Follow Us @curhatdecom

Follow by Email

Sunday, July 12, 2020

Berdamai Dengan Luka Masa Kecil

7:11:00 AM 1 Comments

sumber gambar : Pixabay

04.20 adalah waktu yang ditunjukkan jam di kamar rumah gue di Pamulang. Saat terbangun bantal gue sudah basah oleh air mata. Gue sendiri terbangun oleh air mata itu. Air mata yang disebabkan oleh mimpi yang aneh, tapi justru saat bangun membuatku menangis sejadi-jadinya.

Sudah beberapa tahun belakangan gue seperti melakukan “ritual mengingat mimpi”. Bertahun-tahun silam entah penulis mana yang mengatakan “cobalah mengingat apa mimpimu malam ini saat terbangun, kadang itu bisa menjadi sebuah inspirasi menulis.” Berkali gue coba, banyak mimpi aneh yang gue rasa bisa jadi tema cerita fiksi yang hebat. Tapi malam ini, ternyata mimpi itu menyadarkan gue pada luka yang mungkin gue abaikan.

Apalah mimpi itu? Terkadang hanya sebuah bunga tidur kan? Entah bagaimana sisi psikologisnya, mungkin salah satu dampak yang terbawa dari alam bawah sadar (gak paham juga, coba yang paham bisa komen dan kasih pendapat). Karena bertahun-tahun sudah gue pun menjalani terapi gangguan jin, mimpi bertemu makhlus adalah salah satu tanda seseora harus di ruqyah. Entah bagaimana mimpi gue barusan adalah sebuah pintu masa lalu yang terbuka.

Entah bagaimana mimpi ini dimulai. Intinya gue dalam mimpi adalah gue dalam tubuh gue dewasa. Gue bahkan sudah punya Gaza. Ada si menggemaskan itu dalam mimpi gue. Kalau tidak salah ingat gue pindah ke dekat rumah orangtua gue. Hanya saja suami gue tidak ada dalam mimpi, digambarkan suami gue belum nyusul karena pekerjaannya.

Selesai beres-beres gue punya rencana mau membuat dua indomie goreng dan segelas susu coklat panas untuk melepas lelah sisa pindahan. Saat merebus air, gue kehabisan indomie. Setelah nyalain kompor, gue lari ke warung terdekat (yang entah bagaimana penjualnya adalah tetangga sebelah gue di Pamulang saat ini yang memang punya kios).

Saat gue kembali, air yang gue rebus mau dipakai dulu sebagian untuk bikin susu coklat. Ternyata air sudah mendidih, tapi susu coklat habis. Gue taruh indomie di samping kompor, dan pergi ke warung lagi. Saat gue kembali, gue melihat ada kawat besi menyembul menjadi urat besar di kaki Gaza. Yang entah bagaimana gue inget, gue yang pasang itu kawat besi agar Gaza bisa berdiri kuat.

Gue pikir, gue akan selesaikan urusan indomie dan susu coklat baru setelahnya gue akan urus kaki Gaza, gue mau ambil aja semua kawat besi itu. Tapi tiba-tiba muncul kakak kedua gue. Dan dia tanya siapa yang masak air panas? Karena lihat indomie disampingnya, dia berinisiatif untuk memasak indomienya (niatnya mau bantu). ½ mie dari satu bungkus sudah di tuang, baru dia kemudian berpikir untuk memastikan. Makanya dia ngomong di ruang tengah yang ramai orang, dan gue auto marah. Itu air kan mau di pakai buat nyeduh susu dulu baru sisanya buat masak indomie. Kalau udah di tuang mie duluan kan berarti harus rebus air lagi. Dan pacinya harus di cuci dulu, jadi ribet. Dan yang bikin gue marah adalah, RUSAKNYA RENCANA YANG GUE BUAT.

Entah kenapa sejak kecil gue memang anak yang suka membuat perencanaan memang. Tapi mood gue akan hancur berantakan jika ada satu saja yang berjalan tidak sesuai rencana. Terutama perusaknya adalah orang lain. Itulah kenapa gue lebih suka kerja sendiri daripada kelompok. Karena gue benci jika ada perusak struktur yang gue buat.

Akhirnya karena kesal, niat membuat indomie dan susu coklat gue batalkan. Jangan tanya hancurnya mood gue gimana. Gue akhirnya malah sibuk battle robot apalah gitu (yang bisa keluar dari kartu-kartu. Mirip kartun-kartun gitu) untuk mengalihkan hancurnya mood gue. Masa bodo dengan semua bahan yang ada di dapur.

Trus gue inget dengan Gaza, akhirnya anak itu yang entah bagaimana gue merasa itu adalah Umaro (meski gue panggil Gaza) gue bawa ke kamar untuk cabut kawat besi diam-diam. Karena gue pasti kena amuk masa karena ketahuan pasang kawat besi ke anak sendiri (jangan tanya kenapa gak gue bawa ke dokter). Mungkin karena gue takut di serang “emak macam apa itu pasang kawat besi ke badan anak sendiri).

