Berdamai Dengan Luka

Fresh From Oven nih Umaro hehehe...


 Dua Puluh Tiga Hari...

Pernah empat tahun silam seorang Senior di FLP menyampaikan nasehat yang sangat sederhana namun bermakna dalam. Kata beliau, "Ikhlas itu di awal, di tengah dan di akhir". Kalimat itu yang memberikan gue tamparan bolak-balik beberapa hari lalu saat perjalanan menuju Jakarta-Cianjur. Salah satu perjalanan untuk menghapus luka. Ya, luka kehilangan... Umaro putra tercinta.

Ditengah kekonyolan lagu dangdut koplo yang lumayan menghibur, tiba-tiba kondektur Bus Antar Kota itu memutar lagu Wali. Ah... lagu itu sejak dulu sukses menghipnotis gue. Selain melow, Apoy yang merupakan senior gue di paduan suara kampus itu emang selalu nulis lagu sederhana tapi bermakna dalam. Lagu-lagu yang bikin gue sukses banjir air mata, dan menyembunyikan isak tangis dari penumpang sebelah. Yang juga sukses membuat kondektur seketika bingung melihat wajah sembab di mata saat menagih ongkos.

Apakah gue belum ikhlas?
Entah percaya atau tidak, gue berhasil menghapus luka kehilangan anak pertama dalam usia 10 bulan. Kehilangan di saat anak tersebut sedang lucu-lucunya. Kehilangan saat tidak ada satupun pertanda. Kehilangan saat semua berjalan indah dan akan bertahan selama-lamanya.

Kalau saja ada firasat, meski gue menjadi full mom yang mengurusi Umaro dari membuka mata sampai kembali tertidur lelap gue tetap merasa seluruh waktu itu terasa kurang. Banyak rencana masa depan, banyak janji masa depan yang seketika harus berakhir dalam beberapa menit saja.

Hari Itu...
Hari itu semua berjalan biasa. Banyak agenda bersama, Gue, Ayahro dan Umaro. Pagi itu gue masih menyempatkan ke pasar bersama Umaro. Berencana menyiapkan MPASI dan menu keluarga spesial agar hari itu semua makan di rumah. Menghemat pengeluaran.

Selesai belanja kami masih bersenda gurau, eyang Yogya (mama mertua) yang sedang di Bekasi menelpon. Gue seperti biasa 'mengadu' polah umaro yang semakin bikin ngos-ngosan. Ayahro pulang dari tugas kantor (meski weekend). Kami sempat bercanda sesaat bersama, bertiga. Seperti hari-hari biasa. Dan kalau boleh meminta hari itu tetap berjalan biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi ternyata, Allah punya rencana lain. Kami sibuk masing-masing. Saling mengandalkan menjaga si kecil. Dan anak itu seperti biasa bermain. Rumah kami yang selama ini sudah kami buat aman sedemikian rupa, nyatanya menjadi tempat putra kami menghembuskan napas terakhir kalinya.

Segala upaya kami upayakan untuk menyelamatkan putra kami. Tapi Allah punya kehendak lain.

Menolak Kebohongan...
Dalam kalut gue menanti di rumah. menanti kabar dari dua lelaki tercinta yang pergi ke rumah sakit bersama beberapa tetangga. Tetangga lainnya yang kebanyakan perempuan mendampingi, menenangkan. Memberi janji manis bahwa putra kecilku baik-baik saja.

Gue gak terima kebohongan dalam bentuk apapun. Saat itu penting bagi gue mendapat kabar sesungguhnya daripada menerima kebohongan yang bagaimana pun juga itu bohong. Tapi hati gue juga ternyata gak bisa menerima kabar sesungguhnya. Maka saat itu terjadi perang batin yang membuat gue seketika menceracau seperti orang gila.

Antara sadar dan tidak sadar, seketika gue tatap wajah embah (tetangga yang sudah sepuh) sambil bilang "Mbah, jangan bohong mbah. Jangan sekalipun mbah, biarkan aku menyiapkan hati mbah..."

