Follow Us @curhatdecom

Follow by Email

Sunday, July 12, 2020

Berdamai Dengan Luka Masa Kecil

7:11:00 AM 1 Comments

sumber gambar : Pixabay

04.20 adalah waktu yang ditunjukkan jam di kamar rumah gue di Pamulang. Saat terbangun bantal gue sudah basah oleh air mata. Gue sendiri terbangun oleh air mata itu. Air mata yang disebabkan oleh mimpi yang aneh, tapi justru saat bangun membuatku menangis sejadi-jadinya.

Sudah beberapa tahun belakangan gue seperti melakukan “ritual mengingat mimpi”. Bertahun-tahun silam entah penulis mana yang mengatakan “cobalah mengingat apa mimpimu malam ini saat terbangun, kadang itu bisa menjadi sebuah inspirasi menulis.” Berkali gue coba, banyak mimpi aneh yang gue rasa bisa jadi tema cerita fiksi yang hebat. Tapi malam ini, ternyata mimpi itu menyadarkan gue pada luka yang mungkin gue abaikan.

Apalah mimpi itu? Terkadang hanya sebuah bunga tidur kan? Entah bagaimana sisi psikologisnya, mungkin salah satu dampak yang terbawa dari alam bawah sadar (gak paham juga, coba yang paham bisa komen dan kasih pendapat). Karena bertahun-tahun sudah gue pun menjalani terapi gangguan jin, mimpi bertemu makhlus adalah salah satu tanda seseora harus di ruqyah. Entah bagaimana mimpi gue barusan adalah sebuah pintu masa lalu yang terbuka.

Entah bagaimana mimpi ini dimulai. Intinya gue dalam mimpi adalah gue dalam tubuh gue dewasa. Gue bahkan sudah punya Gaza. Ada si menggemaskan itu dalam mimpi gue. Kalau tidak salah ingat gue pindah ke dekat rumah orangtua gue. Hanya saja suami gue tidak ada dalam mimpi, digambarkan suami gue belum nyusul karena pekerjaannya.

Selesai beres-beres gue punya rencana mau membuat dua indomie goreng dan segelas susu coklat panas untuk melepas lelah sisa pindahan. Saat merebus air, gue kehabisan indomie. Setelah nyalain kompor, gue lari ke warung terdekat (yang entah bagaimana penjualnya adalah tetangga sebelah gue di Pamulang saat ini yang memang punya kios).

Saat gue kembali, air yang gue rebus mau dipakai dulu sebagian untuk bikin susu coklat. Ternyata air sudah mendidih, tapi susu coklat habis. Gue taruh indomie di samping kompor, dan pergi ke warung lagi. Saat gue kembali, gue melihat ada kawat besi menyembul menjadi urat besar di kaki Gaza. Yang entah bagaimana gue inget, gue yang pasang itu kawat besi agar Gaza bisa berdiri kuat.

Gue pikir, gue akan selesaikan urusan indomie dan susu coklat baru setelahnya gue akan urus kaki Gaza, gue mau ambil aja semua kawat besi itu. Tapi tiba-tiba muncul kakak kedua gue. Dan dia tanya siapa yang masak air panas? Karena lihat indomie disampingnya, dia berinisiatif untuk memasak indomienya (niatnya mau bantu). ½ mie dari satu bungkus sudah di tuang, baru dia kemudian berpikir untuk memastikan. Makanya dia ngomong di ruang tengah yang ramai orang, dan gue auto marah. Itu air kan mau di pakai buat nyeduh susu dulu baru sisanya buat masak indomie. Kalau udah di tuang mie duluan kan berarti harus rebus air lagi. Dan pacinya harus di cuci dulu, jadi ribet. Dan yang bikin gue marah adalah, RUSAKNYA RENCANA YANG GUE BUAT.

Entah kenapa sejak kecil gue memang anak yang suka membuat perencanaan memang. Tapi mood gue akan hancur berantakan jika ada satu saja yang berjalan tidak sesuai rencana. Terutama perusaknya adalah orang lain. Itulah kenapa gue lebih suka kerja sendiri daripada kelompok. Karena gue benci jika ada perusak struktur yang gue buat.

Akhirnya karena kesal, niat membuat indomie dan susu coklat gue batalkan. Jangan tanya hancurnya mood gue gimana. Gue akhirnya malah sibuk battle robot apalah gitu (yang bisa keluar dari kartu-kartu. Mirip kartun-kartun gitu) untuk mengalihkan hancurnya mood gue. Masa bodo dengan semua bahan yang ada di dapur.

Trus gue inget dengan Gaza, akhirnya anak itu yang entah bagaimana gue merasa itu adalah Umaro (meski gue panggil Gaza) gue bawa ke kamar untuk cabut kawat besi diam-diam. Karena gue pasti kena amuk masa karena ketahuan pasang kawat besi ke anak sendiri (jangan tanya kenapa gak gue bawa ke dokter). Mungkin karena gue takut di serang “emak macam apa itu pasang kawat besi ke badan anak sendiri).

Baru kawat sebelah kanan yang berhasil gue tarik, yang entah kenapa tidak mengeluarkan darah maupun bikin anak itu gak nangis. Padahal gak pakai bius. Oh iya entah gimana pas gue mau bawa gaza ke kamar gue di lantai atas, keponakan-keponakan gue muncul 4 orang, tapi itu bukan keponakan gue yang biasa. Mereka adalah anak-anak dari sutradara Hanung Bramantyo.

Karena gue buru-buru mau cepet eksekusi kaki Gaza anak-anak itu gue suruh keluar. Dan bukannya keluar mereka malah semakin jadi. Akhirnya setelah salah satu gue jitak, baru mereka keluar dengan wajah sedih. Entah kenapa diri gue sendiri bahkan mau bilang “lo ringan tangan banget pit, mukul anak orang lagi.

Nah pas gue mau lanjut cabut kawat kaki kiri, kakak kedua gue muncul. Dia membahas tentang indomie tadi. Katanya gue lebay Cuma masalah sepele gitu aja dibesar-besarkan. Ternyata dia bete karena akhirya di suruh mama minta maaf. Dan bukannya minta maaf dia malah nyalahin gue terus begini begitu lebay dan sebagainya. Akhirnya karena kesal gue pun teriak-teriak. Gue bilang bukan indomienya, tapi gue benci ada yang merusak rencana gue.