Baru kawat sebelah kanan yang berhasil gue tarik, yang entah kenapa tidak mengeluarkan darah maupun bikin anak itu gak nangis. Padahal gak pakai bius. Oh iya entah gimana pas gue mau bawa gaza ke kamar gue di lantai atas, keponakan-keponakan gue muncul 4 orang, tapi itu bukan keponakan gue yang biasa. Mereka adalah anak-anak dari sutradara Hanung Bramantyo.

Karena gue buru-buru mau cepet eksekusi kaki Gaza anak-anak itu gue suruh keluar. Dan bukannya keluar mereka malah semakin jadi. Akhirnya setelah salah satu gue jitak, baru mereka keluar dengan wajah sedih. Entah kenapa diri gue sendiri bahkan mau bilang “lo ringan tangan banget pit, mukul anak orang lagi.

Nah pas gue mau lanjut cabut kawat kaki kiri, kakak kedua gue muncul. Dia membahas tentang indomie tadi. Katanya gue lebay Cuma masalah sepele gitu aja dibesar-besarkan. Ternyata dia bete karena akhirya di suruh mama minta maaf. Dan bukannya minta maaf dia malah nyalahin gue terus begini begitu lebay dan sebagainya. Akhirnya karena kesal gue pun teriak-teriak. Gue bilang bukan indomienya, tapi gue benci ada yang merusak rencana gue.

Gak lama kakak pertama gue datang. Dengan suara yang ceria khasnya dia tanya kenapa gue ribut hterus. Kasihan mama di bawah sedih. Gue yang entah gimana lagi pegang ceres warna warni kesal dan menyiram itu ke badan kakak pertama gue “Bukan urusan lo! Dan gak usah pura-pura peduli. Urus masalah lo sendiri, justru lo yang setiap hari bikin mama sedih.”

Trus kakak gue tadi yang sudah gue duga Cuma pura-pura ramah wajahnya berubah marah. Dia lempar juga ceres yang lagi dia bawa ke badan gue (ini kenapa jadi perang ceres sih). Trus gue ketawa, “Bego, itu ceres yang gue lempar gue gak beli. Jadi gak rugi gue. Kalau lo kan itu ceres beli sendiri.” Gak terima dia rugi sendiri, dia bongkar bahan kue gue dan nyari bahan yang bisa di buang biar satu sama.

Dia hampir buang kacang gue, tapi gue cegah. Terjadilah keributan besar yang mengundang Bapak datang. Bapak marah-marah karena kami kakak beradik kenapa ribut terus. Akhirnya bapak manggil satu persatu, mau memberikan wejangan. Sebelum mulai bapak menyebut nama kami satu persatu dengan disertai kalimat yang sama. Tibalah saat bapak menyebutkan bagian gue “Pita... kamu tahu kan bapak sayang kamu.” Tiba-tiba gue nangis dan terbangun. Kata-kata itu seperti simbol kuat Bapak yang sebenarnya. Seperti ya memang itu yang ingin disampaikan bapak dan mungkin juga mama sebagai orangtua kepada anak-anaknya.

Saat sadar entah kenapa yang gue lakukan bukannya istighfar, malah lanjut menangis bahkan sampai sejadi-jadinya.

Mimpi itu seperti menggambarkan kejadian masa kecil, tapi denga tubuh kami yang sudah dewasa seperti sebuah isyarat bahwa kami tumbuh menjadi orang dewasa namun terjebak dengan luka masa kecil kami.

Setelah puas menangis dan merenung, masih dengan isak tangis tertahan (takut Gaza terbangun) gue coba berdoa. Mumpung sepertiga malam, “Ya Allah... betapa banyak luka pengasuhan yang aku miliki sejak kecil. Karenanya aku tumbuh penuh luka hati, yang belum terobati. Aku menerimanya sebagai takdir hidup yang harus kujalani ya Allah. Aku menerima adanya luka masa kecil itu. Tapi saat ini, setelah proses penerimaan itu, aku mohon lapangkan jiwaku. Sembuhkan lukaku. Biarkan semua itu menjadi bagian masa lalu yang hadir untuk menjadikan ku manusia kuat.”

Banyak luka masa kecil yang bahkan berlanjut sampai sekarang yang membuat gue berpikir “keluarga gue gini amat yak”. Tapi gue tahu kok di luar sana banyak kisah keluarga yang tidak lebih baik dari gue. Karena gue paham sejatinya Allah menakdirkan garis hidup yang berliku agar manusia itu belajar, terlatih, merenung dan kembali pada tujuan sejatinya.

