Persiapan Naik Pesawat Saat Hamil 7 Bulan


Saat lagi asyik menyantap mie goreng, gue dikagetkan dengan sebuah berita tentang seorang ibu yang melahirkan di pesawat. Soalnya baru beberapa waktu lalu gue ngerasain "ribetnya" mau mudik lebaran dengan bawa "tas pinggang" yang tentunya gak bisa di titipin di Bagasi ataupun Cabin pesawat kwkwkw.

Ini tahun pertama gue dan suami menikmati sensasi Mudik Lebaran setelah jadi pasangan suami isteri. Menikah Januari 2015 ada saja "alasan" untuk tidak mudik. 2017 ini klo sampe gak mudik, bisa di kira bang Toyib nanti. 3x puasa 3x lebaran abang gak pulang-pulang hihihi.

Dan mudik kali ini asli ribet banget. Karena gue udah memasuki usia kehamilan 29 minggu atau sekitar 7 bulan. Dan peraturan penerbangan bagi bumil di usia ini udah sangat ketat banget. Alhamdulillah lebarannya jatuh di bulan Juni. Kalau Juli akhir bisa-bisa gue gak boleh terbang hiks.

Oh iya, mudik gue ribet bukan cuma karena hamil. Tapi karena gue mudik 2 provinsi. Ortu gue di Jakarta dan ortu suami di Jogja. Biar adil dan "sekalian" singgah di pulau jawa jadinya keduanya di kunjungi. Penerbangan awal kami putuskan dari Banjarmasin-Jakarta. Baru kemudian setelah lebaran kami lanjutkan Jakarta-Jogja via Kereta Api.

Tapi dengan berbagai alasan, tiket kereta api kami refund dan memutuskan ke Jogja naik Pesawat ajah.

Kehamil di usia 27 minggu sebetulnya sudah memasuki kondisi siap lahir. Meski prematur, bayi sudah bisa dilahirkan di usia 27 minggu. Makanya peraturan penerbangan menerapkan aturan ketat pada ibu hamil usia ini.

Surat Keterangan Dokter
Sebelum terbang, ibu hamil WAJIB memeriksakan diri ke dokter dan membuat surat keterangan dokter bahwa Ibu hamil dinyatakan sehat dan siap untuk terbang. Nah perlu di perhatikan kalau surat keterangan dokter ini punya "batas kadaluarsa". Sempat searching kalau surat keterangan dokter ini berlaku 7 hari sejak di keluarkan. Tapi untuk maskapai seperti Lion dan Batik Air surat tersebut hanya berlaku 3 hari. Oh iya kalau misalnya masih dipakai suratnya, sebaiknya di fotocopy atau saat cek-in diminta lagi. Karena kemarin saat cek in surat keterangan dokter gue gak dibalikin, di suruh minta ke pramugari. Tapi sampe Jakarta pramugarinya gak merasa di kasih. Mungkin karena petugas cek in riweuh sama penumpang di puncak arus mudik ya. Jadinya lupa hehehe

Surat Keterangan dokter di Jogja sebelum Balik Merantau :D

Oh iya kalau naik kereta api juga harus pakai surat keterangan dokter loh per tahun 2017 ini. Kalau untuk kereta sempat searching berlaku 7 hari. Tapi gak tahu juga pastinya karena kemarin gue gak jadi naik kereta.

Gak Sempat Bikin Surat Keterangan Dokter?
Trus gimana donk kalau gak sempat bikin surat keterangan dokter? Tahun lalu saat hamil Umaro gue juga sempat di kasih informasi di bandara Soekarno Hatta sama petugas cek-in. "Bu kalau ibu gak sempat bikin surat keterangan dokter, ibu bisa melakukan pemeriksaan di bandara. Biayanya 50 ribu ajah."
Bukti pembayaran resmi di Bandara Halim Perdana Kusuma

Nah lanjut mudik ke Jogja kemarin, dengan modal nekat gue dan suami memutuskan pakai surat dokter yang kami pakai untuk terbang ke Jakarta. Supaya lebih dekat dengan rumah Emak, kami pilih penerbangan via Bandara Halim Perdana Kusuma.

Keberangkatan pesawat jam 4, tapi jam 1 siang kami sudah di TKP. Mempersiapkan diri untuk skenario-skenario di luar dugaan. Misal surat keterangan sudah kadaluarsa. Dan... Tingtong yang dikhawatirkan terjadi hihihi

Pihak Batik Air kekeuh kalau gue harus melakukan pemeriksaan ulang. Katanya mereka punya kebijakan sendiri. Oke baiklah. Trus gimana donk?