Gak lama kakak pertama gue datang. Dengan suara yang ceria khasnya dia tanya kenapa gue ribut hterus. Kasihan mama di bawah sedih. Gue yang entah gimana lagi pegang ceres warna warni kesal dan menyiram itu ke badan kakak pertama gue “Bukan urusan lo! Dan gak usah pura-pura peduli. Urus masalah lo sendiri, justru lo yang setiap hari bikin mama sedih.”

Trus kakak gue tadi yang sudah gue duga Cuma pura-pura ramah wajahnya berubah marah. Dia lempar juga ceres yang lagi dia bawa ke badan gue (ini kenapa jadi perang ceres sih). Trus gue ketawa, “Bego, itu ceres yang gue lempar gue gak beli. Jadi gak rugi gue. Kalau lo kan itu ceres beli sendiri.” Gak terima dia rugi sendiri, dia bongkar bahan kue gue dan nyari bahan yang bisa di buang biar satu sama.

Dia hampir buang kacang gue, tapi gue cegah. Terjadilah keributan besar yang mengundang Bapak datang. Bapak marah-marah karena kami kakak beradik kenapa ribut terus. Akhirnya bapak manggil satu persatu, mau memberikan wejangan. Sebelum mulai bapak menyebut nama kami satu persatu dengan disertai kalimat yang sama. Tibalah saat bapak menyebutkan bagian gue “Pita... kamu tahu kan bapak sayang kamu.” Tiba-tiba gue nangis dan terbangun. Kata-kata itu seperti simbol kuat Bapak yang sebenarnya. Seperti ya memang itu yang ingin disampaikan bapak dan mungkin juga mama sebagai orangtua kepada anak-anaknya.

Saat sadar entah kenapa yang gue lakukan bukannya istighfar, malah lanjut menangis bahkan sampai sejadi-jadinya.

Mimpi itu seperti menggambarkan kejadian masa kecil, tapi denga tubuh kami yang sudah dewasa seperti sebuah isyarat bahwa kami tumbuh menjadi orang dewasa namun terjebak dengan luka masa kecil kami.

Setelah puas menangis dan merenung, masih dengan isak tangis tertahan (takut Gaza terbangun) gue coba berdoa. Mumpung sepertiga malam, “Ya Allah... betapa banyak luka pengasuhan yang aku miliki sejak kecil. Karenanya aku tumbuh penuh luka hati, yang belum terobati. Aku menerimanya sebagai takdir hidup yang harus kujalani ya Allah. Aku menerima adanya luka masa kecil itu. Tapi saat ini, setelah proses penerimaan itu, aku mohon lapangkan jiwaku. Sembuhkan lukaku. Biarkan semua itu menjadi bagian masa lalu yang hadir untuk menjadikan ku manusia kuat.”

Banyak luka masa kecil yang bahkan berlanjut sampai sekarang yang membuat gue berpikir “keluarga gue gini amat yak”. Tapi gue tahu kok di luar sana banyak kisah keluarga yang tidak lebih baik dari gue. Karena gue paham sejatinya Allah menakdirkan garis hidup yang berliku agar manusia itu belajar, terlatih, merenung dan kembali pada tujuan sejatinya.

Luka adalah sebuah “masalah” yang harus kita sadari dan terima keberadaannya. Bukan sesuatu yang harus kita abaikan, karena kalau begitu bukannya sembuh luka itu bisa jadi bom waktu. Pertama kali gue menyadari adanya luka masa kecil gue adalah tahun 2015 akhir atau 2016 awal saat suami membawa gue mengikuti sesi terapi hypnosis untuk menyembuhkan phobia terhadap jarum suntik. Saat itu gue sedang hamil Umaro, anak surga kami. Tujuan terapi ini agar gue siap menghadapi persalinan yang pastinya ketemu alat-alat medis, salah satunya jarum suntik.

Tapi ternyata begitu banyak luka yang muncul, yang membuat gue merasa satu jam sesi itu kurang. Tapi membayar 500 ribu rupiah setiap sesi juga bikin pusing. Kebetulan terapisnya adalah ustadz yang bisa Ruqyah juga. Sesi yang berjalan bisa dibilang nano-nano. Kadang muncullah sesi dimana kadang jin yang muncul, kadang luka masa kecil gue yang muncul.

Terapisnya berkata, bahwa terlalu banyak luka masa kecil yang terabaikan. Sembuhkan itu dulu, baru nanti bisa terurai benang kusut sampai pada penyembuhan phobia jarum suntik. Luka masa kecil yang terabaikan itu juga salah satu penyebab emosi gue yang meledak-ledak katanya. Dan saat emosi gue gak stabil, memang adalah celah jin menguasai tubuh gue (kesurupan).

Gue paham sepenuhnya bahwa kondisi gue sebetulnya membutuhkan penanganan profesional. Tapi biaya menjadi problem ketakutan gue berikutnya. Gue gak mau membebankan suami. Akhirnya yang gue lakukan adalah terus merenungi diri. Terus bertanya pada diri gue sendiri, tentang apa saja. Karena kadang itu yang membuat kita sadar, hal tak terduga yang ternyata tersimpan di alam bawah sadar.

Selain itu gue juga membaca banyak tulisan tentang kisah hidup orang lain, atau tentang jati diri atau inner child dan artikel lain yang relevan lah. Curhat dan diskusi dengan teman-teman yang memang punya basic ilmu psikologi dan passion dengan itu juga gue lakukan.

Menulis juga menjadi cara gue melepaskan apa yang gue pikirkan. Kalau hanya memikirkannya, semua itu hanya menjadi benang kusut dalam kepala. Menulis membantu gue mengurai satu persatu benang itu sehingga ketemu masalah dan solusinya.

Berdoa, adalah cara kita berkomunikasi dengan Dia yang menitipkan kita segala masalah ini. Barangkali selain untuk membentuk kita, Dia hanya ingin kita terus berkomunikasi dengan-Nya untuk itulah masalah demi masalah hadir.

Namanya juga hidup, masalah pasti selalu ada. Yang terlupa dari pengasuhan dari masa ke masa adalah setiap manusia itu lahir dengan membawa fitrah. Fitrah manusia adalah menjadi orang baik. Jadi sejatinya masalah hidup seberat apapun, harus membawa kembali kita menjadi orang baik.

Kembali mengutip pesan senior di FLP saat beliau menjabat sebagai Ketua Umum, Mba Sinta Yudisia. “Ikhlas itu diawal, ditengah, dan diakhir...” maka sejatinya ikhlas itu harus terus di upgrade.

