Follow Us @curhatdecom

Thursday, November 24, 2016

Wow Sekarang kamu Modis. Kemana Hijab Lebarmu?

7:49:00 PM 20 Comments
Disclaimer: Tulisan ini gak ada maksud untuk menyudutkan pihak manapun. Ini murni kisah gue pribadi tentang pasang surutnya Iman gue. Juga tentang kisah pencarian jati diri dari seorang "Gue".




Beberapa waktu lalu suami gue "ngomongin" temannya. Dia merasa "bingung" kenapa temannya itu dulu berhijab rapat sekarang tampil modis bahkan 'seksi' dengan hijabnya. Bahkan pandangannya terhadap Islam yang dulunya militan sekarang jadi semacam 'seadanya' (duh maaf banyak tanda petik, gue bingung ngungkapin dengan kata-kata yang tepat).

Well gak ada maksud menggurui, apalagi gibah tentang doi. Karena pembicaraan itu cukup sampai disitu. Tapi gak dengan gue, karena akhirnya gue berasa flash back kek di pelem-pelem gitu. Gue jadi teringat masa-masa pertama kali akhirnya memutuskan berhijab.

Yes, gue TAU perintah Allah kepada muslimah untuk berhijab sejak SD kelas 6. Waktu itu kakak perempuan gue yang nomor dua sudah lebih dulu berhijab saat masih SMA dan mulai aktif di kegiatan Rohis. Dan kayaknya sih orang pertama yang jadi ladang dakwah doi itu ya adik perempuan satu-satunya ini. Gue yang emang selalu exited dengan hal-hal baru merasa gue juga harus bergerak biar kekinian. Apalagi gue udeh baligh saat duduk di bangku kelas 5. Maka keputusan pakai hijab akan gue mulai saat SMP. Terlaksana? Gak sih, soalnya ternyata waktu daftar sekolah emak sama babeh keburu pesan lengan pendek semua. Ya udah deh di undur lagi ajah keinginan berhijab. Lah bisa gitu? Ya namanya juga ABG dengan pemahaman yang masih sepermukaan air itu.

Gue lulus SMP dengan membawa catatan hitam yang lumayan bikin malu keluarga karena salah pergaulan. Sampai akhirnya gue di kasih pilihan mau masuk Pesantren atau masuk SMK. Jaman itu sih ya, boro-boro solat ngaji ajah gak pernah. Belum lagi ada anak pindahan dari pesantren yang bawa cerita horor. Yang katanya kalau di pesantren setiap hari ada uji nyali. Setiap hari di kasih lihat penampakan hantu. Trus klo lagi berantem gak kayak ABG di sinetron yang maen dorong-dorongan. Tapi kalau berantem mereka kirim-kiriman bola api. Malah gue di kasih tahu bacaan dari Al Qur'an yang bisa bikin kita punya jin peliharaan. What?! Gimana gak horor tuh? Tapi setelah paham konsep pesantren beberapa tahun kemudian gue yakin doi cuma lebay biar di cap keren sama temen-temen barunya atau emang pesantrennya abal-abal makanya doi di pindah ke sekolah umum.

Akhirnya gue putuskan masuk SMK deh. Nah kisah hijrah gue akhirnya dimulai di masa putih abu-abu ini. Eciiieeee...

Gue pakai hijab tepatnya kelas 1 semester 2 (kalau gak salah). Waktu itu ceritanya gue naksir kakak kelas gue (tapi dianya enggak! Ngenes!). Nah kalau anak SMK gitu kan ada masa-masa PKL (Praktek Kerja Lapangan). Doi gak tanggung-tanggung di kirim PKL nya ke Malaysia bo! Dan gue untuk menunjukkan ke doi bahwa gue setia, gue putuskan pakai hijab (dulu nyebutnya masih jilbab). Why? Soalnya kalau pakai hijab gak boleh pacaran. Ada temen gue anak rohis sampai di sidang sama senior gara-gara pacaran. Dengan pakai hijab gue gak mau di pacarin. Gue cuma nunggu doi ajah sampai balik.
Jangan Tanya Kenapa Gue Foto di Toilet (gue juga gak tau kenapa)

Tapi konyol sih alasan gue. Lah trus kalau doi pulang doi boleh gitu macarin gue? Atau gue harus lepas hijab gitu agar doi bisa macarin gue? Yang lebih penting, emang siapa yang mau macarin gue? Kepedean abis! kwkwkw

Lanjut dulu ah...

Akhirnya gue putuskan berhijab. Pakai hijab lungsuran kakak gue. Awalnya hijabnya pendek ajah. Dan bisa di bilang ajaib kali yak. Soalnya gue emang dasar kepedean atau pegimane gitu, gue saking cintanya sama dasi sekolah yang mana pada waktu itu banyak di remeh temeh sama temen-temen gue tetep gue pake meski pakai jilbab. Padahal ada beberapa teman yang sengaja pakai seragam muslim biar gak usah pakai dasi. Cuma gue deh yang pada saat itu pakai hijab di masukin ke dalam kemeja sekolah, kemeja sekolah masuk kedalam rok, tetep pakai iket pinggang yang lebar, trus tetep pake dasi. Kata temen-temen gue "AJAIB" kwkwkw.
Setiap wanita ingin terlihat cantik

Trus seiring berjalannya waktu (tsaaaaah) gue lihat kok temen-temen rohis terlihat cantik dan anggun dengan hijab panjangnya. Kakak perempuan gue juga memulai dengan hijab panjangnya. Trus gue mikir juga, kalau gue berhijab panjang jika suatu saat gue "tersesat" setidaknya gue gak boleh sampai lepas hijab. Kalau hijab gue pendek jangan-jangan suatu saat gue punya pikiran "lepas ajah deh, masih pendek ini". Setidaknya kalau panjang dan gue suatu saat tersesat mungkin yang terjadi gue hanya akan memendekkannya saja.

Gue berasa jadi tukang ramal karena ternyata prediksi gue tepat.

Waktu SMA sih gue emang berasa kontroversi hati gitu. Hijab lebar gue membawa gue ke teman-teman Rohis. Tapi kecintaan gue terhadap musik dan kesenian belum bisa gue lepas. Gue masih aktif nyinden di ekskul Lenong Gambang Kromong sekolah. Tampil dari panggung ke panggung. Dan tatapan aneh terus gue rasakan karena kok ada sinden yang berhijab lebar? Suara itu aurat jeng...

Jangankan nyanyi, suara gue yang udeh kayak Toa ajah sering jadi bahan omongan. Gak cuma nyanyi loh, pengalaman yang gak kalah spektakuler buat gue adalah jadi pemimpin upacara hampir di tiap upacara sekolah. SMK gue minim cowo, dan kebanyakan anak cowo itu kan paling males disuruh jadi petugas. Meski gue udeh ngumpet di barisan kakak kelas atau adik kelas entah kenapa senior Paskibra sekolah selalu tahu posisi gue. Kayak punya radar gitu.

Punya suara toa dengan basic baris berbaris yang bisa di bilang bagus karena aktif di OSIS dari jaman SMP mau gak mau deh. Dan serius aneh tau di tengah lapangan teriak-teriak dengan jilbab yang ikutan berkibar kek bendera yang siap di kerek (hijab gue waktu itu sampe betis).

Dan sejak masuk Rohis niat gue berhijab mulai di luruskan lagi (dan gue berasa jadi PR besar buat senior Rohis yang suka geleng-geleng kepala liat kelakuan gue hihi). Bukan karena cowok tapi karena Allah. Karena berhijab memang kewajiban muslimah, sama wajibnya dengan Solat. Bukan karena panggilan hati. Gak percaya? Yuk buka lagi Al-Qur'an...Tapi gue sadar 100% kalau gue ngerasa kuraaaaaaang banget ilmu agama. Dan keputusan gue gak masuk pesantren menyisakan penyesalan yang 50:50, alias nyesel gak nyesel. Kalau jadi masuk pesantren mungkin gue berhijab tapi hijab yang di paksakan. Entah Allah kasih hidayah yang sama atau gak. Dan karena merasa kurang itu gue putuskan ke KUA (Kuliah Urusan Agama) alias pilih kampus yang Islami gitu.
eh ternyata masih ke save foto inagurasi nya hihi (jangan tanya kenapa gue kurus plis)

Dikampus ini gue kira akan menemukan secercah harapan. Gue akan bertemu orang-orang salih yang bisa membawa gue ke jalan yang lebih baik (ngarep juga dapet suami ustadz kwkwkw). Tapi ternyata di kampus ini gue justru menjadi BSH (Barisan Sakit Hati).

