Follow Us @curhatdecom

Follow by Email

Wednesday, September 19, 2018

Bundaro Open Mic Lagi : Dongeng Perdana, Riau I'm Coming

Kira-kira 3 tahun yang lalu kalau di tanya apa profesi gue, maka dengan mantap gue akan menjawab "PENDONGENG PROFESIONAL". Yups profesional artinya gue komitmen terhadap pekerjaan gue, berusaha memberikan yang terbaik untuk klien, dan tentunya ada harga untuk semua itu *ups. Maksudnya dengan totalitas gue ini please jangan jadikan profesi gue ini sebagai profesi yang kemudian ada yang nyeletuk "Cuma dongeng doang pakai bayaran?" atau "Hah bayar? Ini kegiatan sosial tau masa lo minta bayaran"
Foto bersama selepas Dongeng

Rasanya orang-orang yang ngomong begitu mau gue sumpel telinganya pakai kalimat "Yo wis monggo kamu dongeng sendiri, kan CUMA DONGENG ajah. Kamu 'pasti' bisa kan?" atau pakai kalimat "Ngana pikir dapur gue bisa ngepul cuma dengan ucapan terima kasih." Wong gue ikutan workshopnya ajah sampai harus ngutang dulu, trus bayarnya nyicil dari pemasukan menggung setelahnya. Wong gue beli boneka pakai duit bukan pakai daun. Dan itu mahal. 

Tapi bukan berarti gue terlalu matre ya, gue biasanya selalu tanya kemampuan klien/pengundang. Dan ketika gue bertanya "Ada budget berapa?" itu bukan karena gue matre. Tapi supaya ada kejelasan akad di awal.

Karena gue pernah dapat cerita dari penulis senior. Ketika beliau di undang mengisi workshop. Kemudian di iyakan, dan sampai pada hari H beliau datang. Setelah pulang ternyata beliau mengharapkan adanya "amplop". Namun rupanya pengundang hanya memberikan kado yang isinya satu set gelas yang bahkan harganya tidak sampai 50k. Sedangkan beliau datang dengan ngojek, dan tidak punya uang lagi untuk pulang.
Di temani si Edu di panggung :)

Atau ada cerita juga salah seorang teman pendongeng, tidak menanyakan adanya fee yang jelas. Kemudian beliau dari bogor dongeng pagi-pagi di Jakarta. Berharap dapat fee pantas. Agar tidak terlambat beliau naik taxi. Setelah tugas selesai, ternyata beliau hanya dapat ucapan terima kasih.

Biasanya dengan nanya budget di awal, setidaknya bisa sama-sama enak. Dan kalau yang ngundang minim budget biasanya gue bisa menimbang. Dengan lokasi operasional tertutup atau gak, ada jadwal lain atau gak, atau yang paling penting cash flow gue lagi sehat atau gak hehehe.

Nah sebetulnya sejak menikah bisa di bilang gue akhirnya terpaksa "gantung mic". Bukan karena di kekang sama suami, atau karena pada akhirnya punya anak dan kemudian skala prioritas berubah ya (tapi itu juga jadi point). Tapi lebih karena gue di boyong ke Banjarmasin sejak menikah. Dan tidak seperti di Jakarta yang mana lo kreatif dikit ajah bisa jadi duit. Di Banjarmasin pendongeng belum ada pasarnya. Dan belum banyak di anggap sebagai profesi. 
Bukti kalau GazaRo dan Bundaro sudah sampai di Bengkalis Riau hihihi

Dan karena masih adaptasi, untuk survive membuka pasar disana gue belum sanggup. Apalagi punya suami yang terlalu "LURUS". Maksudnya beliau orang yang pertimbangannya banyak. Kalau gue orang seni, tipe yang bebeas dan cenderung "liar" kwkwkw. Tapi gue emang ngerasa sendiri disana, di Jakarta gue punya temen yang bisa di ajak gila bareng.

Sekarang, gue kembali lagi ke ibukota. Salah satu alasan suami nerima tawaran pindah ke ibukota adalah karena kasihan sama isterinya yang kehidupan dinamisnya berubah jadi kehidupan yang grafiknya datar kwkwkwkw. Love u full my sweet heart muach...