Jika kita sudah ikhlas dan menerima luka masa lalu, bisa jadi seiring berjalannya waktu luka itu datang lagi. Bukan berarti belum sembuh, hanya saja mungkin flash back saja. Oranglain tidak pernah tahu apakah kita sudah sembuh atau belum, hanya diri sendiri yang benar-benar tahu. Jadi Sebelum bertanya pada orang lain “apa kabar?” tanya diri sendiri terlebih dahulu “Apa kabar diriku? Apa perasaanmu hari ini?”

Masa kecil... Apapun yang terjadi saat itu, gue menerima dan merelakan semuanya...

Pamulang, 12/07/2020
06.05 WIB
Sebagai pengingat agar gue tetap ikhlas diawal, ditengah dan diakhir

Wednesday, July 8, 2020

Anakku, Mencintaimu Apa Adanya adalah Proses Seumur Hidup

8:38:00 PM 2 Comments

Setiap pagi, saat gue menatap wajah polos Gaza yang sedang tertidur rasanya ada kedamaian sekaligus luka yang menampar. Entah berapa kali gue membuat anak ini terluka hatinya. Entah karena ajakan bermainnya selalu gue tolak karena kesibukan mengurus rumah seorang diri. Dan yang paling gue sadar (meski dia mungkin belum paham) adalah luka karena gue terus “menuntut” dia menjadi seperti anak-anak yang lain.

Menjadi ibu jaman sekarang itu “tidak mudah”. Tapi gue yakin setiap ibu memiliki suka duka berbeda pada kondisinya dan masanya. Bagi gue pribadi kesulitan menjadi ibu saat ini adalah karena banyaknya informasi yang “terlalu mudah” di akses. Apakah bagus ada banyak informasi seputar tumbuh kembang anak? Oh bagus donk. Tapi buat gue pribadi itu seperti pedang bermata dua.

Di satu sisi gue terbantu bahwa ada milestones anak yang harus terpenuhi agar tumbuh kembang anak optimal. Tapi disatu sisi saat anak gue gak mencapai “target” ada ketakutan. Bahkan ajang melihat rumput tetangga “anak tetangga” yang udah bisa ini itu gue jadi jiper dan stress. Ini anak gue yang “kurang”? Atau emaknya yang males kasih stimulasi? Atau “anak tetangga” yang terlalu jenius???

Informasi seputar stunting pun sebetulnya bagus, untuk mecegah hal buruk terjadi pada anak terkait gizi. Trus gue yang punya anak bertubuh mungil (yang katanya makanan dihabisin emak bapaknya yang gendut) lagi-lagi merasa insecure. Melihat orang dewasa yang punya tubuh pendek diluar sana, langsung mau nangis. Akankah anakku nantinya pendek, trus gimana nanti masa depannya??? (padahal orang pendek tapi tetap sukses juga banyak)

Sejak kecil hal yang paling gue benci dari perlakuan orangtua gue adalah seringnya mereka membanding-bandingkan gue dengan anak tetangga. Si A bisa pulang jam sekian kok kamu telat terus, si B nilainya selalu segini kok kamu gak bisa, si C... Si D... Si F... dst sampai gue gumoh. Tapi entah karena itu semacam luka masa kecil yang gue belum bisa berdamai dengannya atau karena memang ternyata segini khawatirnya saat menjadi orangtua akhirnya gue sendiri sering membadingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Bedanya (gak tau nanti semoga gak terjadi) gue gak pernah sampai tercetus kalimat secara verbal. Hanya dalam hati saja.

Gue terus belajar untuk menerima dengan terus mensugesti diri dengan bilang “setiap anak spesial dengan kelebihan sepaket dengan kekurangan yang dibawa”.

Tapi ternyata godaan dari luar kadang mematahkan benteng pertahanan gue. Ada aja lah komentar “anak lo kok kurus, si anu anaknya gendut.” Atau “Anak lo belum bisa jalan? Dulu waktu lo bayi jalan umur berapa tahun? Ada hubungannya loh sama genetik.” Atau “kok belum bisa ngomong, dulu waktu bayi lo mulai bisa ngomong usia berapa?” dst

Mendapat pertanyaan-pertanyaan macam itu gue langsung auto insecure... Lagi-lagi gue merasa jadi ibu yang gak becus, gak bisa kasih makan, gak bisa merawat, males stimulasi anak, atau bahkan parahnya gue berpikir gue ini bego! Yes, gue merasa anak gue kemampuan berpikirnya karena emaknya aja bego, kan katanya kecerdasan anak di wariskan dari genetika ibu. Apa seharusnya orang bego macam gue gak usah kawin dan punya anak yak? Daripada melahirkan anak-anak yang sama begonya sama gue.

Kalau udah kumat muncul deh perasaan kok anak gue gak kayak si A...B...C...D... dst. Dan kalau udah mulai banding-bandingkan gini gue merasa kotor, berdosa dan gak fair. Apa bedanya dengan yang orangtua gue dulu lakukan ke gue??? Kalau Gaza tau dia pasti sedih.

Lalu... gue berpikir...

Gaza... anak lucu yang tidak pernah merepotkan saat digendong karena gak terlalu berat itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang baru bisa berjalan usia 14,5 bulan tapi langsung lancar tanpa tertatih itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang usia 2,5 tahun baru mulai berkomunikasi langsung dengan kosakata yang banyak dan lucu itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa... Dan meski dia tidak bisa memilih, dia tetap menerima gue sebagai ibunya.

Sosok yang harus ada saat bangun dan akan tidur. Sosok yang selalu dicari saat sedih dan terluka. Sosok yang dicari untuk berbagi air minum yang baru dituangkannya sendiri dalam gelas. Sosok yang selalu ingin dipeluk dan diciumnya. Itulah gue... Ibunya yang dia cintai apa adanya...

Lalu gue berpikir, kenapa gue gak bisa mencintai dia apa adanya??

Ketahuilah nak... mencintaimu apa adanya adalah proses panjang seorang ibu. Tapi Bundaro akan selalu berusaha untuk melalui proses itu. Karena kamu layak diperjuangkan untuk memperoleh cinta apa adanya dari Bundaro...

Pamulang 08/07/2020

Wednesday, May 27, 2020

Halte Kehidupan

8:15:00 AM 0 Comments

Teman-teman tahu kan apa itu halte? Yah walaupun di negara kita halte kurang berfungsi sebagaimana mestinya, setidaknya semua orang tahu bahwa halte adalah tempat berhentinya kendaraan umum atau tempat untuk transit. 