Dimulai dari inagurasi memasuki Organisasi kampus yang sejalan dengan Rohis Sekolah. Gue yang emang hapalan pas-pasan "dipaksa" mengikuti games. Jadi Gamesnya gue berjalan ala permainan ular naga gitu dengan mata di tutup slayer. Ehm... dan gue agak curang. Karena slayer gue gak tebel-tebel amat sih. Nah di games itu ceritanya ada games hapalan berantai. Setiap orang membacakan satu ayat, dan setiap berhenti di gue ayat itu berhenti.

Tau gak apa yang di lakukan para senior akhwat itu? Mereka sok-sokan marah "Ya Ampun dek gitu ajah gak bisa" ala-ala osis sekolah. Bagi gue sih lagu lama yak, gue jaman SMK malah bisa lebih galak dari mereka. Cuma yang gue gak habis pikir mereka tuh ketawa-ketawa gitu. Iya oke Gue B**o (sori gak biasa ngomong kasar, kalaupun pernah sebisa mungkin cuma dalam hati ajah). Tapi ini yang kalian sebut Ukhuwah? Gile pedih amat rasanya.

Belum lagi punya temen asrama satu lorong, satu fakultas, satu angkatan cuma beda jurusan yang sama-sama di organisasi itu. Bo, kalau ketemu di lorong ketusnya minta ampun. Gue gak pernah di sapa, tapi kalau di kampus lagi bareng temen-temen Jilbabernya baru deh gue di sapa "Eh Pita apa kabar?" di lanjut cipika cipiki. Waktu itu dalam hati gue teriak "Amiiiiit..." eh sekarang mah dah slow ajah sih. Gue anggep orang-orang yang gak tulus gitu cuma opnum. Jangan salahkan jilbabnya. Dengan atau tanpa akhlak tercela bukan salah jilbabnya. Tapi memang salah pribadinya yang memang "kurang tulus" gitu ajah hihihi.
Mulai manjangin jilbab lagi
Salah satu alasan memilih masuk organisasi itu pun karena ternyata di kampus bertebaran banyak aliran dan organisasi politik yang bagi gue "jahat" (gue kurang suka politik). Jadi bagi gue lebih aman pilih organisasi yang kurang lebih sama dengan Rohis sekolah. Walah akhirnya karena kecewa dengan ikhwah gue memutuskan mundur dan mencari kegiatan baru sesuai passion gue. Dan gue bergabung dengan Paduan Suara (asli kontroversi banget yak hihi).

Nah kampus gue pada waktu itu gak sama masanya dengan kakak gue yang dulunya juga kuliah disitu. Dulu mah pakaiannya ala-ala santri semua. Pas jaman gue beugh udeh kayak Festival Fashion Week deh tiap hari. Apalagi trend berhijab mulai macem-macem. 

Karena memutuskan masuk paduan suara, gue pun tergoda untuk pakai hijab yang di hias-hias. Tapi prinsip gue satu "Tetap menutup Dada" (nah kan prediksi gue bener). Selain biar gak aneh ada jilbaber kok paduan suara, gue juga pengen kelihatan modis. Wajarlah gue kan cewek hehehe.


Dulu suka di protes kalau gak mau "lilit" hijab karena kelihatan dada. Makanya gue pengen jadi Conductor karena kostumnya bisa beda sendiri dan menyesuaikan (dan gak perlu nyanyi) 

Tapi cerita terus berjalan, perjalanan di paduan suara pun ternyata menyisakan sesak patah hati, kehilangan sahabat karena cinta, juga karena merasa gak di anggap karena gue kalah cantik kwkwkw. Impian jadi conductor berasa kaTryak di rampas gitu ajah. Gue pun keluar dan memilih asyik di radio kampus.

Dari situlah gue mulai banyak merenungi perjalanan hijrah gue yang luar biasa jatuh bangun, sendiri. Eh gak sendiri juga sih, ada satu orang sahabat yang udeh jadi tempat curhat gue dari A-Z. Dan sampe detik ini meski terpisah pulau gue kita tetap berhubungan. Sampe sering gue culik buat nemenin gue curhat sampe nonton atau malam mingguan ala-ala jomblowati kwkwkw.

Salah satu goal pemikiran gue itu adalah dengan model hijab yang aneh-aneh. Kadang sampe di lilit-lilit dan pentul selusin juga gak cukup. Malah saking anehnya ada Jipon. Jilbab tapi tetep poinia, laaaah yang di tutupin apanya.

Gue ngerasa kayak di tampar gitu. Susah-susah gue dapat hidayah agar berberhijab secara syar'i. Tapi kenapa akhirnya gue berpaling cuma karena mau terlihat cantik. Apalagi gue galau juga bolak balik patah hati (eh gak sering sih soalnya gue setia alias susah move on) dan jomblowati abadi. Lah trus kapan gue punya pacar dan nikah. Eh tapi kan nikah gak mesti dari pacaran.

Apakah akhirnya gue bisa mempertahankan hijab lebar gue? Gak juga sih hehehe. Karena ternyata gue kembali tergoda untuk tampil modis alias dengan gaya hijab kekinian. Sampai akhirnya gue bertemu jodoh gue.

Setelah menikah pelan-pelan gue kembali merapihkan penampilan. Suami memang bukan dari barisan pergerakan yang menuntut istrinya rapi dengan hijab syar'i. Malah pertama kali ketemu suami gue yang sempet galau pakai baju apa (biasalah mau pencitraan) akhirnya memilih to be my self ajah.
Percaya atau gak ini foto yang gue lampirkan di proposal ta'aruf kwkwkwx

Tapi entah kenapa sekarang memang lebih memilih tampil "rapi" dan gue nyaman, terutama suami ridho. Kadang gue suka tanya suami "Kalau aku pakai baju ini boleh gak" atau "Bagus gak" suka di jawab terserah. Tapi sering juga dia memberi pandangan mana yang lebih baik. Suami cuma minta hijab yang rapi tertutup dan tidak membentuk tubuh. Simple!

Sementara ilmu kami belum sampai ke pemahaman tentang cadar. Bukan tidak mungkin suatu saat gue di suruh cadaran sama suami. Ya gak papa juga sih, asalkan gue udah siap. Karena sifatnya yang tidak wajib jadi masih banyak pertimbangan. Lain halnya kalau wajib, gak usah nimbang-nimbang langsung laksanakan GRAK!

Yak, itulah sekelumit kisah tentang perjalanan hijrah gue. Apapun bentuk hijab kita saat ini itu keputusan kita. Hidup ini hanya soal pilihan kok. Makanya Allah siapkan surga dan neraka. Selama di dunia kita berproses untuk menentukan kemana kita mempertanggungjawabkan pilihan itu semua...

Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan ….(QS. An-Nur : 31)

Tuesday, November 22, 2016

Tips Mengatur Biaya Pengeluaran Popok Bayi

4:26:00 PM 12 Comments

Pagi ini sampah kembali menumpuk. Di antara plastik-plastik tersebut berisi Pospak (Popok Sekali Pakai) sisa Umaro. Pernah iseng menghitung-hitung pengeluaran umaro khusus untuk penggunaan Pospak ini. Kalau di turutin ideal (5 jam sekali ganti) sehari bisa 4-5 kali ganti. Kebutuhan sebulan berarti 150pcs pospak. Yang kalau di Banjarmasin Pospak paling murah satuannya Rp 1600 berarti pengeluaran khusus untuk pospak sebulan adalah Rp 240.000,- dan per tahun Rp 2-3 juta.

Tapi bukan sekedar angka-angka sih yang gue pikirin. Mikir juga itu sampah isi pospak kasihan juga sih sama tukang sampah yang mendapati sampah berupa “kotoran”. Trus belum lagi suami juga pernah share tentang penguraian sampah Pospak yang membutuhkan waktu lama banget.

Tapi pasti hal mendasar di kepala emak-emak dalam menentukan popok anak adalah “HEMAT” hehehe. Tapi jelas kalau yang hemat ternyata tidak nyaman buat anak pasti emak-emak juga akan berpikir ulang kan.

Alhamdulillah Umaro gak mesti merk tertentu Pospaknya :D

Sejak umaro lahir, di rumah sakit kami menggunakan Pospak yang disediakan RS dengan jumlah terbatas. Karena mikir juga sih kalau bawa popok kain for newborn gimana cara cucinya? Dan karena Umaro harus rawat inap lebih lama serta memang newborn sering Pup jadinya harus beli pospak sendiri. Setelah keluar rumah sakit baru deh di rumah pakai popok kain, dan baru pakai pospak kalau keluar. “Loh emang Umaro waktu newborn udeh kemana?” hihihi Umaro udah banyak jalan-jalan dari newborn sampai sekarang.