Begitu kehidupan pasca pindahan sudah mulai stabil, alhamdulillah job mulai berdatangan kwkwkw. Salah satunya memberikan gue kesempatan meraih mimpi bisa keliling Indonesia lewat dongeng. Dan perjalanan luar kota pertama pasca "Cuti" adalah Propinsi Riau, tepatnya di Benkalis.

Emang dasar pelajaran IPS gue dulu buruk, gue gak paham seberapa jauhnya tempat itu. Dan bahkan gue gak tau kalau saking jauhnya dari depok, tapi bahkan sebegitu dekatnya dengan negara tetangga. Tinggal nyebrang bo! kwkwkw

Tapi gue gak bawa pasport dan GazaRo belum bikin pasport. What? GazaRo? Emang doi ikut? hihihi...
Mengisi Workshop "Dongeng Itu Mudah"

Nah inilah poin yang bikin gue bahagia banget. Bisa di bilang ini moment paling bahagia buat gue selama tahun 2018 ini (Januari-September). Nge-Job sambil bawa anak itu kayak tabu banget. Yah emang gak bohong kok, kalau anak-anak kalau mulai gak nyaman pasti rewel. Dan akan "ganggu" banget.

Makanya saat tawaran Dongeng ke Riau ini datang, yang pertama gue jadikan syarat adalah "Gue Boleh Bawa Anak". Dengan konsekuensi tiket gue beliin sendiri dan memastikan tim disana siap mengawasi bayi ini selama gue di panggung. Sisanya bayi ini akan kembali ke pelukan emak hehehe. Dan ternyata mereka gak keberatan. Masyaallah...

Tapi belum selesai sampai situ urusannya. Karena poin terpeting dari urusan ini belum di tangan. Yaitu "Izin dari Suami". Gue harus memastikan doi ridho, dan gue harus jujur sejujur-jujurnya agar gak ada 'ganjalan'. Karena dulu waktu hamil Gazaro, dan gue lagi ke Jakarta karena harus menenangkan diri pasca meninggalnya Umaro (baca juga : Berdamai Dengan Luka) gue dapat tawaran dongeng ke cianjur.

Sempet dilarang karena lagi hamil, tapi akhirnya gue akal-akalin biar dapat izin. Dan tadaaaaa... disana gue dapat tim yang asli gak enak banget. Dan parahnya, hotel gue kebanjiran kwkwkw. Ini kalau jadi sinetron mungkin judulnya "Azab seorang pendongeng karena berdusta pada suaminya" kwkwkwkw

Jadi biar berkah, sok ajah gue jujur-sejujur-jujurnya dan pasrah. Terserah deh boleh berangkat ya udah, gak ya udah. Ridho suami itu penting! Alhamdulillah ternyata di kasih izin. Alhamdulillah...Tapi biar yakin, gue sampai berkali-kali nanya sama suami. "Abang beneran ridho kan ya? Karena bundaro gak mau kenapa-kenapa disana karena abang gak ridho" kwkwkwkw. Ini antara nanya sama maksa kwkwkw.
Selalu senang melihat antusias anak-anak yang mendengarkan dongeng

Dan tau gak, itu dadakan loh itungannya. Hari ini di tanya, lusa berangkat kwkwkw. So persiapannya singkat banget, harus packing untuk perjalanan 6 hari. Apalagi bawa bayi harus bener-bener prepare. 

Gue bener-bener excited banget! Setelah bertahun-tahun, akhirnya gue merasakan lagi mata-mata yang fokus menyimak cerita yang gue sampaik, terpingkal karena karakter lucu yang gue bawakan, dan ekspresi terkejut saat mendengar beberapa karakter suara yang gue suarakan.

Rasanya seperti menemukan diri gue sendiri yang telah lama hilang. 

Jadi lo gak bahagia pit setelah menikah? Lah kenapa jadi menyimpulkan yang kagak-kagak geees hahaha. Menikah memang mungkin tidak akan membuat kita menjadi kita yang dulu. Mungkin karena perbedaan status dan prioritas hidup loe bisa jadi gak bisa menemukan kebahagiaan yang dulu. Tapi dengan menikah, akan ada banyak kebahagiaan baru yang datang. Itu pun tergantung orang-orang didalamnya mengusahakan.