Tiga puluh menit kemudian Abang pulang, menggendong tubuh putra kecil kami yang terbungkus kain putih. Dan saat itu tidak ada lagi yang lebih menyakitkan dari seluruh luka yang gue alami. Abang meletakkan tubuh mungil itu di pangkuan gue. Kalau saja kita pernah berharap satu scene dalam hidup kita adalah mimpi, kali ini gue berharap kali ini betul-betul mimpi. Tapi dalam luka gue tetap harus berpikir rasional. Gue gak boleh egois. Selama ini gue memprioritaskan kebutuhan Umaro. Maka detik ini gue pun harus melakukannya. Kebutuhan Umaro adalah segera dimakamkan...

"Ayah, kapan Umaro mau dimakamkan?"
"Belum tahu bunda..."

Banyak isak tangis dari teman dan tetangga bahkan satpam komplek yang memang sayang Umaro. Menjadi perantau tanpa saudara dan keluarga, teman dan tetangga adalah keluarga terdekat. Bahkan gue masih ingat saat melahirkan Umaro dulu, kamar rumah sakit penuh oleh mereka. Membuat kami nyengir kuda antara menahan tegang karena kontraksi dan kagum dengan perhatian mereka.

Tapi kemudian gue mulai terusik dengan satu dua "orangtua" yang tidak berkenan melihat gue memangku Umaro. Beberapa ada yang mencoba mengambil, menarik lengan gue, atau sekedar membujuk. Memancing marah gue seketika, "JANGAN LARANG SAYA! INI ANAK SAYA!"

Kekuatan itu gue peroleh dari keras kepala gue selama ini mengurus Umaro. Keras kepala untuk memberikan ASI Eksklusif. Keras kepala untuk memberikan MPASI tepat waktu dengan menghidari makanan instan. Keras kepala untuk memberikan stimulasi yang tepat usia dsb. Dan sampai detik terakhir mereka masih "ikut campur" maka keras kepala gue berlaku juga.

Akhirnya gue pun meminta Ayahro membawa kami menuju kamar. Beristirahat. Dan saat itu gue minta semua orang keluar dari kamar. Gue cuma mau seperti biasanya, hanya ada kami bertiga. Tanpa Nyinyiers. Meski masih terdengar jelas suara para nyinyiers di luar sana...

"Kok bisa sih? Anak lagi aktif itu kok gak di jaga..."
"Udah tahu di belakang air gitu, kok gak di pagar..."
Ayahro exited banget pasang pagar pengaman...

Mereka hanya menilai hari itu. Kenapa tidak menilai juga hari-hari sebelumnya. Bagaimana kami berupaya. Bagaimana kami mencoba merawat dan menjaga putra kami. Pengawasan sudah maksimal, pagar bukan tidak di pasang. Sudah 6 orang memasang, tapi pagarnya tidak bisa menempel pada tembok.

Gue gak mau membela diri, tapi bisakah mereka berhenti menyalahkan? Sebab tanpa mereka mengatakan semua itu hati kami sudah di rundung rasa bersalah. Belum lagi orang-orang yang tidak berhenti bertanya Kenapa?

Tahukah mereka, setiap gue memejamkan mata dan terlintas scene pertama kali gue menemukan tubuh bayi kecil kami itu maka yang terjadi adalah gue menjerit sejadi-jadinya. Membuat Abang yang entah berada dimana saat itu akan segera datang menenangkan. Meninggalkan aktifitas atau kerabat yang datang melayat. Jadi saat mereka cuma sekedar bertanya kenapa, maka scene paling menyakitkan itu akan terputar ulang begitu saja. Dan jangan tanya seperti apa sakitnya.

Kenapa...
Saat orang-orang bertanya kenapa, orang yang jelas paling ingin jawaban kenapa ada gue. Gue mau tanya sama Tuhan, kenapa harus gue? Kenapa kebahagiaan yang gue kira akan tercipta setelah pernikahan akan abadi, hanya sesaat. Kenapa gue harus mengalami kehilangan yang pahit?