Sebelum Umaro lahir sebetulnya gue udah nyetok Clodi (Cloth Diapers). Secara harfiah artinya popok kain juga sih. Tapi bentuknya gak seperti popok kain yang untuk newborn itu loh. Yang ini tebel, ada insertnya tapi waterproof. Bundaro Umaro dulu aktifis lingkungan hidup, jadi suka kebawa dengan semangat Go Green hehehe. Pengennya sih kayak orangtua jaman dulu gitu loh, pakai celana biasa. Tapi Hayati lelah Bang kalau di suruh bolak balik nyuci popok, seprei atau ngepel karena si Baby pipis dimana-mana hihihi.

Clodi yang ada kancingnya ini bisa di sesuaikan dengan size bayi :D

Kekurangan Clodi ini kalau kelamaan bau pesing ciiin. Trus kalau kepenuhan berat dan emang pada akhirnya rembes meski waterproof. Sedangkan kalau malam kami bertiga (Ayahro, Umaro, dan Bundaro) tidur udeh kayak kebo kwkwkw. Trus kalau bepergian gak praktis ajah sih bawa-bawa clodi “kotor” hehehe. So akhirnya di mix deh. Dan agar pengeluaran gak bengkak ini tips ala-ala Bundaro:

Beli Dalam Jumlah Banyak
Nah kalau beli Pospak sebaiknya jangan beli yang isinya sedikit-sedikit. Beli sekalian yang isinya banyak karena harganya jauh lebih murah. Tapi kalau mau coba khawatir gak cocok bisa beli kemasan paling kecil atau sachet dulu.

Beli Online
Nah ini kemaren gue terapkan pas mudik. Males bawa Pospak dari sini ke Jakarta, jadi mending gue pesan online memanfaatkan juga promo free ongkir hehehe. Eh tapi emang entah kenapa beli online di e-comers kok ya pada murah-murah ya. Tapi pastikan tanggal kadaluarsanya ya, dan cari penjual yang memang track record nya bagus.

Beli di Pasar Tradisional
Beli pospak gak mesti di pasar modern atau swalayan kok. “Tapi kan Pit di swalayan sering ada promo.” Di pasar pun juga sering ada promo, serius deh. Gue kemaren iseng sih nyoba pas ke pasar tradisional pas pospak Umaro habis. Tanya-tanya sepuas hati, malah minta di itungin harga per Pcsnya hehehe. Dan penjualnya kadang menawarkan produk yang lagi promo. Karena emang kalau promo biasanya dari supliernya bukan sekedar diskon Toko. Jadi kalau di swalayan lagi promo, di pasar tradisional juga ada kemungkinan promo. Atau bisa juga sih beli di Toko susu atau perlengkapan Bayi. Tapi kalau di Pasar kan bisa sekalian belanja kebutuhan dapur hehehe.

Enaknya Clodi bisa sekalian buat celana renang. Eh tapi Insertnya di lepas dulu yak :D

Mix dengan Clodi

Nah itu dia tips dari Gue mengatur pengeluaran popok. Karena di mix dengan Clodi, lumayan lah ya jadi butuh Pospaknya Cuma 1pcs/hari. Jadi sebulan sekitar 30-35 pcs. Pengeluaran gak bengkak-bengkak amat. Insya Allah Flat sampe Umaro punya adik karena Clodi nya bisa di wariskan hehehe.

Thursday, November 3, 2016

Suamiku Kutitipkan Nafkah Keluarga Padamu

9:51:00 AM 12 Comments

Sebelum gue mulai curhat, gue mau sampaikan dulu bahwa tulisan ini gak di maksudkan memojokkan isteri dari dari sudut pandang manapun. Mau jadi full wife (full Mother) atau disambi sebagai wanita karir itu pilihan masing-masing ya. Dalam pandangan gue, posisi paling ideal buat diri gue sendiri adalah menjalani peran full wife and full Mom.

Gue bukan belum pernah jadi wanita karir loh. Gue tahu kenikmatan memiliki penghasilan sendiri. Rasanya bebas mau diapain itu duit. Namun sejak ikut suami merantau, bagi gue kehidupan bener-bener kayak pertamax yang dimulai dari nol.
Dari sini langkah sebagai "Kita" dimulai...

Dulu di Jakarta karir sebagai pendongeng lumayan lah bisa buat menghidupi dan melayani gaya hidup ala ibu kota. Di tempat yang baru ini, semula gue kira akan tetap bisa beraktifitas sebagai pendongeng. Tapi rupanya minat dongeng disini tidak seantusias di Jakarta terutama untuk fee nya. Belum lagi sekarang ada si Umaro yang gue ngerasa gak rela melewatkan moment-moment tumbuh kembangnya.
Mana rela ngelewatin moment kayak gini...

Gue mau jadi orang yang bercerita tentang tiap perkembangannya, bukan orang yang mendengar cerita tersebut dari orang lain. Tapi asli loh, kangen rasanya punya penghasilan sendiri. Bisa jajan tanpa beban, bisa ngasih orangtua, bisa untuk tabungan pribadi (emang loe bisa nabung pit? hihihi)

Sampai akhirnya gue minta langsung sama Yang Maha Pemberi. "Ya Allah berikanlah kami rezeki yang halal dan berkah." Dalam doa tersebut memang gue gak menjabarkan secara deskripsi rezeki yang seperti apa. Gue cuma ngebayangin adanya tawaran-tawaran dongeng dari perusahaan lokal di sini hihi.

Selama beberapa waktu "harapan" versi gue tidak terwujud. Sampai akhirnya sebulan kemudian suami memberi kabar bahwa SK pengangkatan dari staf menjadi menejer yang di tunggu-tunggu selama tiga tahun akhirnya turun. Selama 3 tahun suami sudah menjalankan tugas sebagai menejer tapi tanpa SK. Sehingga tidak ada yang berubah selain tanggung jawab pekerjaannya.

Tentu saja dengan adanya SK ini, selain status golongan yang berubah ada juga perubahan pada gaji yang alhamdulillah lumayan.

Saat itu gue langsung ngerasa kayak di tampar loh. Kenapa? Sebab gue sempat "marah" kepada Allah. 'Kenapa doaku tidak dikabulkan?' 

Saat suami menyampaikan berita gembira itu gue langsung teringat isi ceramah yang isinya "Tidak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Jika memang doa itu tidak terwujud sebagaimana yang kita inginkan jawabannya hanya dua. Pertama belum waktunya, kedua bisa jadi karena menurut Allah jika terkabul harapan itu tidak membawa kebaikan bagi diri kita. Jadi teruslah ber husnudhan kepada Allah."
kapan dongeng lagi ya?

Jleb...jleb...jleb... padahal itu isi ceramah gue denger udah lama banget. Kenapa tiba-tiba bisa inget di moment yang tepat? Ya mungkin itu cara Allah mengingatkan hambanya yang khilaf ya.

Kejadian itupun membuat gue berpikir kembali. Mau kerja buat apa? Memenuhi kebutuhan atau keinginan? Kebutuhan dunia semata atau kebutuhan akhirat? Kerja biar bisa punya rumah biar gak ngontrak, apakah ada larangan dalam Islam untuk ngontrak? Yang ada larangan untuk menjauhi Riba (membeli rumah dengan cara kredit KPR. Astagfirullah semoga gue dan suami bisa segera melunasinya).

Kerja biar bisa punya mobil biar gak kehujanan di jalan, memangnya dalam Islam wajib punya mobil? Yang wajib itu kalau punya uang adalah pergi Haji. Dan seterusnya... dan seterusnya...

Dalam hati gue memaki diri sendiri:

"Pit, dunia ini gak akan habis di kejar. Tanggung jawab loe bukan ngasih Umaro tempat tinggal mewah, fasilitas lengkap, mobil yang nyaman, liburan ala artis dst... dst... Tanggung jawab loe ke anak kecil yang brojol dari rahim loe itu adalah mendidiknya supaya bisa jadi anak soleh."

Gila mulus banget hati dan pikiran gue sampe bisa mikir begitu. Kata siapa? Ada ajah tau godaannya, bahkan sampai detik ini. Gue gak mau munafik dengan bilang gak pengen punya rumah bagus, mobil, bisa makan enak, pakai baju kece, jalan-jalan, dst...dst... Manusiawi lagi ingin itu semua apalagi di era medosos yang banyak mamerin gaya hidup orang lain.

Sekarang gue pasrah. Job mendongeng gue terima dengan syarat dan ketentuan berlaku. Misal harus weekend agar Umaro ada ayahro yang menemani, dsb. Yang pasti yang paling utama adalah izin suami.