Belakangan gue sedang merenungkan bahwa sepertinya saat ini gue sedang berada pada “tujuan akhir”, “tujuan salah”, atau mungkin sekedar “transit”.
Sebelum menikah gue berprofesi sebagai pendongeng profesional. Namanya juga profesional, tentunya ada value yang gue tawarkan untuk “dijual” bukan sekedar mendongeng seadanya. Tapi sejak menikah, ikut merantau ke pulau seberang profesi gue seperti kurang mendapatkan apresiasi secara profesional. Gue pun akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dan fokus kepada keluarga kecil gue saat itu.

Kemudian disela mengisi waktu luang, gue putuskan untuk menulis blog. Membagikan cerita-cerita kehidupan yang gue harap dapat diambil maknanya, hikmah, dan pembelajaran bagi pembacanya. Dari sejak SD gue suka menulis puisi, membacakannya di depan kelas atau panggung perpisahan. Setelah SMP gue suka menulis cerpen karena termotivasi dengan cerita pendek yang ada di majalah remaja yang sering dibawa teman sekelas. Sampai SMK dan kuliah kebiasaan menulis cerpen itu berlanjut. Bahkan gue yang gak suka matematika dan memilih hitung kancing atau nyontek (ups jangan ditiru ya) saat ujian nasional, lebih sering menggunakan kertas buram untuk menulis cerpen disela-sela ujian.

Masa kuliah adalah masa-masa gue akhirnya mengenal dunia internet lebih lebar. Tidak hanya sibuk be Yahoo Massanger atau friendster, tapi kemudian gue membuat akun multiply secara tidak sengaja. Bahkan pernah sekali menang juara satu lomba menulis Blog dengan hadiah Blackberry sebagai hadiahnya (gue pernah berdoa, kalau punya Blackberry itu karena gue dapat bukan beli hahaha). Tapi meski punya akun multiply, gue lebih sering nulis di Catatan Facebook. Karena akun Fb gue namanya De Pita, akhirnya semua berlabel “De”. Ada “CurhatDe”, “PuisiDe”, “CerpenDe” dll (mungkin kalian akhirnya paham kenapa blog ini namanya www.curhatde.com hahaha)

Setelah punya anak tahun 2016, gue ingat salah seorang teman menyarankan gue untuk menulis Blog. Membagikan cerita dan pengalaman saat memiliki anak. Karena katanya cara gue merawat anak kekinian banget. Dari mulai perlengkapan bayi sampai dengan penanganan bayi. Dan dari situlah akhirnya gue memutuskan membuat blog (lebih tepatnya melanjutkan karena ternyata tahun 2012 pernah bikin blog di blogspot baru diisi beberapa tulisan hahaha). Kemudian memutuskan untuk membeli domain Juni 2016 (eeeeh berarti bentar lagi waktunya ngerogoh dompet buat bayar perpanjangan nih kwkwkw)

Gimana, sampai sini kalian sudah bosan belum baca kisah gue? Karena itu masih pembuka saaay kwkwkw...

Sejak memutuskan TLD (Top Level Domain alias domain berbayar) ternyata job mulai berdatangan. Gue pun mulai menikmati datangnya barang-barang untuk diriview atau diendors yang terkadang juga membuat bunyi cling cling pada celengan gue di bank hahaha. Gue pun mulai gencar untuk mencari informasi seputar job. Gabung komunitas ini dan itu. Tambah semangat karena ternyata di grup-grup tersebut banyak informasi yang membuat gue belajar mengembangkan blog.

Yah namanya juga main di dunia maya, ternyata ada banyak hal yang terkait dengan alogaritma yang buat gue yang gaptek bikin mumed hahaha. Jangankan mempelajari SEO, ganti tamplate sendiri aja bikin gue sakit kepala dua hari dua malam, tambah gendut (cemilan always nemenin), dan yang parahnya anak sama urusan rumah tangga terbengkalai (so maaf ya yang bosen sama tamplate gue, gue juga bosen sebetulnya kwkwkwkw. Belum lagi katanya tamplate bisa ngaruh buat SEO dsb, huft sabar.)

Dan semakin kesini, syarat mengikuti sebuah job sebagai blogger juga harus diimbangi dengan jumlah follower di sosial media. Padahal dulu cukup dengan DA (domain Authority. Yah semacam rangking domain gitu). Saat Follower instagram gue masih 500 minimal untuk dapat job harus 1000. Setelah 1000 tercapai dengan tersengal-sengal, ternyata udah naik jadi 1500. Dan setelah ngesot-ngesot mencapai 1500, naik lagi jadi 2000. Sekarang belum 2000 udah naik lagi pakai di atas 10k kwkwkw...

Belum lagi alogaritma google yang baru membuat DA gue yang sudah di posisi 24 tiba-tiba terjun bebas diangka 10 kwkwkw...

Apakah gue stress? Banget!

Ya Allah apa salah dan dosaku... Selama setahun gue marah dengan kondisi yang tidak bisa gue menangkan. Stress banget, emosi naik dan turun. Karena gak mood akhirnya banyak urusan rumah yang harusnya jadi kewajiban gue terabaikan.

Tapi rupanya kondisi ini membuat gue mengenali siapa diri gue sendiri. Gue belajar untuk tidak lagi memaksakan apa yang tidak bisa gue raih. Karena ternyata untuk gue pribadi, menjadi ambisius membuat gue menelantarkan banyak hal. Merusak mental gue juga. Bahkan pelan-pelan mengacaukan struktur dalam keluarga gue.

So sebelum semua semakin kacau, gue putuskan untuk menerima.
Proses menerima itu pun sebetulnya naik turun juga loh. Karena ada aja temen yang komen “Makanya jangan males nulis, jangan males ikutan BW (blog Walking), jangan males posting sosmed, daaaaaan petuah lainnya.”

Rasanya mau teriak, ya ampun sist lo saat mental gue drop karena stress bantuin kagak?? Selalu nyindir blognya gak gue baca, punya gue dibaca gak? Selalu komplain gue gak pernah nengok IG story lah gue klo bikin Story gak pernah lihat lo nongol duduudu.

Tapi sekarang gue udah tahu, apa yang harus gue lakukan. Saat bis gue berhenti disebuah halte, yang perlu gue lakukan hanya merenung. Mencukupkan perjalanan sampai sini, memaksakan berjalan, atau transit ketempat lain.