Kata mereka yang 'hadir' mereka berbisik kalau gue orang pilihan. Kalau boleh memilih gue gak mau di pilih. Kata mereka yang 'hadir' gue punya tabungan di surga. Kenapa surga harus di tebus dengan perginya sebuah nyawa? Belum lagi di tengah duka gue melihat tumpukan-tumpukan amplop yang di tempel di tangan dari para pelayat. Sampai akhirnya gue sampaikan ke Abang "Bisakah kita membeli kembali Umaro dengan uang-uang itu?"

Waktu memandikan Umaro sudah tiba, orang-orang yang di undang untuk memandu dari komunitas salaf datang. Gue meminta izin sama Abang untuk memandikan Umaro. Abang membolehkan, sepengetahuannya tidak ada syariat yang melarang ibu memandikan jenazah anaknya.

Gue menggendong Umaro keluar. Tapi di luar rupanya para "panitia" melarang. Mungkin karena yang hadir disana kebanyakan laki-laki. Mereka risih kalau ada wanita bercampur di antaranya. Tapi itu kemudian menjadi duka gue yang lain. Gue marah sejadi-jadinya sampai akhirnya tak sadarkan diri.

Hanya beberapa menit saja gue terbaring, dan kembali mendesak keluar mendampingi Umaro... Bayi kecil gue sedang di tutup kain kafan saat gue keluar. Kemudian di baringkan di kasur bayinya yang entah darimana orang-orang mendapatkannya karena sudah gue simpan untuk adiknya kelak.

Di depan tubuh terbalut kafan itu, pertama kalinya gue mengucap "mantra". Sebuah isyarat kepada diri sendiri dan kepada sang Maha Pemilik. Innalillahi Wa innailaihi Rojiun...

Sebuah mantra yang menjadi penguat gue untuk tidak menangisi jenazah Umaro yang lebih mirip orang tidur. Gue gak boleh nangis, karena gue masih punya satu keinginan. Yaitu terus menggendong Umaro sampai tempat di solatkan, dan peristirahatan terakhirnya...

Keinginan yang tidak akan diwujudkan oleh orang-orang yang menilai gue sebagai ibu yang lemah. Sebagai pemanasan gue minta izin Abang memangku jenazah Umaro. Izin di dapatkan. Hanya saja, gue harus kecewa dengan orang-orang yang melihat kejadian itu sebagai kejadian yang menarik hingga mengeluarkan kamera mereka. Dan mengambil gambar sepuas hati.

Meski tidak ada lagi air mata, nyatanya masih banyak yang tidak mengizinkan gue mewujudkan harapan-harapan gue. Sampai akhirnya gue harus kembali marah dan meledak "JANGAN LARANG AKU! INI ANAKKU! SELEMAH APAPUN AKU, NGGAK AKAN KUBIARKAN ANAKKU JATUH"

Gue bukan egois, gue cuma gak mau melepas kesempatan untuk terakhir kalinya. Gue tahu setelah ini gue hanya bisa membayangkan memeluk tubuh itu, hanya bisa menciumi aroma tubuhnya dari pakaiannya, membayangkan tingkah polahnya hanya dari foto dan video.

Dan akhirnya gue di izinkan menggendong dari rumah menuju musolah. Dan semua proses berjalan lancar sampai ke pemakaman.

Seberapa Cepat Bisa Bangkit Kembali...

Seharian itu rasa lapar tidak sedikitpun mampir. Semua orang memaksaku makan, minum, atau sekedar menghabiskan susu hamil. Ya, mereka khawatir karena ada adik Umaro dalam rahmi gue. Mereka tidak hanya mengkhawatirkan rasa kehilangan seorang ibu. Tapi juga khawatir keadaan si kecil yang bingung merasakan duka ibunya...