Gue yakin Allah sudah mengatur rezeki setiap orang dengan cara yang luar biasa.

Oh iya, please yang bilang "Daripada nganggur cuma jadi ibu rumah tangga..." stop judge like that. Jadi ibu rumah tangga itu gak ada kata nganggur, apalagi sepaket dengan krucil-krucilnya.

Wednesday, November 2, 2016

Ta'aruf Yang Berujung Teror

9:58:00 PM 16 Comments

Salam hormat kepada para jombloers semua. Jangan sedih kalau jodohmu belum datang. Gue ajah menjomblo selama 25 tahun, akhirnya bisa menikah hehehe (bukan pamer yak kwkwkwkw)

Bagi gue untuk bisa menuju pelaminan, masalahnya bukan cuma calonnya yang belum ada. Tapi, juga restu dari Ortu (emak khususnya) yang request-nya macem-macem. Harus satu suku lah, harus mapan lah, harus ini dan itu dan masih banyak lagi. Belum lagi status gue waktu itu masih jadi mahasiswa. Cita-cita terbesar emak waktu itu adalah anak-anaknya bisa jadi PNS/Pegawai. Trus bisa dapet suami yang pegawai juga. Tapi setelah dipikir-pikir susah kali kalau dapet jodoh satu kantor, yang ada salah satunya biasanya diminta melepaskan jabatan.

Oh iya, dari awal gue emang gak pengen pacaran. Meski sempet punya TTM-an baik nyata maupun Maya (aduh sumpah jangan ditiru yak). Dan karena keseringan jadi tempat curhat temen-temen cowok yang galau pacarnya di mana-mana gue putuskan bahwa kelak laki-laki yang mau serius sama gue akan datang langsung ke orangtua gue melamar. Klo dipikir-pikir sapa gue yak, cakep kagak punya standart begitu kwkwkw. Tapi gak papa itu namanya cita-cita.

Nah kalau gak punya pacar trus gimana cara biar bisa ketemu sama jodoh? Ta'aruf laaaaah...

Eh gue pernah loh ada pada masa hopeless apalagi setelah baca novel "Bidadari-Bidadari Surga" gue pasrah sama Allah. Katanya setiap orang diciptakan berpasang-pasangan, namun nyatanya ada ajah yang sudah meninggal sebelum menikah. Jadi gue pasrah se-pasrah pasrahnya. Tapi tetep ikhtiar dengan pakai jurus "mepet-mepet" segala potensi.

Entah berapa "proposal cinta" sudah gue send ke teman-teman untuk ikhtiar. Sampai suatu hari iseng ngomong sama mba Galuh, "Mba, entah kenapa gue kok mendadak yakin bisa menikah tahun ini (2014) trus tinggal di Depok" yang langsung di aamiinkan sama sohib gue itu.

Gak tahunya 3 hari kemudian mba Galuh nawarin gue Ta'aruf sama seseorang. "Pit, gue rasa ini jawaban dari keyakinan loe tempo hari." Ternyata laki-laki yang mengajukan diri tersebut merupakan refrensi dari guru ngaji tahsin yang waktu itu kami undang untuk mengajari kami di TBM Rumah Cahaya FLP Depok.

Oke langkah pertama yang gue lakukan setelah bertukar "proposal cinta" adalah meminta izin ortu (terutama Emak). Rupanya emak merasa berat, karena si pria berdarah blasteran (Jawa-Betawi). Sedangkan request emak adalah Jawa tulen. Gue sedikit melobi dengan bilang, "siapa tahu Mak jodoh pita bukan orang jawa". Tapi rupanya sampai detik akhir emak masih berat.

Meski belum mengantongi restu, namanya ta'aruf kan kita coba penjajakan dulu ya. So gak ada alasan gue untuk tidak berkomunikasi dengan pria itu. Tapi ternyata kami memiliki persepsi berbeda soal ta'aruf dan gue mulai merasa gak nyaman.

Pertama, pria itu mulai menuliskan kata-kata pujian berlebihan terhadap gue padahal kami belum pernah ketemu. Pria itu juga mengucapkan terima kasih sudah menerima dia apa adanya. Dari sms-sms nya seolah-olah kami sudah "jadian" yang kemudian gue tegaskan kalau kami masih penjajakan. Ta'aruf gak mesti pasti jadi Bos! Dan kalau gak salah ingat memang ada satu sms nya yang mengklaim kalau kami sudah jadian. What?! Hello... Loe ngerti konsep Ta'aruf gak sih?!

Kedua, orangnya maksa banget. Kebetulan gue ikut liburan ke Singapore dari kantor. Bo, itu sms dari luar negeri pan mahal ye. Pulsa gue habis donk buat sms. Gue udah izin tidak bisa membalas sms karena sedang di luar kota (ceritanya gak mau sombong jadi bohong dikit). Tapi karena kekeuh sms terus gue bilang ajah jujur lagi di luar negeri, sms-an mahal pulsa sekarat. Eh tau-tau pria itu ngisiin gue pulsa. Yang dengan tegas gue klariikasi itu gak perlu karena gue belum jadi siapa-siapa. Dan yaelah pulsanya juga cuma cukup buat bales 3x sms dia doank sih.

Ketiga, selain memuji berlebihan yang puncaknya adalah tau-tau dia say "I Love U". Kita belum pernah ketemu dan doi kok bisa-bisanya bilang gitu?? So Fix gue akhirnya bilang baik-baik ke perantara gue (yaitu Ustadzah) gue membatalkan proses ini. Sambil menunjukkan sms-sms yang berlebihan sebagai alasan terkuat agar ustadzah tidak tersinggung.

Yang gue kaget ternyata ustadzahnya juga minta maaf, karena ternyata pria yang dikenalkan ke gue terlalu agresif. Pernah suatu ketika si pria ini mendatangi masjid tempat ustadzah sedang pengajian dan berharap ada gue. Padahal gue kan ngajinya gak disitu. Trus dengan exited nanya ke ustadzah kira-kira kasih kado apa ya ke gue yang bentar lagi ultah. Sama ustadzahnya di nasehatin gak usah macem-macem. Gue belum jadi siapa-siapanya, dan mending kalau ada rezeki ditabung untuk biaya nikah atau mahar.

Ustadzahnya juga minta maaf, karena ternyata beliau sebetulnya tidak mengenal pria ini secara personal. Pria ini datang kepada ustadzah atas refrensi kawannya yang sukses bertemu jodohnya lewat ustadzah ini. Di sini gue agak kecewa. Memang seharusnya, etika dalam menjadi comblang setidaknya kita sudah mengenal baik orang yang akan dikenalkan. Sehingga bisa secara proporsional memberikan gambaran kekurangan dan kelebihan agar tidak bagai "menjual" kucing dalam karung.

Dan orang yang paling lega dan bahagia mendengar kabar ini adalah Emak dan kakak ipar gue. Emak langsung mengucap syukur dengan terbata-bata (waktu itu kena gangguan syaraf ringan) katanya emak gak tenang selama gue menjalani proses ini. Duh Mak feelingnya kuat banget sih, iya emang gue gak tenang bangeeeets.

Kakak ipar gue yang emang ustadz juga sempat mendiskusikan pekerjaan pria ini yang bekerja di toko elektronik yang sistemnya kredit. "Pikir lagi pit, kasihan anak-anakmu dikasih nafkah dari uang riba".

Setelah berakhirnya proses itu gue kira gue bisa melanjutkan kehidupan normal gue. Sebaliknya, gue mulai mendapatkan teror dari si pria. Dia gak terima kalau gue memutuskan dia sepihak (kita ta'aruf bukan jadian!). Sudah dengan kalimat penuh santun dan tertata rapi gue jelaskan baik-baik tapi si pria itu tetap marah lewat sms (telpon gue reject karena males).

Trus dia ngungkit-ngungkit pulsa. Ya ampuuun gue cuma di beliin pulsa 50rb terus itu artinya gue jadi milik lo? Belum lagi dia menghina gue lewat sms-smsnya. Katanya gue gak seperti yang dia bayangkan, gue adalah perempuan munafik, jauh berbeda dengan apa yang gue tulis. Laaaah emang gue nulis apaan? Gue nulis padahal gak muluk-muluk, insya Allah apa adanya.

Belum lagi dia menuduh penolakan gue karena kekurangannya. Katanya gue nolak dia karena dia miskin. Gaji cuma 1,6 perbulan dan cuma bisa kasih 3jt buat pernikahan dan mahar. Alamaaaaak... padahal dari awal gue bahkan gak keberatan dengan harapan dia yang ingin punya isteri juga bekerja untuk membantu rumah tangga nanti. Bukan materi alesannya.