Petugas cek in akhirnya mengarahkan gue dan suami untuk pergi ke ruang pemeriksaan. Bagi yang belum pernah terbang melalui bandara Halim Perdana Kusuma, For Your Information bandara ini kecil loh gak sama kayak di Soekarno Hatta. Kalau di Soeta mungkin petugas kesehatannya ada di dalam ruang cek in. Kalau di Soeta tempat cek kesehatannya berada di gedung terpisah di luar. Gak jauh sih cuma terpisah satu gedung dengan gedung cek-in. Tapi tetep ajaaaah bumil yang doyan mager agak ngos-ngosan. Mana siang2 pula panas hehehe...
Hasil pemeriksaan 😊

Meski begitu alhamdulillah petugas kesehatannya ramah dan baik. Entah beda tempat beda harga atau bagaimana, cek kesehatan di Bandara Halim Perdana Kusuma cuma kena biaya Rp 25.000,- ajah. Dan tensi yang biasanya rendah tau-tau normal pas di periksa. Ini tensi naik ke normal karena gugup takut tiba-tiba gak boleh terbang kali yak kwkwkw

Jangan Bohong Soal Usia Kehamilan
Waktu cek in di Bandara Halim, sebetulnya gak pengen lapor kalau lagi hamil. Toh mejanya kan tinggi, petugas cek-in gak bisa lihat juga perut gue yang emang udah endut dari sananya di tambah hamil hihihi. Pengennya lapor kalau udah di tanya ajah sih. 

Tapi bisik-bisik sama suami, kayaknya mending lapor deh. Daripada kebelakangnya tambah ribet. Ternyata betul kan, surat keterngan sudah gak berlaku. 

Di ruang tunggu nantinya harus lapor lagi dan menandatangani surat persetujuan bahwa tidak akan menuntut apa-apa kepada pihak maskapai jika terjadi "sesuatu". Klo gak lapor juga di ruang tunggu? Nanti di tanyain sama pramugari loh di pesawat. Bayangkan kalau gue gak lapor, tau-tau di tanya di ruang tunggu atau di pesawat trus ternyata suratnya kadaluarsa. Trus harus jalan ke ruang kesehatan yang tadinya dekat jadi menjauh. Trus kalau pesawatnya gak mau nunggu? Hahaha malah ngeribetin diri sendiri.

Jujur itu demi kebaikan bersama kok. Kayak kasus yang belum lama kejadian. Ngaku hamil 4 bulan tapi ternyata melahirkan di pesawat baby-nya sudah 2,4kg beratnya. Itu hampir gak mungkin banget. Karena normalnya usia segitu bayinya 500 gram juga belum ada. Masih kecil banget. Yang repot akhirnya gak cuma dirinya sendiri, tapi merepotkan orang lain.

Jangan Terbang Sendirian
Usahakan ada pendamping saat harus melakukan bepergian dengan kondisi kehamilan di atas 29 minggu. Setidaknya selain sebagai teman perjalanan, pendamping perjalanan, kan juga bisa jadi Porter gratisan *eh hihihi.

Eh bener loh, biasanya mudik kan ribet sama barang bawaan. Kalau perlu minimalisir barang bawaan. Kalau mudik mau bawa baju dan oleh-oleh secukupnya ajah. Kalau perlu jauh-jauh hari itu oleh-oleh di kirim pakai ekspedisi pengiriman ajah.

Partner in Crime :p

Dan terbang dengan ada pendamping, selain menguatkan mental juga bisa sebagai "pengambil Keputusan" disaat darurat.


4 komentar:

  1. Alhamdulillah, sehat selalu bumiil, lancar ya persalinannya..

    BalasHapus
  2. Itu yang melahirkan di pesawat ntar di akta kelahirannya gimana ya? Hihi

    BalasHapus
  3. Tapi gw yakin deh sama bumil yg ini ga bakal lahiran di pesawat, hahaha

    BalasHapus
  4. Hebat bumil yg satu ini. Saya mah mudik ke Banten aja gak diboleheun, khawatir kecapean. Hehehe..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger FLP

Kumpulan Emak Blogger

Female Blogger Banjarmasin

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan