Follow Us @curhatdecom

Saturday, July 21, 2018

Qurban untuk Pedalaman dari Insan Bumi Mandiri

8:39:00 PM 0 Comments

Riweuh menjelang pindahan dari Banjarmasin ke Jakarta yang ala Tahu Bulat alias dadakan ternyata masih berasa sampai detik ini. Tapi di antara keriweuhan tersebut gue bahagia karena sebentar lagi menjelang idul adha, dan artinya gue akan berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta.

Kalau kalian moment apa yang dilakukan saat lebaran haji Gaes? Kalau gue sih dulu-dulu sebelum nikah itu simple banget. Nunggu para lelaki (babeh-Kakak Ipar-Kang Roti) pulang sambil bawa daging. Trus emak akan masak itu daging utuh-utuh buat SOP. Dan di makan tanpa nasi, rame-rame alias kroyokan. Dan itu asyik banget Gaes.

Setelah nikah, yah... kurang lebih sama lah ya. Bedanya gue gak pake kroyokan makannya. Daging kurban yang disembelih di kantor suami hasil patungan biasanya di bawa pulang dan sebagian gue masak, sisanya di bagi-bagi dalam kantong sesuai porsi, tinggal masak saat butuh.

Oh iya tahun lalu, bokap mertua sempat ngajak ke empat anaknya (yang jelas salah satunya suami gue yak hehehe) buat patungan beli sapi. S-A-P-I ya, bukan SEPI (yang doyan nonton upin ipin nemenin anaknya pasti paham kwkwkw). Dan sapi tersebut gak di sembelih di Jogja tempat bokap mertua tinggal, melainkan di Ponorogo. Why? Kok jauh banget?

Ternyata laporan dari kakak ipar suami gue, di kampungnya di ponorogo tersebut hampir tidak pernah merasakan menyembelih sapi. Selama ini hanya ada kambing dan itupun jumlahnya tidak banyak. Padahal kalau gue di Banjarmasin atau di Jakarta, pembagian hewan qurban itu bisa dibilang melimpah loh. So, emang ternyata di Indonesia sendiri kemampuan ber-Qurban belum rata.

Nah ternyata ada yang lebih miris loh, kalau di Pulau jawa yang lumayan “rame” dengan fasilitas sehingga kehidupannya lebih maju masih ada yang gak kebagian Qurban. Apa kabarnya di Pedalaman?

Dan Ternyata benar, hasil pemaparan pada konferensi pers yang di gelar oleh Insan Bumi Mandiri (IBM) ternyata memang untuk wilayah plosok negeri, qurban bisa dibilang langka. Untuk itu IBM bergerak memberikan bukan hanya qurban, bahkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.  Sejak tahun 2016 IBM telah memberikan layanan program bagi 12.500 warga pedalaman. Wilayah pelaksanaan program tersebar di 10 provinsi, 22 Kabupaten/kota, 53 Kecamatan, 103 Desa yang melingkupi Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Sumatera.

Untuk qurban sendiri, ada yang unik nih dari programnya IBM. Kalau gue udah familiar dengan program sembelih disini, di jadikan makanan kaleng, baru kemudian di distribusikan. Nah Kalau IBM ini untuk pelaksanaannya memanfaatkan kearifan lokal. Seperti misalnya di Nusa Tenggara sana. IBM mendistribusikan bantuan masyarakat dengan membeli kambing warga, kemudian di kelola sehingga siap untuk di “panen” pada saat hari raya. Penyembelihan mereka lakukan sendiri juga, sehingga terjadinya gotong royong yang menarik.

Kesulitan akses antar pulau yang memang jadi ciri khas Indonesia, membuat relawan kadang harus extra keras mengantarkan hewan-hewan qurban dengan kapal, bahkan hewannya ikut di ajak berenang. Meski susah payah, salutnya mereka tetep Istiqomah dan mari kita doakan terus demikian.

Sesungguhnya mendengar kisah inspiratif dari relawan itu seperti membuat gue rindu. Sebab udah lama gue gak berkecimpung dengan kegiatan sosial lagi. Oh iya kalau pada penasaran dengan program-programnya IBM, bisa langsung kunjungi Websitenya ajah ya di www.insanbumimandiri.org