Follow Us @curhatdecom

Follow by Email

Sunday, December 24, 2017

Seminar Indonesia Poverty Outlook: Pembangunan Infrastruktur Untuk Si Miskin


GazaRo Selalu Membersamai BundaRo hehehe

Entah kenapa kehadiran Gue di Jakarta kali ini sangat berfaedah hehehe. Biasanya pulang kampung kota jadi ajang gue bernostalgia dengan teman, atau dengan kuliner yang dirindu (kan makanan lagi kan hahaha). Tapi selain memenuhi undangan dari staf kepresidenan di Kantor Sekretariat Negara, gue juga mencoba mengikuti beberapa undangan event sebagai Blogger. Kapan lagi coba ya, di Banjarmasin event yang melibatkan blogger masih sedeikit cyiiiin...

Baca Juga : Dari Banjarmasin Ke Jakarta Cuma Untuk Gosipin Presiden



Nah selain "perjalanan dinas" beberapa event yang gue ikuti adalah Seminar Indonesia Poverty Outlook: Pembangunan Infrastruktur Untuk Si Miskin. Ehm... untuk gue sebetulnya seminar ini cukup berat tapi bermanfaat. Yups setelah meninggalkan bangku kuliah seminar-seminar macam ini hampir gak pernah masuk wish list Bundaro. Maklum udah emak-emak, concern gue lebih ke seminar parenting, ASI dan segala hal tentang anak-anak. Tapi seminar kali ini menarik untuk di ikuti, jadi kita bisa membuka wawasan tentang "dapur orang" bukan hanya sibuk memperhatikan "dapur sendiri".


Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional, Kamis 21 Desember 2017 Dompet Dhuafa menyelenggarakan Seminar ini dengan beberapa narasumber, diantaranya:
  1. Dr. Ir. Rachmat Mardianan, Mars, Direktur Energi Telekomunikasi dan Informatika Kementrian PPN/Bappenas
  2. Prof. Ahmad Erina Yustika, Direktur Jendral Pembangunan Kawasan Pedesaan Kementrian Desa
  3. Marsudi Nur Wahid, Pimpinan Redaksi Jawa Pos
  4. Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS
  5. Eki Sinaryanto, Perwakilan Redaktur Pelaksana Republika
Gue rasa pertemuan gue dengan staf kepresidenan seperti ada benang merahnya dengan seminar yang gue ikuti kali ini. Di pemerintahan Presiden Jokowi saat ini pembangunan Infrastruktur seperti menjadi prioritas. Ternyata ini semua ada tujuannya. Seperti yang disampaikan oleh para narasumber, bahwa pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan oleh masyarakat miskin di Indonesia terutama untuk membuka akses.
 
Para Blogger Berfoto Bersama dengan Para Narasumber

Dengan infrastruktur yang baik, maka masyarakat pedalaman dapat dengan mudah mendistribusikan logistik dan hasil olahan mereka, sehingga masyarakat pedalaman dapat lebih berdaya.

Dampak ekonomi tahap konstruksi pembangunan infrastruktur :
  • Tahun 2017 investasi Rp 126,8 trilliun, nilai tambah yang dihasilkan Rp 146,9 trilliun dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 1,06%.
  • Tahun 2018 investasi Rp 157,8 trilliun, nilai tambah yang dihasilkan Rp 186,4 trilliun dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 1,28 %.
Dampak ekonomi tahap operasional pembangunan infrastruktur :
  • Tahun 2017 investasi 49,3 trilliun, nilai tambah yang dihasilkan Rp 52,2 trilliun dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,38 %.
  • Tahun 2018 investasi Rp 92,3 trilliun, nilai tambahn yang dihasilkan Rp 94,8 trilliun dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,65 %.
Pernah gue mendengar di televisi tentang motivasi seseorang menjadi "relawan". Jawaban dia adalah karena selain memberikan sumbangsih langsung, dia merasa pemerintah perlu dibantu. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan Dompet Dhuafa.
Dapat Oleh-Oleh Produk UKM binaan Dompet Dhuafa. Voucernya belum kepakai buat belanja di Minirmarket DD yang banyak menjual produk UKM. Masih ada sekotak Buah Naga, tapi tinggal kotaknya isinya lupa kefoto hehehe

Secara pribadi gue pernah bergabung dengan Dompet Dhuafa sebagai Fundrising. Sumber pendanaan Dompet Dhuafa memang kebanyakan diserap dari Zakat, Infak dan Sedekah Umat Islam. Lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa bukan sekedar menyemarakan pembangunan di Indonesia, tapi bentuk rill dari aksi nyata untuk Indonesia. Dompet Dhuafa sebagai organisasi nirlaba memberikan alternatif pemanfaatan ZIS lewat program produktif dan Inovatif.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, Bapak Drg. Imam Rulyawan. Dompet Dhuafa memiliki banyak program terintegrasi di wilayah pedesaan yang dinamakan dengan klaster mandiri. Memberdayakan masyarakat dari program kesehatan, pendidikan, agama, dan ekonomi.

Semoga semakin banyak masyarakat kreatif ikut sumbangsih dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

No comments:

Post a Comment