Luka adalah sebuah “masalah” yang harus kita sadari dan terima keberadaannya. Bukan sesuatu yang harus kita abaikan, karena kalau begitu bukannya sembuh luka itu bisa jadi bom waktu. Pertama kali gue menyadari adanya luka masa kecil gue adalah tahun 2015 akhir atau 2016 awal saat suami membawa gue mengikuti sesi terapi hypnosis untuk menyembuhkan phobia terhadap jarum suntik. Saat itu gue sedang hamil Umaro, anak surga kami. Tujuan terapi ini agar gue siap menghadapi persalinan yang pastinya ketemu alat-alat medis, salah satunya jarum suntik.

Tapi ternyata begitu banyak luka yang muncul, yang membuat gue merasa satu jam sesi itu kurang. Tapi membayar 500 ribu rupiah setiap sesi juga bikin pusing. Kebetulan terapisnya adalah ustadz yang bisa Ruqyah juga. Sesi yang berjalan bisa dibilang nano-nano. Kadang muncullah sesi dimana kadang jin yang muncul, kadang luka masa kecil gue yang muncul.

Terapisnya berkata, bahwa terlalu banyak luka masa kecil yang terabaikan. Sembuhkan itu dulu, baru nanti bisa terurai benang kusut sampai pada penyembuhan phobia jarum suntik. Luka masa kecil yang terabaikan itu juga salah satu penyebab emosi gue yang meledak-ledak katanya. Dan saat emosi gue gak stabil, memang adalah celah jin menguasai tubuh gue (kesurupan).

Gue paham sepenuhnya bahwa kondisi gue sebetulnya membutuhkan penanganan profesional. Tapi biaya menjadi problem ketakutan gue berikutnya. Gue gak mau membebankan suami. Akhirnya yang gue lakukan adalah terus merenungi diri. Terus bertanya pada diri gue sendiri, tentang apa saja. Karena kadang itu yang membuat kita sadar, hal tak terduga yang ternyata tersimpan di alam bawah sadar.

Selain itu gue juga membaca banyak tulisan tentang kisah hidup orang lain, atau tentang jati diri atau inner child dan artikel lain yang relevan lah. Curhat dan diskusi dengan teman-teman yang memang punya basic ilmu psikologi dan passion dengan itu juga gue lakukan.

Menulis juga menjadi cara gue melepaskan apa yang gue pikirkan. Kalau hanya memikirkannya, semua itu hanya menjadi benang kusut dalam kepala. Menulis membantu gue mengurai satu persatu benang itu sehingga ketemu masalah dan solusinya.

Berdoa, adalah cara kita berkomunikasi dengan Dia yang menitipkan kita segala masalah ini. Barangkali selain untuk membentuk kita, Dia hanya ingin kita terus berkomunikasi dengan-Nya untuk itulah masalah demi masalah hadir.

Namanya juga hidup, masalah pasti selalu ada. Yang terlupa dari pengasuhan dari masa ke masa adalah setiap manusia itu lahir dengan membawa fitrah. Fitrah manusia adalah menjadi orang baik. Jadi sejatinya masalah hidup seberat apapun, harus membawa kembali kita menjadi orang baik.

Kembali mengutip pesan senior di FLP saat beliau menjabat sebagai Ketua Umum, Mba Sinta Yudisia. “Ikhlas itu diawal, ditengah, dan diakhir...” maka sejatinya ikhlas itu harus terus di upgrade.

Jika kita sudah ikhlas dan menerima luka masa lalu, bisa jadi seiring berjalannya waktu luka itu datang lagi. Bukan berarti belum sembuh, hanya saja mungkin flash back saja. Oranglain tidak pernah tahu apakah kita sudah sembuh atau belum, hanya diri sendiri yang benar-benar tahu. Jadi Sebelum bertanya pada orang lain “apa kabar?” tanya diri sendiri terlebih dahulu “Apa kabar diriku? Apa perasaanmu hari ini?”

Masa kecil... Apapun yang terjadi saat itu, gue menerima dan merelakan semuanya...

Pamulang, 12/07/2020
06.05 WIB
Sebagai pengingat agar gue tetap ikhlas diawal, ditengah dan diakhir

Wednesday, July 8, 2020

Anakku, Mencintaimu Apa Adanya adalah Proses Seumur Hidup

8:38:00 PM 2 Comments

Setiap pagi, saat gue menatap wajah polos Gaza yang sedang tertidur rasanya ada kedamaian sekaligus luka yang menampar. Entah berapa kali gue membuat anak ini terluka hatinya. Entah karena ajakan bermainnya selalu gue tolak karena kesibukan mengurus rumah seorang diri. Dan yang paling gue sadar (meski dia mungkin belum paham) adalah luka karena gue terus “menuntut” dia menjadi seperti anak-anak yang lain.