Dan setiap hari, sehari lebih dari 5x sms gue terima isinya makian dan hinaan. Berhubung rumah dia di depok dan gak jauh dari Rumah Cahaya gue sampai takut ke depok lagi. Gue ngeri kalau tiba-tiba si pria muncul (emang agresif banget sih). Pasalnya gue tulis di profil aktifitas gue di Rumah Cahaya, kalau dia "pinter" bisa googling dan dapetlah alamat rumcay. Udah gitu gue gak begitu paham wajahnya, karena dia print profilnya dengan tinta printer sekarat jadi foto kurang jelas (aduh niat gak sih bikin profil).

Gue saking takut dan paranoidnya sampai nyiapin semprotan merica di tas. Tadinya mau beli stuntgun ternyata lumayan mihil. Setiap lewat jalan rumahnya yang merupakan rute menuju rumcay gue gemeteran dan keringet dingin. Atau lewat margonda dan gue menghindari ke ITC Depok karena kantornya di seberangnya, seluruh tubuh gue gemeter ketakutan. Gue takut si pria itu orang yang nekat.

Tapi alhamdulillah, selang sebulan trauma gue itu bisa hilang karena suport orang-orang terdekat. Dan bahkan gue dipertemukan dengan pria yang sekarang jadi suami dan ayah dari anak gue. Cieeeee...

So saran gue buat yang mau ta'aruf, beberapa point ini harus diperhatikan baik-baik:

  1. Pastikan yang jadi perantara kamu adalah orang yang memang kenal sama yang di referensikan
  2. Pastikan dulu soal agamanya (terutama solatnya)
  3. Minta restu dulu sama orangtua klo di acc baru lanjut (menurut gue ridho ortu nomor satu)
  4. Kepo-in doi lewat orang terdekatnya (keluarga, sahabat, dll) juga dari sosial medianya. HRD ajah ngecek medsos pelamar kerja loh hihihi
  5. Meski di kejar "deadline" jangan maksain diri. Jodoh itu unik, di paksakan kayak apa juga kita gak bisa nolak ataupun nerima.
  6. Istikharah, biarkan Allah yang memberikan petunjuk.

Wednesday, October 19, 2016

Resep Puding Silky Ala Puyo

3:57:00 PM 21 Comments


Beberapa waktu lalu di Mall dekat rumah (di Banjarmasin cuma ada satu mall keleus kwkwkw) ada opening both minuman Thailand. Menunya ada Thai Tea, Green tea, dan Catuchak. Gue yang emang hobi jajan minuman akhirnya nyoba chatuchak. Dari namanya udah thailand banget nih, dan berharap rasa seistimewa nama.

Pas di coba ternyata cuma jus sirsak, dengan serutan kelapa plus selasih dan secuil leci hehehe. Akhirnya nyeletuk lah gue sama suami, "Enaknya Sh**e Tea ya Sayang." Yang di jawab suami "Apa enaknya sih minuman kayak gitu? Biasa ajah, mahal doank." kwkwkwkw...

Iya emang suka dapet protes sih kalau gue jajan minuman begituan keseringan. Segelasnya ajah paling murah IDR 25k. Lah kalau setiap hari gue jajan begituan lumayan cekak sih. Dan yang paling ngenes kata suami adalah "Kamu tahu gak kenapa usaha minuman beginian cepat berkembang? Modalnya kecil tapi masuk mall harga langsung selangit" (agak lebay sih, gak sampe selangit juga keleus hihihi). 

Tapi itulah mahalnya sebuah branding. Kalau mereka jual biasa ajah sih paling cuma IDR 15k/gelas. Well, tapi demi menyelamatkan perut dan dompet maka gue harus bersikap adil. Jajannya sesekali dan kreatifnya harus sering kali hehehe. Jadi mari kita bikin sendiri minuman ala cafe.

Sebetulnya sih minuman-minuman itu biasa ajah (bener kata suami). Kelebihannya memang menggunakan teh premium ajah jadi rasanya akan beda kalau kita nyeduh sendiri di rumah pakai teh cap ayam jago hehehe. Dan, tentu ajah toping yang spesial.



Awalnya sih gue gak tahu kayak apa puding Puyo itu. Pas di Jakarta main ke mall ternyata itu nama brand ya. Dan pas gue coba selain enak ternyata gue sering kok nemuin puding itu di sini sebagai toping minuman ala cafe favorit gue. Tau gitu dari dulu gue coba-coba bikin deh. So let's to cooking...

Bahan:

  1. 10 gram nutrijell (rasa sesuai selera)
  2. 2 sdm tepung maizena
  3. 1200 ml Air/Susu Cair
  4. 30 gram gula (Sesuai Selera)
  5. 2 Sachet SKM (Skip jika pakai susu cair)
Cara Membuat:
  1. Campur nutrijell, maizena dan gula dalam panci. Aduk rata.
  2. Tambahkan Air/Susu Cair, SKM. Nyalakan Api aduk terus sampai seluruh bahan larut.
  3. Masak sampai mendidih sambil terus diaduk supaya tidak menggumpal. Matikan Api. Tuang dalam cetakan. Biarkan dingin dan mengeras.
Catatan:
  • Nutrijel dengan ukuran 35 gram pakai 1/3 nya saja
  • Active Acid yang ada dalam Nutrijel tidak perlu di gunakan
  • Karena tekstur yang sangat lembut sebaiknya satu wadah untuk sekali makan (karena gak bisa dipotong-potong)
Gampang kan bikinnya??? Hasilnya lembuuuuut bangets...

Bisa di campur dengan minuman kesukaan atau di makan langsung juga enak loh. Berhubung Umaro belum bisa makan ini jadi emaknya ajah yang makan. Keponakan juga suka banget pas di cobain ini hehehe. Kalau mau praktis ada juga sih yang jual tepung cepat sajinya di online atau di toko perlengkapan kue/roti. Tinggal masak ajah gak perlu takar-takar hehehe

Thursday, October 13, 2016

Pijat Aman Saat Hamil Di Nakamura

2:19:00 PM 16 Comments
Dari hamil sampai sudah melahirkan tetep seneng di pijat

Siapa yang suka dipijat? Gue ngacung pertama deh hehehehe. Karena emang gue suka banget dipijat. Dari jaman gadis rutin manggil tetangga yang bisa pijat, kalau lagi demam cuma di kerokin terus pijat besoknya sembuh. Apalagi kalau lagi ngumpul bareng temen-temen organisasi. Wuih gue paling lihai nyari tangan-tangan yang pintar pijat. Dan orang-orang itu biasanya mencari tempat duduk agak jauh dari gue kalau lagi rapat kwkwkw (takut dipalak pelanggan gretongan).

Tapi emang di pijat tuh rasanya menyenangkan. Berasa ada yang membelai mesra kwkwkw. Dan jangan pernah bandingkan pijat dari tangan profesional denganTA mesin pijat ya. Beda banget rasanya. Iyalah yang satu pijat pakai hati, yang satu gak punya hati kwkwkw.

Nah semenjak pindah ke Banjarmasin gue gak pernah lagi tuh dipijat. Sesekali sih suka dipijetin sama suami (kebalik yak?). Karena gue belum tahu tempat pijat beneran, pijat yang gak macam-macam, dan pijat yang bukan kedok. Selain pengalaman menyenangkan gue punya pengalaman buruk soal pijat memijat.

Dulu waktu Baksos dari kampus ke sebuah daerah, gue pernah panggil tukang pijat karena emang badan udah rontok banget 2 minggu baksos. Tapi rupanya tukang pijat ini gak sembarangan. Setiap prosesi pijatnya ada ajah mantra-mantra yang di ucapkan. Ternyata malamnya gue ngerasa di "ganggu" gitu deh. Gak cuma gue sih, teman-teman yang lain juga mengalami.

Kejadian gak menyenangkan lainnya saat gue sama temen gue trip ke Jogja. Karena hujan (kami sewa motor) kami berteduh dan pas di depan sebuah panti pijat. Semula biasa ajah sih, cuma kok ya yang pijat semua seksi-seksi dan yang keluar dari bilik kebanyakan om-om. Gak bermaksud suudhan tapi emang ngeri sih ya ini salah satu panti yang aneh-aneh gue sama temen gue memutuskan untuk pergi (padahal hujan).

Dan akhirnya moment dipijat di perantauan terlaksana saat gue hamil Umaro usia 6 bulan. Banyak mitos yang bilang kalau lagi hamil gak boleh pijat. Tapi tahu gak siiiih rasanya jadi orang hamil?? Ini badan semua tulangnya kayak bautnya pada kendor.