Gue memilih santai untuk menaiki bus selanjutnya. Gue gak mau mendorong diri gue melewati batas yang gak gue mampu untuk mengejar bus yang tertinggal. Kalau dalam perjalanan menunggu ada bus menuju ketempat lain yang lebih menarik dan layak untuk dicoba kenapa gak. Sambil menunggu bus pun kalau ada yang nawarin makanan enak, yah jangan ditolak.

Anggap aja gue gak punya passion untuk ini. Gue hanya perlu mengingat tujuan awal gue memulai sesuatu. Gue hanya perlu bertahan dengan itu. Setidaknya aktifitas menulis di blog yang sudah bertahun-tahun gue jalani ini bermanfaat untuk relaksasi pikiran gue. Yes... gue gak boleh lupa, saat mulai menulis puisi, cerpen, ataupun blog gue punya tujuan. Gue memiliki pesan untuk dibagikan.
Dan Halte kehidupan ini berlaku tidak hanya untuk dunia tulis menulis. Tapi segala aspek. Saat Tuhan memberikan kita jeda dari rutinitas, mungkin itu saat Tuhan meminta kita berpikir. Apakah yang kita jalani selama ini sudah “benar dengan jalurnya”.

Setiap orang berbeda. Ada yang bisa push dirinya sampai limit terakhir, ada yang memang mencukupkan dirinya dengan sesuatu yang dimiliki, dan semua itu pilihan. Apapun yang kamu pilih, pastikan kamu memutuskan sendiri bukan karena desakan orang lain. Orang lain boleh memberikan masukkan tapi tetap kita yang memutuskan. Supaya kelak jika ada yang tidak sesuai, kamu hanya perlu introspeksi diri. Bukan menyalahkan orang lain.

Pemberhentian berikutnya... Halte Menjadi Diri Sendiri...

Monday, April 27, 2020

Jangan Posting Makanan di Media Sosial?

8:42:00 AM 1 Comments

Gambar : Pixabay

Guys... gimana puasa hari ke-4 ini? Masih suka julid? Ups! Atau sudah kembali ke jalan yang benar? (*pertanyaan ini ditujukan buat diri gue sendiri kwkwkwkw)

Ramadhan kali ini menurut kalian berkesan atau sangat tidak berkesan? Secara saat ini kita sedang berpuasa di tengah pandemik covid-19. Tentunya pasti ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga kita tetap dalam keadaan bersyukur seperti apapun itu ya.

By the way, gue kali ini mau curhat soal bermedia sosial di masa sekarang ini, terutama soal yang lagi hits yaitu “Postingan Makanan di Media Sosial”. Yes sesuai judul yang pastinya udah kalian baca dan membawa kalian tergerak nge-klik link yang udah gue share kwkwkw.

Jadi beberapa waktu ini lagi heboh banget kan tuh, orang-orang (bahkan ada artis) yang share jangan posting makanan. Karena rasanya tidak empati dengan yang saat ini sedang kesulitan bahkan sampai tidak bisa makan. Bahkan ada orang yang posting curhat, bagaimana anaknya kemudian merengek minta dibelikan makanan tertentu saat melihat gambarnya berseliweran di sosial media. Sedangkan suami beliau sudah lama tidak dapat pemasukan dari ojek online setelah adanya pandemik covid-19 ini. Semoga saat ini Allah masih menjaga keluarga beliau dan keluarga-keluarga lainnya yang kondisinya serupa.

Beberapa hari yang lalu pun, gue mendapatkan teguran dari suami saat meminta (setengah tantrum kwkwkw, yah emang gaya gue didepan suami kan gitu. Manja-manja yang kalau dilihat orang lain langsung bikin pengen muntah kwkwkw) untuk dibelikan lobster. Gara-garanya ada temen gue yang share di Ig Story baru dapat lobster dari temannya.

Ya Allah...seumur-umur gue tuh belum pernah makan lobster. Udah mana beberapa hari ini tayangan tentang lobster seliweran terus guys di timeline gue. Entah itu Baim Wong yang dapat lobster usia 30 tahun (wew beda setahun gue sama lobster umurnya kwkwkwkw), Zaskia sungkar yang masak lobster, content creator di luar negeri pada mukbang pake lobster. Ditambah temen gue gimana gak kepingin tuh gue kwkwkw. Kenapa gue berani merajuk, karena katanya lagi murah karena gak lagi susah ekspor saat ini. Kan aji mumpung tuh buat nyoba.

Tapi kemudian suami gue negur dengan gaya khasnya yang lempeng, “tuh kan Bunda, orang tuh jadi kepingin kalau lihat postingan makanan. Gimana kalau mereka gak mampu. Kasihan kan...” mungkin ini maksudnya menegur isteri secara soft selling karena doyan share gambar hasil dapur di sosmed *plak. Dan tantrum pun berubah jadi manyun kwkwkw

Semua Punya Sudut Pandang Berbeda

Buat gue pribadi, memposting foto makanan bukan lantaran mau pamer kekayaan karena bisa makan ini dan itu. Tapi lebih karena mau pamer skill baru hasil mencoba resep ini itu (Lah pegimane sih intinya mah tetep pamer yak?!) Dan barangkali kedepannya bisa jadi produk jualan baru hihihi (otak sensing, harap maklum)

 Kalau ada yang minta resep kalau gue dapat dari orang lain biasanya akan gue kasih sih. Kalaupun gue gak langsung kasih itu mohon sabar, karena mau gue jadikan konten di IG, Blog ataupun di Youtube kwkwkw. Bagaiamana pun gue kan juga butuh mengisi konten-konten gue. Yah intinya gue tetep share yekaaaan.

Tapi kalau hasil formula sendiri dan mau gue jadiin jualan ya monmaap gak gue kasih ya guys kwkwkw.

Tapi ini memang menarik sih ya, kalau membahas tentang sudut pandang masing-masing yah gak akan ada titik temunya. Yah namanya juga hidup, pasti ada pro kontra. Namanya juga dunia yang bagai panggung sandiwara (stop! Kalau diteruskan gue bisa nyanyi)

Gue sendiri sebagai content creator (ngakunya sih gitu, tapi bikin konten masih tergantung mood kwkwkw) jika ada teman yang posting sesuatu akan lihat dari sudut pandang proses kreatifnya. Bukan dari sudut pandang apa yang dia miliki gue gak (aduhai bijak beut gue. Coba tiap hari begini hahaha)

Misal gue nonton youtube, gue akan tertarik mengamati kontennya menarik atau gak, orisinil atau gak, karakter kontennya, karakter editingnya dsb. Sama halnya ketika ada orang upload makanan, terlebih teman-teman yang memang fokus di konten makanan. Gue akan lihat resepnya yang dibagikan, kira-kira gue bisa gak, bahannya ada gak, mudah gak dicari. Trus gue akan perhatikan teknik fotonya, wadah yang dipakai, alas foto, properti, pencahayaan dsb.