Tapi rasanya tetap sulit. Sampai telpon dari seorang sahabat yang bukannya menyampaikan bela sungkawa dengan kesedihan seperti pelayat lainnya, dia malah ngomel-ngomel "Lo udah makan? Sekarang lo makan, gak usah mikirin Umaro. Doi udah baik-baik ajah. Sekarang pikirin adiknya."

Nyebelin sih, tapi mungkin doi yang tahu karakter gue akhirnya memilih cara begitu buat memberikan gue nasehat.

Dan seberapa cepat gue bisa bangkit kembali? Jawabannya adalah secepat yang gue mau. Lagi-lagi gue harus berpikir rasional di atas emosional. Lagi-lagi ego gue harus di tekan karena gue adalah Ibu.

Temen gue bener, Umaro sudah enak di sana. Dia pergi dengan menyisakan kenangan manis. Tawanya, polahnya, senyumnya, dan semua yang membuat siapapun orang yang melihatnya bahagia. Sesuai namanya Arsa yang diambil dari bahasa Jawa yang artinya Kebahagiaan.
Senyum yang akan selalu di rindu...

Maka kebangkitan hati gue dimulai dengan menyantap dua bungkus bubur ayam yang dibawakan teman abang. Kemudian di lanjutkan dengan menemui dan menghibur pelayat yang datang dengan cerita-cerita lucu tentang Umaro. Meski sesekali air mata menetes. Tapi gue cuma gak mau di kasihani. Gue orang yang paling gak kuat menghadapi orang lain yang sedih atau mengasihani gue. Sesekali gue masih memandangi foto dan video Umaro. Ketawa bareng Abang mengenang keusilan-keusilannya.

Hal lain yang gue lakukan adalah menjawab pesan bela sungkawa yang gue sampaikan secara personal atau lewat FB dan grup wa. Satu dua gue abaikan pertanyaan "kenapa" yang di maksud ingin mengetahui penyebab meninggalnya Umaro. Satu dua gue jawab diplomatis dengan bilang "sudah takdir". Karena hari itu masih berat bagi gue untuk mengingat scene menemukan Umaro. Gue masih menjerit keras, menangis, merajuk dan sebagainya.

Sampai akhirnya Abang membuat gue tegar, dengan bilang kalau Umaro syahid. Cara umaro meninggalkan dunia ini ada dalam hadist merupakan salah satu cara meninggal syahid. Kalau memang benar demikian, maka doa kami dalam nama yang kami berikan terwujud. Arsa Umar Syahid El-Qossam.

Asal Nama Arsa Umar Syahid El-Qossam...

Sejak menikah, pernikahan yang gue kira bagai kisan ciderella yang hidup bahagia selama-lamanya nyatanya menjadi babak baru ujian dari-Nya. Sejak menikah ujian yang tidak kalah berat adalah gangguan gaib dari jin kafir.
Makamnya Umaro Indah banget, meski jauh dari pantai tapi pasirnya cantik...

Berkali-kali gue harus mengalami kesurupan karena jin yang mengaku di kirim untuk menghancurkan pernikahan kami. Sesekali waktu mereka bilang karena ada wanita yang cemburu, di waktu yang lain mereka mengaku takut karena pernikahan kami akan membawa kebaikan. Entah mana yang benar, mulut jin tidak pernah bisa di percaya.

Berbagai Upaya pun kami lakukan, yang tentu saja upaya yang sesuai dengan Syariat. Mencari peruqyah Syar'i diantara bertebarannya para dukun yang mengaku ustadz. Susah-susah gampang, dari mulai keliling banjarmasin, keliling jogja, sampai Jakarta. Bukan hanya meresahkan karena terus membuat rumah tangga kami panas, mereka juga mengaku telah menghalangi kami memiliki anak. Hingga 6 bulan pernikahan, akhirnya gue berhasil hamil. Dan kami sepakat kelak akan menamainya dengan Umar (Umar jika lelaki, hUMAiRah kalau perempuan *tetep ada umar nya :D) Sosok sahabat yang sangat tegas hingga setan pun takut.