Kekhawatiran tetap ada sih walaupun banyak juga yang bilang itu mitos belaka. Makanya yang gue dan suami lakukan pada saat itu pertama-tama adalah mencari tempat pijat yang banyak direkomendasikan. Pilihan kami jatuh pada Nakamura Banjarmasin. 
Nakamura Banjarmasin Jl. Pangeran Antasari 1 N0. 1-3 (depan Mitra Plaza BJM/Grand Palace)
(0511) 3361269

Setelah melihat bentuk bangunannya, ditambah yang parkir banyak mobil-mobil sempet khawatir nih kalau ini tempat pijat mahal. Tapi suami bilang waktu itu gak papa, mahal asal nyaman dan aman buat gue dan umaro dalam perut. Setelah masuk ke loby nya disambut mbak-mbak yang pakai kimono cantik dan ramah. Yang paling penting resepsionisnya baik dan sabar hehehe. Karena waktu itu gue gak langsung mengiyakan, tapi tanya-tanya dulu tentang kondisi kehamilan, malah minta di kasih lihat dulu ruang Terapinya sebelum deal.

Bener ajah gue di ajak melihat-lihat ruangan Terapi yang terdiri dalam 3 level. Umum, Semi privat dan Privat. Yang umum ini isinya 4-6 pasien per ruangan. Yang Semi Privat isinya 2 orang pasien. Dan yang Privat isinya 1 orang pasien. Karena gue berdua suami, pilih yang 2 orang juga sama ajah sih sama yang umum. Ya udah ambil yang umum deh.

Berani ambil yang isinya rame-rame karena memang pijatnya kering. Gak ada adegan buka-bukaan hehehe. Sempet ragu juga sih, pijet kering apa enaknya? Ternyata tetap nyaman dan menyenangkan hehehe.

Waktu itu gue ambil paket pijat seluruh badan. Tapi karena gak bisa tengkurap bagian punggung dipijat dalam kondisi duduk. Lagi-lagi tetep memuaskan rasanya deh. Dan sebelum dipijat terapisnya menawarkan untuk di tensi terlebih dahulu. Gue tanya kenapa? Rupanya kalau dalam kodisi tensi tinggi tubuh gak boleh dipijat (wah ilmu baru nih). Dan pasien diminta tanda tangan semacam surat persetujuan untuk diterapi. Wih bener-bener kelihatan profesional banget deh.
Loby nya berasa di jepang beneran nih

Oh iya, disini terapisnya bisa pilih loh. Diutamakan yang perempuan dipijat perempuan dan laki-laki dipijat laki-laki. Jadi suami aman melepas isterinya pijat, dan terutama isteri aman melepas suami pijat meski tanpa pengawasan kwkwkw (apa sih).

Suasana ruang terapi pun sangat nyaman (sayang no capture foto di dalam demi menjaga privasi pasien). Agak dibuat redup dan diiringi musik seruling dengan suara gemericik air. Rasanya relaks banget dan enak banget buat tidur (dipijet biasa ajah enak buat tidur apalagi suasana mendukung). Dan enaknya meski ketiduran gak dibangunin (tau ajah nih pelanggan Kebo). Tambah Asik lagi bangun tidur langsung ditawari minuman hangat hehehehe. Pilihannya teh, jahe dan air mineral. Gue pun pilih jahe sementara suami pilih teh hehehe.


Sebetulnya apa sih bedanya Nakamura dengan tempat pijat lain. Dari namanya yang memang Jepang banget, terapi di sini memang dilandasi ilmu Seitai (penyelarasan tubuh) dan Tsubo Therapy (akupresur Jepang). Manfaat dari terapi ini ternyata gak cuma buat ngilangin pegel loh, tapi banyak. Antara lain:

  • Menghilangkan stress, lelah fisik, memperlancar peredaran darah, pegal-pegal pada otot, sendi, pundak dan pinggang. Menstabilkan Tekanan Darah, Migrain, Insomnia/Sulit Tidur, Menyehatkan Organ Dalam seperti: jantung, lever, ginjal, lambung, dll, Meningkatkan Daya Tahan Tubuh.
  • Membantu masalah pria: meningkatkan gairah seks, ejakulasi dini.
  • Membantu Permasalahan Wanita: Mens tidak teratur, mens sakit, menopause, ketidaksuburan.
  • Untuk Anak: Meningkatkan Konsentrasi, kemampuan belajar, daya ingat dll.
Paketnya memang lengkap ya dari dewasa (wanita dan pria) sampai anak-anak. Dan asyiknya lagi nih dengan jadi member ada harga khusus loh (20% diskon). Dan member gak eksklusif dipakai satu orang. Bisa untuk dua orang satu member. Meski rasa Jepang tapi harga tetap lokal hehehe.



Wednesday, October 12, 2016

Resep Bolu Karamel Sarang Semut Dengan Magic Com

8:51:00 PM 5 Comments

Punya panci magic com yang mengelupas? Kalau mesinnya masih bagus mending beli pancinya ajah. Lumayan paling harganya sekitar 40-70 ribuan ajah. Kalau beli baru semuanya kan lumayan mahal. Nah karena panci magic com di rumah udah mengelupas yang konon katanya berbahaya gue merayu suami buat beli pancinya ajah. Kenapa? Biar lebih hemat karena mau beli Slow Cooker untuk persiapan MP-ASI Umaro hehehe #EmakEmakPasangStrategi

Awalnya suami sempet ragu, emangnya ada yang jual panci nya doang? Idih jangan sedih, emak gue di rumah (Jakarta) kalau pancinya udah rusak gak buru-buru ganti semua. Beli pancinya ajah. Kalau di Jakarta yang jual mah banyak. Tapi di Banjarmasin belum paham beli di mana. So lagi-lagi kali ini kita mengandalkan online shop hehehe.

Nah, setelah si panci baru datang, gue entah kenapa langsung semangat 45 pengen bikin kue yang katanya serba magic com itu loh. Kok rasanya bikin kue semudah membalikkan telapak tangan (gak juga sih kwkwkw).

Akhirnya setelah gue bulatkan tekad, kemudian melengkapi bahan-bahan yang emang ternyata sudah menipis di dapur gue dengan pergi belanja bersama Umaro. Tada... ayo kita laksanakan.

Resepnya dari mana? Banyak seliweran di Timeline FB sebetulnya. Hobinya emak-emak kan sebetulnya ngesave resep tapi paling Cuma 1% dari total yang di save yang dipraktekan kwkwkw #gueBanget

Ya udah lah ya, yuk kita buat.

Bahan:
  1. 250 gram gula pasir
  2. 100 gram tepung tapioka
  3. 100 gram tepung terigu serbaguna (protein sedang)
  4. 4 butir telur
  5. 2 sachet SKM Putih/Cokelat (gue pakai cokelat)
  6. 100 gram margarin, cairkan (gue pakai blue band cake and cookie)
  7. ½ sdt baking soda
  8. ½ sdt baking powder
  9. 310 ml air panas


Cara membuat:
  1. Panaskan gula pasir sampai mencair (sebaiknya pakai panci teflon) biarkan mencair sendiri tidak usah diaduk apalagi dibor pakai goyang inul hehehe. Kalau sudah mencair semua tuang air panas sedikit demi sedikit.
  2. Kocok telur dengan garpu sampai tercampur, tambahkan SKM aduk sampai rata.
  3. Campur gula, tepung tapioka, terigu, baking powder, dan baking soda dalam wadah terpisah sambil di ayak.
  4. Jika sudah tercampur masukkan telur yang sudah di kocok. Aduk rata menggunakan mixer (speed rendah), atau whisker atau garpu juga bisa asal siap capek ajah hehehe.
  5. Masukkan campuran air karamel kedalam adonan sambil di saring sedikit demi sedikit sambil terus di aduk.
  6. Terakhir masukkan margarin yang sudah di cairkan, aduk rata.
  7. Olesi panci magic com dengan margarin tipis-tipis kemudian lapisi dengan tepung terigu. Sebaiknya margarin dan tepung di oleh setipis mungkin agar nanti kulitnya tidak alot.
  8. Tuang adonan kedalam panci. Lalu masak seperti memasak nasi biasa.
  9. Setelah 5 menit biasanya mesin kembali ke penghangat (jeglek bahasa gue mah). Tapi kue belum matang loh. Biarkan saja selama lima menit, lalu tekan tombol memasak lagi. Lakukan terus sampai 5x (setiap magic com berbeda ya, lakukan tes tusuk. Kalau tusuk gigi sudah tidak basah oleh adonan tandanya sudah matang.
  10. Setelah matang keluarkan kue dari panci, biarkan dingin kemudian hidangkan.