Bahkan ketika gue blog walking (Baca-baca blog orang), selain isi gue juga akan mengamati karakter penulisannya utuk dipelajari. Pokoknya jangan berhenti belajarlah gitu maksudnya.

Tapi memang kita jangan menutup mata. Kalau ada juga sudut pandang lain yang ingin memiliki namun tak memiliki kemampuan. Kalau orang dewasa insyaallah udah lebih wise lah ya. Kalau anak-anak? Mungkin saatnya kita mengedukasi agar mereka paham bahwa tidak semua yang diinginkan harus terealisasikan. Bagaimana dengan orang dewasa yang kekanak-kanakan?? Yah itu mah bakalan jadi PR banyak orang hihihi.

Intinya mah jangan sampai kita julid sama orang lain. Tau julid kan? Coba buka KBBI, biar tahu bedanya mudik sama pulang kampung. Eh maksudnya tahu artinya julid. Kalau gak ada baru tanya gue.

Tapi kalau penyakitnya udah julid mah iya atuh susah. Orang upload makanan, di-julid-in. Orang gak upload makanan di-julid-in. Orang gak upload apa-apa juga bahkan kena di-julid-in hahahaha.

Tahan Jari Jika tidak Memberikan Manfaat

Salah satu hobi gue adalah kalau lagi berselancar di dunia maya adalah membaca komen yang ada. Entah itu nonton youtube, lihat facebook. Cuma Instagram aja gue lebih suka menikmati gambar dan baca caption. Dari komentar-komentar itulah gue belajar kalau “yes true ada sudut pandang lain loh. Gak Cuma isi kepala lo yang maha benar di dunia ini.”

Belajar empati tidak harus dengan berada diposisi yang sama. Karena tentu saja meski kejadiannya serupa tapi dengan kondisi yang berbeda impact-nya akan berbeda. So dari bahasan-bahasan “Jangan posting makanan di media sosial” gue belajar untuk tidak memberi makan egois. Gue sering loh mau posting sesuatu, udah nulis caption panjang eh gak jadi gue post.

Karena gue bertanya, kira-kira postingn gue ini berfaedah gak ya. Kira-kira malah akan menyebabkan keributan yang pro ini itu gak ya. Atau ... yah kadang kelepasan juga sih hahaha. Kita memang tidak pernah bisa membuat semua orang bahagia.

Cuma ya, jangan juga lah semua yang posting makanan dianggap gak toleransi. Terus yang jualan makanan mereka kudu posting piring kosong kayak indomie seleraku gitu? (bukan iklan ya hihihi). Semoga semua orang bisa dewasa dan bijak untuk saling menyikapi.

By the way, tulisan ini bukan untuk menghakimi orang lain ya. Tapi sekedar curhat, dan suatu hari bisa jadi pengingat diri gue sendiri kalau udah mulai eror. Mohon maaf lahir batin meski lebaran masih lama. Kekurangan datangnya dari gue, kesempurnaan hanya milik Allah. Sampai jumpa kembali di tulisan gue selanjutnya (kalau lagi gak males)


Saturday, April 4, 2020

Wellcome April! Ini isi Hati Gue...

9:17:00 PM 0 Comments

Memasuki bulan april, biasanya sih gue happy gitu karena artinya memasuki bulan kelahiran gue. Dan harusnya tambah happy karena ternyata Ramadan tahun ini ada di bulan kelahiran. Banyak hal sudah kami (gue dan suami) persiapkan menyambut Ramadan dengan agenda-agenda bahkan rencana mudik. Tapi di tengah wabah (eh wabah atau pandemi sih? Bedanya apa sih? Komen dong yang tahu) Covid-19 kayaknya semua rencana tinggal rencana. Jangankan mudik ke tempat mertua gue di Jogja, mudik ke tempat emak gue yang masih satu kota aja sebulan ini harus di-pending sampai waktu yang tidak dapat ditentukan *hiks.

Rencana lain yang sepertinya akan ke-pending juga adalah finishing rumah. Iyes setengah tahun belakangan gue pindah kerumah baru. Dan rumah ini sebetulnya masih banyak PR finishing (dananya mefet kala itu guys hihihi). Bahkan termasuk evaluasi sana sini seperti beberapa bagian bocor yang bikin cat akhirnya mengelupas. Sempet kepikiran mau di cat ulang atau ganti pakai wallpaper dinding aja kali ya. Atau mentok-mentoknya nanti gue tutup pakai Poster atau bingkai foto. Eh suami gak suka pasang foto atau gambar hidup sih di rumah. Fix gue tutup pakai sertifikat-sertifikat yang gue kumpulin selama kuliah *LOL

Dapat Fee dari kerjaan lama langsung di jajanin Cetakan Pukis di Tokopedia buat menghibur diri gak bisa jalan-jalan kwkwkw


Kira-kira sebulan yang lalu gue harus membawa Gaza ke IGD yang berujung rawat inap selama 3 hari. Kenapa ke IGD? Karena Gaza demam tinggi di hari minggu. Di mana poli pada tutup semua. Dan yang bikin gue terpukul (mentalnya) adalah gue seorang diri. Suami gue lagi dinas udah 10 hari ke Surabaya gak balik-balik. Setelah hari itu, you know what? Gue jadi sedemikian paranoid dengan kondisi anak gue. Yah padahal bukan sakit yang berat banget sih (naudzubillahi minzalik), tapi gue jadi separno itu. Mungkin karena gue pernah kehilangan anak ya.

Baca Juga : BerdamaiDengan Luka

Yes! Gue separno itu bahkan ketika Gaza dimasa pemulihan batuk pilek karena ketularan anak lain yang nekat main sama Gaza. So di tengah wabah Covid-19 ini fix keparnoan gue semakin menjadi. Bahkan gue yang jarang (hampir gak pernah malah) ribut sama suami, akhirnya berantem. Suami gak nyaman karena gue sebegitu parnonya.

