikan adalah maksimal pukul 24.00 WIB H+1. Tapi ternyata subuh keesokan harinya sudah ada hasil keluar. Itu karena sample yang di ambil langsung di proses saat itu juga. Kok gue tahu? Iya soalnya pas nunggu antrian ada layar monitor yang memberikan gambar live proses dalam lab pemeriksaannya.


Gimana rasanya Swab Test? Jelas gak enak, tapi mertua gue yang kebetulan ikut menenangkan. Katanya sekarang orang sudah semakin terlatih mengambil sample dibandingkan dulu. Dan alhamdulillah meski bersin-bersin dan mual awalnya tapi tidak sampai berhari-hari seperti banyak diceritakan orang-orang yang mengalami efek swab test. Tentunya yang lebih menggembirakan adalah, hasil gue negatif. Yipiii...