Catatan:

Setiap magic com beda-beda ukuran ya. Sebaiknya adonan yang dituang hanya sampai setengah panci. Karena adonan akan mengembang 2x lipat.

Bagi gue kue karamel ini kaya nostalgia. Pasalnya dulu waktu kecil emak sering bikin. Tapi setelah gue dewasa yang juga dibarengi dengan menuanya usia emak, meski berkali-kali gue minta buatin emak selalu menolak karena dah gak sanggup.

Entah karena ada kontak batin, pas gue lagi bikin ini kue emak nelpon. Trus gue bilang ajah lagi bikin bolu karamel tapi pakai magic com. Emak heran, "Apa bisa?" Nyatanya ini anakmu sukses mak bikin kue nostalgia kita hehehe.

Tuesday, October 11, 2016

Resep Bubur Manado Ungu Dengan Oat

4:47:00 PM 4 Comments

Siapa yang pernah di tantang suami buat masak sesuatu? Gue pernah di tantang suami buat bikin bubur Manado. Aduh tapi dari dulu gue selalu bingung kalau bikin bubur takaran aernya kayak gimana. Takut kurang malah cuma jadi nasi benyek, atau malah kelebihan malah jadi bubur encer.

Kenapa suami kasih tantangan itu? Rupanya waktu kecil katanya mama mertua suka bikinin bubur Manado. Bener kata adik ipar gue, kalau mama mertua tuh emang tipikal ibu rumah tangga idaman deh. Nurut sama suami, hampir gak pernah denger marah, dan gak cerewet pinter masak pula, asik deh. Waktu datang ke Banjarmasin nengok Umaro yang lahiran ajah gue di buatin Coto Makasar cuma gara-gara gue bilang belum pernah makan kwkwkw.

Nah balik lagi ke urusan Bubur Manado, sebetulnya gue antara tertantang dan pengen nyenengin hati suami (tsaaaah). Tapi gue ajah belum pernah nyobain kayak apa itu bubur manado. Gue tahunya itu bubur hits gara-gara Norman Kamaru hehehe. Lagi-lagi setelah disampaikan ke mertua lewat suami gue, pas mudik kemaren gue langsung dibuatin bubur Manado yang original.

Ini versi original dengan labu kuning bukan ubi ungu

Setelah pulang ke Banjarmasin akhirnya gue beranikan diri untuk bikin juga. Tapi... gue males berlama-lama di dapur. Bikin bubur itu lama dan harus sering di tengok. Selain sibuk kerjaan rumah, bacain grup wa yang se alaihum gambreng, nulis status di FB (isteri macam apa ini??), gue juga di kejar-kejar panggilan Umaro yang kayak grup dangdut Manis Manja Grup kwkwkw.

So gue pilih buat bikin Bubur Manadonya pake Oat. Dan supaya agak cuantik, mari kita kreasikan sehingga buburnya berwarna biru. Tentu aja dengan pewarna alami ya jeung. Jangan pake sianida (emang sianida pewarna???)

Bahan:

  1. 1 batang sereh memarkan
  2. 100 gram Ubi Ungu Potong Dadu (atau bisa juga pakai ubi biasa atau labu kuning)
  3. 2 sdm jagung manis
  4. 800 ml air
  5. 8 sdm Oat (gue pakai Quacker Oat yang biru)
  6. 1/2-1 sdt garam (bisa di skip, karena udah enak kok tanpa garam)
  7. Segenggam daun kemangi
  8. Segenggam sayur kangkung
  9. Segenggam sayur bayam
  10. Segenggam cinta kasih dan rasa tulus (bukan segenggam berlian ya :p)
Cara membuat:
  1. Masak Air dan Sereh sampai mendidih, kemudian masukkan Ubi Ungu. Masak sampai setengah matang. 
  2. Tambahkan jagung masak sampai matang.
  3. Masukkan daun-daunan, biarkan sampai layu.
  4. Masukkan Oat, aduk-aduk sampai rata. Masak sekitar 5-10 menit atau sampai mengental.
  5. Sajikan hangat-hangat dengan lauk ikan Asin atau sesuai selera.
Catatan:
  • Sebaiknya sayur yang dimasukkan daunnya saja.
  • Kalau merasa terlalu encer bisa di tambahkan lagi oatnya 2-4 sdm
Gampang kaaaan, yuuuk di coba. Karena pakai Oat katanya sih jadi lebih sehat hehehe. Setelah gue coba versi beras ternyata suami lebih suka versi Oat. Ini bisa juga loh buat menu MP-ASI. Tinggal Skip garamnya, trus kasih lauk tambahan deh. Nyumiiii...

Sunday, October 9, 2016

Perlukan Mengungsi Ke Rumah Orangtua Pasca Melahirkan?

11:00:00 PM 10 Comments

Bulan ini Umaro masuk usia 6 bulan. Gak terasa kayaknya baru kemaren gue nginep di rumah sakit seminggu lamanya menanti baby ini lahir plus dirawat karena mengalami keracunan ketuban (lengkap ceritanya menyusul). Karena tinggal jauh dari orangtua, beberapa bulan sebelum melahirkan gue dan suami berdiskusi serius tentang "Dimana Gue Akan Melahirkan".

Kebanyakan orang memilih untuk pulang kampung ke rumah orangtua untuk melahirkan. Gue sempat berpikir hal yang sama, mau mudik dan bersalin Jakarta saja. Terutama karena pastinya di Jakarta Fasilitas Kesehatannya lebih lengkap.

Tapi setelah di kalkulasi (matematika keleus di kalkulasi) gue lebih mantap untuk tinggal di samping suami tercinta, karena emang pada dasarnya gue gak bisa LDM (Long Distance Marriage). Misal gue lahiran di Jakarta, batas akhir boleh naik pesawat adalah usia kandungan 7 bulan, trus setelah searching bayi baru aman naik pesawat di usia 5-6 bulan (pada akhirnya usia 5 bulan Umaro ikut mudik Emaknya ke Jakarta sih hihihi). Dihitung-hitung gue bakal LDM sama suami 7-8 bulan #syok. Artinya bulan ini gue baru kembali menghirup udara Banjarmasin #GakSanggup.

Belum lagi kalau gue melahirkan di Jakarta, entah berapa biaya yang harus di keluarkan suami untuk bolak balik jenguk. Dan tentunya moment yang paling di nantikan sebagai calon ayah bisa jadi terlewat kalau meleset dari HPL (Hari Perkiraan Lahir). So mari tegarkan diri melahirkan jauh dari orangtua.

Tapi banyak pertimbangan memang untuk melahirkan dekat dengan orangtua, beberapa hal yang gue simpulkan adalah:

Ada tangan yang berpengalaman mengurus bayi. Ortu yang memang sudah lebih dulu punya anak kan pastinya lebih berpengalaman terutama untuk urusan memandikan bayi. Apalagi anak pertama, biasanya ngeri-ngeri sedap gitu deh buat megang bayi yang kayaknya masih rapuh banget.

Pas hamil dah ngincer Baby Bather jadi sudah bisa mandiin sendiri sejak keluar dari rumah sakit :)

Fasilitas kesehatan yang lebih baik. Untuk yang merantau ke plosok Indonesia nih, gak di pungkiri fasilitas kesehatan di tanah air kita ini belum merata. Daripada ambil resiko melahirkan di tempat ortu yang memang sudah lebih maju tidak ada salahnya dipilih.

Suami yang harus kembali bekerja. Masa pemulihan terutama yang melahirkan secara SC tentunya membutuhkan waktu. Apalagi dimasa ini kadang ibu rentang mengalami depresi. Bingung harus bagaimana, bingung dengan perubahan statusnya, dll. Kehadiran ortu akan sangat membantu meminimalisir rasa kesendirian new mom.

Cinta tanah kelahiran. Ini biasanya buat perantau yang gagal move on dari tanah kelahirannya. Jadi demi ingin anaknya di KTP sama dengan orangtuanya akhirnya memilih melahirkan di tanah kelahiran.

Request keluarga besar. Barangkali ini point yang tidak terduga bahwa adanya request keluarga besar. Jadi kadang apalah arti dari suara 2 orang lawan suara sekampung hehehe.

Mama dan Bapak Mertua datang dari Jogja nengok Umaro  

Memang gak mudah bagi gue khususnya mau memilih melahirkan dimana. Tapi karena gue lebih butuh dukungan suami yang harus bertanggung jawab terhadap hasil perbuatannya fix gue pilih melahirkan di Banjarmasin. Soalnya satu point lagi yang bikin gue optimis di Banjarmasin adalah Emak gue kebanyakan mitos kwkwkw

Yang ada gue pusing harus memenuhi rentetan ritual permitosan tersebut sebelum dan sesudah melahirkan. Padahal saat hamil dan menyusui ketenangan jiwa sangat dibutuhkan. Saat hamil agar bayi tidak ikut stress dan saat menyusui agar tidak sama-sama stress dan ASI bisa lancar. 