Akhirnya gue memutuskan untuk skip seluruh berita terkait covid-19, entah benar atau hoax semua gue skip. Karena ternyata guepun dalam keadaan tidak sehat mental untuk menerima berita-berita yang bukannya bikin tenang tapi bikin panik. Gue memilih untuk sibuk di dapur nyoba segala resep. Iseng bikin video untuk youtube channel gue dst.
Beli Beginian aja sampai di-online-in coba hiks *kurindu Mall 

Saking paranoidnya tentang penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat yang santuy ini, gue sampai berpikir untuk belanja online semua keperluan sehari-hari. Teman merekomendasikan Sayurbox untuk belanja kebutuhan sayuran dan buah.

Meski demikian gue bersyukur masih dapat terpenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga gue. Cuma setelah WFH (lah emak rumah tangga kek gue mah kan WFH terus sih yak) otak gue semakin ngepul. Mau jajan ngeri corona, mau jalan ngeri corona (lah iya makanya #dirumahaja guys), dan fix Emak kurang piknik! Tapi lagi-lagi gue harus tetap bersyukur.

Gue udah gak kuat guys baca berita tentang tenaga medis, orang-orang yang bisnisnya mandek, atau orang-orang yang kesulitan dimasa covid-19 ini. Bisa nangis sesedih itu. Nonton drakor aja sekarang nyari yang happy-happy aja deh. Gak kuat mental emak ini.

Walaupun gue bukan emak-emak yang disibukkan dengan tugas sekolah anak tapi tetep mumet.

Nyibukin diri bikin kontent di Youtube akhirnya 

Tapi... gue yakin Allah menurunkan penyakit ini dimuka bumi ini bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah yang bahkan bisa kita tengok meski cobaan ini masih berlangsung. Sekarang orang beramai-ramai olahraga, rajin makan buah dan sayur, rajin berjemur, rajin cuci tangan pakai sabun, bahkan kata para ilmuwan Bumi saat ini sedang memulihkan diri. Masyaallah...

Gue Cuma berharap, tiba-tiba Allah kasih mukjizat di awal Ramadan semua virus covid-19 ini lenyap “Ziiiing....”Aamiin. Pengen banget kumpul dengan keluarga lebaran nanti. Silaturahmi dengan orangtua, kakak dan adik. Makan hidangan lebaran dan kue lebaran bersama. Bagi-bagi amplop lebaran untuk keponakan-keponakan. Dan jalan-jalan menyusuri wisata-wisata baru di kampung halaman suami di Jogja.

Well... April. Kehadiranmu tahun ini membuat gue harus banyak-banyak merenung. Selain angka yang bertambah (namun jatah hidup berkurang) dan rambut-rambut putih yang semakin banyak sepertinya keadaan saat ini juga banyak direnungi. Semoga semakin menambah kedewasaan dan kebijaksanaan. Aamiin

Monday, March 16, 2020

Mandi Mewah Ala Sulthan Dengan Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

10:11:00 PM 0 Comments

Beberapa waktu lalu ditemani anak dan suami gue mengunjungi salah satu supermarket besar di dekat rumah. Supermarket satu ini emang terkenal rame sih, terutama weekend. Tapi  dalam rangka usaha biar belanja dibayarin suami, jadilah weekend pun hayuk dijabanin kwkwkw.


Dan bener dong, supermarket belum buka orang udah pada antri. Di dalam akhirnya buru-buru biar gak terjebak antrian yang mengular. Tapi secepat apapun kaki berusaha, ternyata konsumen lain kakinya lebih cepet kwkwkw. Dan jadilah kami mengantri bahkan sampai ke lorong belakang.

Menghidari lorong yang berbahaya (cemilan, cokelat, dan mainan anak) kami memutuskan antri di lorong sabun. Sambil nunggu antrian kurang lebih 1 jam, setiap maju gue dan suami iseng nyoba setiap jenis merk yang kami berhenti di rak nya. Maksudnya mencoba mencium aromanya yes. Ya kali gue mandi di TKP kwkwkw.

Dari sekian sabun cair yang rata-rata botolnya berwarna soft tiba-tiba ada satu yang gonjreng bikin mata langsung fokus melihat. Eh tapi kok merk nya Vitalis? Itu bukannya merk parfum ya? Eta si mba-mba petugas (sotoy banget! Kali aja petugasnya mas-mas kan yak *LOL) salah taruh kali ya. Eh tapi kok ada botol samplenya. Warnanya gak bening selayaknya parfume.

Karena posisinya tepat di samping suami sambil bersuara manja minta tolonglah diambilkan si sample. Kata suami “Apaan sih? Abang baru tahu ada sabun merk vitalis.” Maklum beb, doi taunya men product.

Ada tiga botol berbeda warna, itu artinya ada 3 variant. Pink, Hijau, dan Ungu. Kalau boleh nebak sih ya Pink wanginya soft dan girly, Hijau fresh gitu, dan Ungu penuh elegant hihihi. Kan kalau dalam psikologi warna kira-kira kesannya demikian yes (lagi-lagi sotoy!)

Dan daripada penasaran, itu sabun tiga-tiganya sekarang udah nangkring manis di kamar mandi donk (Sultan mah bebas kwkwkw). Pengen nyoba mandi parfum biar kek sultan beneran, langsung aja gue coba. Tapi gak sekaligus ya beb! Satu-satu lah :p

Vitalis White Glow


Sebagai pecinta pink maka si botol pink ini masuk list pertama yang gue coba. Dari namanya aja udah ketahuan yang ‘white glow’ so udah pasti ini mah manfaatnya adalah mencerahkan kulit say. Diperkaya dengan ekstrak Licorice dan susu. Beugh pakai susu udah berasa sultan beneran yekaaan hahaha.

Gue suka banget sama wangi si Pinky ini. Soalnya sesuai dengan karakter gue yang lemah lembut gitu deh (Auto dilempar sendal sama netijen +62). Aromanya emang lebih soft dari varian yang lain, tapi tetap awet gitu loh dikulit.

Vitalis Fresh Dazzle


Pecinta teh hijau yuk ngacung. Kalau mood lagi jelek minum teh biasanya bisa menenangkan yes. Nah gimana rasanya kalau itu teh dipakai buat mandi? Apalagi di tambah aroma jeruk Yuzu yang nyegerin. Nah sensasi mandi teh hijau dan Jeruk Yuzu adalah paket lengkap yang ditawarkan dalam Vitalis Fresh Dazzle.