Alhamdulillah beberapa foto berhasil gue dokumentasikan lewat kamera ponsel. Berhubung gue belum ada kamera pro, dan perjalanan ini ajah udah bawa banyak printilan. Menggunakan kamera ponsel sudah dangat bijak hahaha. Gue ajah sampai ngopy materi untuk workshop dongeng di flashdisk karena males di bandara laptop harus keluar saat masuk mesin x-tray, ribet.
Nyebrang naik Roro

Keinginan membeli kamera pro juga belum di acc sama suami. Padahal udah nabung dari hasil ngeblog. Kata suami, maksimalkan dulu kamera ponsel. Bahkan budget beli handphone yang biasanya maksimal 1,5jt ajah kalau ada ponsel dengan kamera bagus meski di atas 2jt langsung di acc daripada isterinya rewel bolak balik ngerayu beli kamera kwkwkw. 

So kalau di tanya seperti apa smartphone impian di tahun 2018 ini, mungkin gue akan jawab, "Yang punya fitur lengkap kayak TOSERBA" hahaha. Diantaranya yang kayak gini:


Desain yang keren

Hm... ini penting sih ya. Klo kitanya udah stylish, trus ditunjang sama smartphone yang juga keren kan bisa jadi kolaborasi yang yahuuud hehehe. 

 Memiliki kamera yang diperkuat AI

Apakah AI itu? AI adalah Artificial Inteligence alias kecerdasan buatan. Selain 4G sejak tahun 2017 fitur AI mulai jadi daya tarik smarthphone jaman now. Kegunaan dari AI ini antara lain: membuat kamera ponsel mendeteksi obyek menjadi lebih baik, penerjemahan real time tanpa internet, membantu tugas harian karena bisa membaca pola pemakainya, pemindai wajah, dan voice assistant.


Storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini

INI PENTING BANGET! Bolak balik gue selalu gak bisa update aplikasi karena storage penuh. Isinya gak lain adalah foto-foto yang bejibun. Mau hapus tapi sayang. Belum sempat mindahin ke laptop juga. Aaaaargh galau kan. Ini kalau bisa sampai 128 GB, luaaaaar biasa!


Diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming

Ssst... satu hal yang mungkin gak banyak orang tau. Hanya suami dan sahabat dekat doang yang tahu kalau gue ini sebetulnya suka main game hahaha. Dari sekian game yang sampai saat ini bertahan dan masih gue mainin adalah hayday. Sayangnya smartphone gue saat ini udah full memori, jadi terpaksa pindah ke tab dan itu lemot banget. Mungkin memang tab nya gak suport buat main game kali ya. So gue pengen punya satu gedget ajah yang sudah all in one. Karena ribet dan berat juga kalau pergi-pergi harus bawa 2 gedget apaagi satuny tab.

Dan gue dapat bocoran, 4 fitur keren itu sudah ada dalam satu smartphone. Yaitu Huawei Nova 3i. Bohong kalau gue gak mupeng! Makanya sekalian curhat sekalian ajah deh Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo. Barangkali ajah gue bisa dapetin Huawei Nova 3i dan berkesempatan mengabadikan kebahagiaan-kebahagiaan gue yang lainnya 

8 comments:

  1. keren nih bundaro. begitu manggung langsung ke sumatraaa

    ReplyDelete
  2. Semangaaat Pitaaa.... Endonesia masih kekurangan pedongeng.

    ReplyDelete
  3. Cie.. selamat ya bundaro sudah open mic lagi dan yang terpenting sudah menemukan jiwanya yang hilang... hehe

    ReplyDelete
  4. Selamat datang pita kembali. Pasti banyak yang rindu loh. Kapan ke Bengkulu..sini ngedongeng

    ReplyDelete
  5. Sekarang udah kembali mendongeng... welcome back 😀😀

    ReplyDelete
  6. Kerennya Mbak Pita. Bisa menghidupi passion dan tetap bisa seimbang dg kehidupan pribadi. Aku padamu, Mbak!

    ReplyDelete
  7. MasyaAllah, mbak.. Suka dengan profesi mbak..

    ReplyDelete
  8. setuju Mbak, menikah memang mungkin "menghilangkan" kita yang dulu, tapi bukan berarti tidak bahagia yaa..

    betewe, selamat sudah kembali mendongeng, Mbak.. :)

    ReplyDelete