Keluar rumah sakit Emak sama Babeh dari Jakarta juga datang nengok cucu
So, yang mau melahirkan pikirkan baik-baik bersama pasangan dan keluarga besar apakah mau ngungsi atau tetap mandiri. Kalau mau mandiri kuncinya cuma butuh percaya diri kok. Itu kan anak kita, yakin ajah kita bisa mengurusinya sendiri. Tapi bukan berarti gak boleh minta bantuan orang loh ya. Misal untuk urusan memandikan kita bisa hubungi bidan terdekat untuk datang memandikan bayi loh sambil kita juga belajar.

Apalagi Pak Suami, hayuk di bantu isterimu. Kalau bisa dampingi saat melahirkan. Lihat perjuangannya melahirkan buah cintamu... 

PS: Makasih Ayahro sudah mendampingi Bundaro #BigHug

Saturday, October 8, 2016

Belajar Jadi Orangtua Lewat Dunia Maya

4:56:00 PM 10 Comments

Dulu gue pernah menulis sebuah status di FB kurang lebih bunyinya gini, "Wahai orangtua ketika kita salah mendidik anak maka kita telah menyumbangkan generasi yang nyebelin di masa yang akan datang". Kira-kira status itu muncul setelah gue nonton Criminal Mind. Mini seri tentang FBI yang memecahkan kasus kejahatan (pembunuhan) berantai dengan membuat profil tersangka lewat pola kejahatan yang dibuat.

Dari pola-pola tersebut bisa dibuat pemetaan profil tersangka yang ada hubungannya dengan masa lalunya (biasanya trauma masa kecil). Misal tersangka yang melakukan kekerasan dengan cambukan diduga masa kecilnya tidak jauh dari KDRT. Masa sih? Sadar gak sadar masa kecil yang tertanam di alam bawah sadar membuat kita adalah copy paste orangtua/lingkungan kita. Namun gue tetep yakin bahwa baik atau buruk tetap ada ditangan kita untuk memilihnya.

Mungkin kita pernah kecewa dengan pola asuh orangtua kita semasa kecil. Tapi bukan berarti yang buruk kita lanjutkan, dan bukan berarti tidak ada sedikitpun kebaikan yang bisa kita tiru. Tapi ketahuilah, menjadi orangtua tidak pernah ada sekolahnya. Pengalaman adalah guru terbaik bagi orantua kita dulu. Beda dengan kita saat ini. Dimana-mana sekarang sudah banyak seminar parenting, atau kalau memang tidak ada kita bisa aktif belajar dengan mencari ilmu parenting di dunia maya kok.

Sebelum jadi orangtua gue kira ngurus bayi cuma sekedarnya. Gue anggap pemberian sufor baik, gue anggap keponakan gue makan pisang usia sebulan normal (gue makan nasi malah kata Emak usia sebulan), gue anggap bayi bisa makan segala sampai ada yang nanya ponakan gue kok boleh makan cokelat pas gue posting di FB. Ternyata semua itu sebetulnya hal berbahaya buat bayi. Dan itu terjadi karena memang tidak ada sekolah untuk jadi orangtua (apalagi sekolah untuk menjadi tante hiks).

Foto Bersama peserta usai mengisi workshop "Dongeng Itu Mudah"

Tapi berkat internet gue yang gak pernah teredukasi tentang menyiapkan generasi berkualitas di usia 1000 hari pertamanya jadi tahu. Kenapa? Karena temen gue yang sudah lebih dulu jadi orangtua banyak share. Tentang bahaya-bahaya yang gue anggap sepele. Bukan cuma tentang nutrisi, tapi juga tentang stimulasi untuk bayi  sekarang sudah banyak di share lewat media sosial. 

Meski era sudah serba internet ini kadang ada ajah loh ilmu yang kelewat. Seperti beberapa waktu lalu gue menghadiri acara akikahan teman, anaknya di ditambah sufor karena katanya air susunya sedikit, anaknya laper. Aduuuuh, andai sebelum bayi lahir banyak membaca soal ASI pasti tahu deh kalau kebutuhan ASI bayi newborn sedikit banget. Gak sampe satu botol kok, wong lambungnya ajah masih sebesar buah cery belum sebesar duren. Gue menyayangkan karena kalau orang yang gak paham internet wajarlah. Tapi dengan smartphone di tangan harusnya bisa menambah wawasan kita.

Banyak sebetulnya yang bisa kita pelajari lewat internet. Hanya lagi-lagi tergantung kita mau bergerak maju atau tidak. Sekarang ajah mau jawab PR anak sekolah ajah tinggal main pakai jempol kok (pengalaman bantu PR keponakan dulu hihihi)

6 point yang terus harus dikampanyekan kepada orangtua oleh siapa saja menurut gue di antaranya adalah:

ASI adalah Nutrisi Pertama. Pemberian ASI eksklusif untuk bayi 0-6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) di usia 6 bulan-2 tahun adalah nutrisi terbaik untuk buah hati. Banyak sekali ilmu yang bisa kita pelajari. Dan proses memberi ASI menurut banyak penelitian bukan sekedar memberi makan. Melainkan proses pembentukan karakter sejak dini pada buah hati. Makanya penting untuk sebisa mungkin memberikan ASI langsung bukan dengan perantara dot dsb. 


Keluarga adalah Sekolah Pertama. Ciptakan lingkungan yang baik untuk anak dimulai dari rumah sendiri. Meski sekarang sudah bertebaran sekolah untuk anak bahkan saat masih bayi, sekolah terbaiknya tetap adalah rumahnya sendiri. 

Ibu adalah Guru Pertama. Jangan pernah gengsi dengan status Ibu Rumah Tangga bukannya Wanita Karir. Ibu, profesimu itu adalah pekerjaan yang tidak bisa dibayar dengan nominal berapapun. Namun akan terbayar lunas saat Ibu melihat anak tumbuh sehat, cerdas, dan sukses dikemudian hari. Jangan sedih ijazahmu tersimpan rapi di lemari, sebab Ibu menggunakan ilmunya bukan untuk jadi karyawan. Tapi untuk mendidik anak-anak.

Ayah adalah Kepala Sekolah Pertama. Jangan pernah bilang urusan anak jadi sepenuhnya urusan ibu wahai ayah. Tugasmu tidak kalah penting. Kepala sekolah yang baik tidak pernah diam saja di dalam kantor menerima laporan guru. Tapi juga terjun langsung untuk mendengar suara hati anak didiknya. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa ayah pun memegang peranan penting dalam tumbuh kembang buah hati. Bahkan seharusnya cinta pertama dari anak perempuan adalah Ayahnya. Dan idola pertama anak lelaki adalah ayahnya. Maka dari itu hadirlah dalam tumbuh kembangnya.


Cinta Kasih adalah Kurikulum Pertama. Menjadi orangtua jangan pernah gengsi untuk mengutarakan rasa sayang dan cinta pada buah hati. Sebab perasaan dicintai pada anak bisa berdampak besar kepada rasa percaya dirinya kelak. Anak akan tumbuh menjadi anak yang penuh cinta kasih karena perasaan dicintai.

Stimulasi adalah Pelajaran Pertama. Stimulasi atau bahasa mudahnya rangsangan sangat diperlukan bagi anak. Pernah dengar kan istilah berani kotor? Karena dari setiap proses stimulasi itulah anak belajar.



Apakah 6 point itu ada di daftar pelajaran kita sekolah dari SD sampai Kuliah? Pasti tidak ada kecuali kuliah yang memang jurusan tumbuh kembang anak. Tapi jangan sedih, di era digital sekarang semua ilmu itu sudah bisa di pelajari. Sudah banyak kawan-kawan yang juga punya semangat berbagi di luar sana yang berbagi lewat jejaring sosial atau blognya. Tugas orangtua kini hanya menjemput bola mencari ilmu itu

Dulu gue kira menjadi orangtua adalah mengajarkan anak, tapi sebetulnya manusia tidak pernah berhenti belajar. Sekarang tugas gue adalah terus belajar menjadi orangtua. Seperti yang gue bisikkan saat pertama kali menggendong tubuh mungil Umaro "Nak, kita sama-sama belajar ya. Kamu belajar tumbuh menjadi manusia yang baik, dan bunda belajar menjadi orangtua. Mohon Kerja samanya ya."

Setiap orang berhak menjadi generasi unggul. Dan setiap orangtua wajib mendidik putra-putrinya dengan baik.