Variant yang hijau ini pas banget kalau gue pakai setelah menghadapi rumah yang kayak kapal pecah dan menghadari polah balita yang bikin esmosi (red: emosi) naik turun kayak roller coaster.

Vitalis Soft Beauty


Botolnya berwarna ungu, dan aromanya juga feminim tapi lebih kuat dari yang botol pink. Meskipun warna botolnya ungu, tapi ternyata kandungan dalam sabun ini adalah ekstrak alpukat dan vitamin E untuk merawat kulit lembut dan elastis.

Mandi pakai sabun ini menjelang suami pulang kerja oke kayaknya nih. Biar suami betah deket-deket isteri, gak bau bawang melulu. Trus pas belai lembut tangan isteri halus kayak sutra hahaha.

Kelebihan Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

Mungkin bisa dibilang mandi dengan sabun cari Vitalis ini beneran bikin berasa mandi parfum. Selain memang wangi yang gak seperti sabun-sabun lainnya wanginya tuh awet banget dikulit. Buat yang gak mau ribet pakai parfum (gue banget ini) mandi pakai sabun cair Vitalis solusi banget.

Selain karena harum, yang gue suka dari Vitalis body wash ini adalah gak licin dan gampang dibilas. Paling males deh kalau pakai sabun saat dibilas busa udah ilang tapi licinnya awet. Sampai ngabisin banyak air buat bilas.

Efek setelah mandi, selain tentunya harum mewah tahan lama kulit terasa bersih dan lembab. Karena memang Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash dibuat untuk kita yang ingin tampil glamor dan dikagumi. Sama sekali gak bikin kulit kering, apalagi kulit gue sensitif. Karena biasanya kalau salah pakai sabun tangan suka terkelupas kayak ular ganti kulit, hiks. Tapi sabun ini aman buat gue ternyata.

Untuk harga satu botol 200 ml ini dibandrol Rp 18.000,- aja loh. Supaya menghasilkan busa yang melimpah mandinya gunakan puff ya.

Friday, February 14, 2020

5 Nama Bayi Perempuan Diinspirasi oleh Wanita Luar Biasa dalam Sejarah

2:51:00 PM 0 Comments
Hari Perempuan Internasional menyoroti hak-hak perempuan sebagai hak asasi manusia dan banyak plakat dalam protes di seluruh dunia membawa pesan ketidakpercayaan bahwa kita masih belum mencapai keragaman dan kesetaraan total dari kedua jenis kelamin. Dengan mengingat hal ini, kita melihat ke belakang dalam sejarah untuk merayakan pencapaian wanita luar biasa di bidang politik, sains dan pendidikan, yang seringkali bertentangan dengan peluang. Wanita-wanita terkenal ini dapat memberikan inspirasi jika anda akan memberi nama bayi perempuan untuk putri anda. Nama-nama yang diilhami oleh orang-orang inspirasional dapat membantu membawa pesan, menentukan, dan menanamkan karakteristik yang kuat dalam diri seseorang, dipengaruhi oleh sejarah dan orang-orang yang patut dicontoh. 

Rosa Parks, 1913 – 2005
Rosa Louise McCauley Parks adalah seorang aktivis hak-hak sipil Afrika-Amerika yang terkenal ditangkap pada tahun 1955 karena menolak memberikan kursi bisnya kepada seorang pria kulit putih, sebuah pelanggaran terhadap peraturan pemisahan rasial Alabama. Kongres Amerika Serikat menyebut Rosa Parks "ibu negara hak-hak sipil" dan "ibu dari gerakan kebebasan". Rosa Parks menentang dua ideologi berbahaya yang berkembang baik di Amerika selama masa itu, satu tentang perempuan dan satu tentang orang kulit hitam. Rosa juga memiliki arti mawar atau bunga.

Sampat Pal Devi, 1960 - hari ini
Sampat Pal Devi sebagai aktivis sosial dari negara bagian India Uttar Pradesh dan merupakan pendiri Gulabi Gang, sebuah organisasi sosial yang berbasis di Uttar Pradesh untuk kesejahteraan dan pemberdayaan perempuan. Sampat menolak bantuan dari pejabat atau LSM yang lebih suka membiarkan anggota-anggotanya, yang sebagian besar berasal dari kasta terendah di masyarakat India, membawa masalah ke tangan mereka sendiri. Persaudaraan telah menyerbu kantor polisi ketika petugas menolak untuk mendaftarkan pengaduan pelecehan terhadap perempuan, menyerang pria yang telah melecehkan istri mereka, menghentikan pernikahan anak-anak dan mendorong anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Sampat juga dapat diartikan sebagai makmur, kekayaan, dan keberuntungan.

Malala Yousafzai, 1997 - hari ini
Malala Yousafzai merupakan seorang aktivis Pakistan untuk pendidikan wanita dan penerima Hadiah Nobel termuda. Dia dikenal karena advokasi hak asasi manusia, khususnya pendidikan wanita dan anak-anak di barat laut Pakistan, di mana Taliban setempat kadang-kadang melarang anak perempuan pergi ke sekolah. Malala menjadi aktivis pendidikan terkemuka. Berbasis di Birmingham, ia mendirikan Malala Fund, sebuah organisasi nirlaba dan pada tahun 2013 turut menulis bersama saya am Malala, buku terlaris internasional.

Mg,arie Maynard Daly, 1921 – 2003
Marie Maynard Daly adalah wanita Afrika-Amerika pertama di Amerika Serikat yang memperoleh gelar PhD dalam bidang kimia, dengan Universitas Columbia pada tahun 1947. Dia membuat banyak kontribusi untuk pemahaman kita saat ini tentang komposisi dan metabolisme komponen dalam inti sel, dan melanjutkan ke mengembangkan program untuk meningkatkan jumlah minoritas di sekolah kedokteran dan program pascasarjana sains. Marie memiliki arti Lautan atau pahit.

Grace Hopper, 1906–1992
Dijuluki 'Amazing Grace', Grace Hooper menemukan salah satu bahasa komputer pertama yang mudah digunakan, COBOL, yang memungkinkan kemajuan signifikan dalam pemrograman komputer dan masih digunakan sampai sekarang. Dia percaya bahwa kode komputer dapat ditulis dalam bahasa Inggris dengan menggunakan bahasa pemrograman yang didasarkan pada kata-kata bahasa Inggris, yang adalah bagaimana kita menggunakan pengkodean komputer di masa sekarang. Nama Grace memiliki makna ‘pengampunan’ atau ‘belas kasih’.