Menjadi ibu jaman sekarang itu “tidak mudah”. Tapi gue yakin setiap ibu memiliki suka duka berbeda pada kondisinya dan masanya. Bagi gue pribadi kesulitan menjadi ibu saat ini adalah karena banyaknya informasi yang “terlalu mudah” di akses. Apakah bagus ada banyak informasi seputar tumbuh kembang anak? Oh bagus donk. Tapi buat gue pribadi itu seperti pedang bermata dua.

Di satu sisi gue terbantu bahwa ada milestones anak yang harus terpenuhi agar tumbuh kembang anak optimal. Tapi disatu sisi saat anak gue gak mencapai “target” ada ketakutan. Bahkan ajang melihat rumput tetangga “anak tetangga” yang udah bisa ini itu gue jadi jiper dan stress. Ini anak gue yang “kurang”? Atau emaknya yang males kasih stimulasi? Atau “anak tetangga” yang terlalu jenius???

Informasi seputar stunting pun sebetulnya bagus, untuk mecegah hal buruk terjadi pada anak terkait gizi. Trus gue yang punya anak bertubuh mungil (yang katanya makanan dihabisin emak bapaknya yang gendut) lagi-lagi merasa insecure. Melihat orang dewasa yang punya tubuh pendek diluar sana, langsung mau nangis. Akankah anakku nantinya pendek, trus gimana nanti masa depannya??? (padahal orang pendek tapi tetap sukses juga banyak)

Sejak kecil hal yang paling gue benci dari perlakuan orangtua gue adalah seringnya mereka membanding-bandingkan gue dengan anak tetangga. Si A bisa pulang jam sekian kok kamu telat terus, si B nilainya selalu segini kok kamu gak bisa, si C... Si D... Si F... dst sampai gue gumoh. Tapi entah karena itu semacam luka masa kecil yang gue belum bisa berdamai dengannya atau karena memang ternyata segini khawatirnya saat menjadi orangtua akhirnya gue sendiri sering membadingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Bedanya (gak tau nanti semoga gak terjadi) gue gak pernah sampai tercetus kalimat secara verbal. Hanya dalam hati saja.

Gue terus belajar untuk menerima dengan terus mensugesti diri dengan bilang “setiap anak spesial dengan kelebihan sepaket dengan kekurangan yang dibawa”.

Tapi ternyata godaan dari luar kadang mematahkan benteng pertahanan gue. Ada aja lah komentar “anak lo kok kurus, si anu anaknya gendut.” Atau “Anak lo belum bisa jalan? Dulu waktu lo bayi jalan umur berapa tahun? Ada hubungannya loh sama genetik.” Atau “kok belum bisa ngomong, dulu waktu bayi lo mulai bisa ngomong usia berapa?” dst

Mendapat pertanyaan-pertanyaan macam itu gue langsung auto insecure... Lagi-lagi gue merasa jadi ibu yang gak becus, gak bisa kasih makan, gak bisa merawat, males stimulasi anak, atau bahkan parahnya gue berpikir gue ini bego! Yes, gue merasa anak gue kemampuan berpikirnya karena emaknya aja bego, kan katanya kecerdasan anak di wariskan dari genetika ibu. Apa seharusnya orang bego macam gue gak usah kawin dan punya anak yak? Daripada melahirkan anak-anak yang sama begonya sama gue.

Kalau udah kumat muncul deh perasaan kok anak gue gak kayak si A...B...C...D... dst. Dan kalau udah mulai banding-bandingkan gini gue merasa kotor, berdosa dan gak fair. Apa bedanya dengan yang orangtua gue dulu lakukan ke gue??? Kalau Gaza tau dia pasti sedih.

Lalu... gue berpikir...

Gaza... anak lucu yang tidak pernah merepotkan saat digendong karena gak terlalu berat itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang baru bisa berjalan usia 14,5 bulan tapi langsung lancar tanpa tertatih itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang usia 2,5 tahun baru mulai berkomunikasi langsung dengan kosakata yang banyak dan lucu itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa... Dan meski dia tidak bisa memilih, dia tetap menerima gue sebagai ibunya.

Sosok yang harus ada saat bangun dan akan tidur. Sosok yang selalu dicari saat sedih dan terluka. Sosok yang dicari untuk berbagi air minum yang baru dituangkannya sendiri dalam gelas. Sosok yang selalu ingin dipeluk dan diciumnya. Itulah gue... Ibunya yang dia cintai apa adanya...

Lalu gue berpikir, kenapa gue gak bisa mencintai dia apa adanya??

Ketahuilah nak... mencintaimu apa adanya adalah proses panjang seorang ibu. Tapi Bundaro akan selalu berusaha untuk melalui proses itu. Karena kamu layak diperjuangkan untuk memperoleh cinta apa adanya dari Bundaro...

Pamulang 08/07/2020