Kalau kata orang pamali memanggil nama janin, kalau gue dan suami pasrah. Ini ujian keimanan, apakah kami percaya Mitos atau percaya pada Allah. Karena kami yakin segala sesuatu sudah Allah tuliskan.

Semula nama yang disiapkan terlebih setelah tahu kalau janinnya laki-laki adalah Umar Izzuddin Al-Qossam. Entah kenapa Abang begitu mengidolakan nama dari Mujahid Palestina yang namanya dijadikan Sayap Militer Hamas. Namun menjelang HPL saat kami jalan-jalan ke Mall (yang hampir tiap hari sepulang kerja demi isterinya olahraga) kami melihat sebuah iklan film di bioskop yang pemerannya adalah "HAMAS SYAHID IZUDDIN". Pemeran utama film KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi).

Dan tahu-tahu tercetus nama "Umar Syahid Al-Qossam". What?! Nama anaknya di ambil dari nama artis. Gue cuma geleng-geleng gak setuju. Tapi sampai anaknya lahir pun tetap kekeuh dengan nama itu. Tapi biar namanya ada aksen Indonesia gue minta di tambah Arsa depannya. Nama yang di ambil dari bahasa Jawa yang artinya kebahagiaan. Karena gue mau anak ini membawa kebahagiaan setelah jatuh bangun rumah tangga yang masih seumur jagung karena gangguan ghaib.

Jadilah nama Arsa Umar Syahid El-Qossam (al diganti El biar lebih luwes) setelah minta pendapat ke ahli bahasa arab khususnya supaya nama ini ketika di rangkai punya arti. Sempat kakak ipar yang menterjemahkan nama tersebut bertanya memastikan, yakin dengan nama Syahid? Namanya bagus, tapi gak semua orangtua siap loh kehilangan anak dengan cara yang membuatnya Syahid. Karena mati syahid meski cita-cita utama muslim, kadang caranya gak biasa (Bayangan gue suatu hari Umaro akan pergi ke Palestina dan berjihad di sana :D). Tapi kami yakin.

Dan karena sudah jatuh cinta dengan nama ini, sejak tahu gue hamil lagi sempet bilang ke Abang kalau anaknya laki-laki lagi kasih nama Utsman. Panjangnya Arsa Utsman Syahid El-Qossam. Singkatannya sama, beda di U nya ajah. Jadi kalau manggil anak-anak tinggal panggil Trio Arsa atau Trio El-Qossam.

Tapi kemudian sejak Umaro meninggal, ada banyak yang hubungi gue. Katanya namanya keberatan. Next kasih nama anak hati-hati dsb. Padahal nama Umaro diberikan penuh dengan doa. Dan entah bagaimana seputar mitos "keberatan nama" gue dan suami meyakini kalau Allah sudah menuliskan semua takdir manusia lengkap dari lahir sampai kembali waktu yang di tentukan.

Perasaan Bersalah...

Kehilangan bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi. Tahukah yang membuat rasa itu terus terasa menyakitkan? Yaitu perasaan bersalah. Dan perasaan itu tanpa harus di ingatkan orang lain akan terus menghantui. Jadi tidak perlulah mendikte "harusnya begini" atau "harusnya begitu". Bagaimana pun juga semua ini memberikan kami pelajaran. 

Yang paling menyakitkan selain urusan "Keberatan nama" ada juga yang menyalahkan gue (khususnya) karena sering mengupload foto Umaro. Dan menyimpulkan Umaro terkena penyakit 'Ain. Dengan sopan (meski hati terluka) gue sampaikan kalau semua itu takdir. Tapi entah dengan hati seperti apa di jawab lagi kalau meninggalnya adalah takdir tapi caranya bisa disebabkan oleh 'Ain.
Umaro Suka Banget kalau di ajak berenang hehehe...

Langsung saja saya minta yang bersangkutan mencari tahu hadsit tentang meninggal tenggelam. Dan mengucapkan terima kasih lalu case closed. Gue baru mau bangkit, jadi gak mau di bikin jatuh lagi. Dan itu terjadi belum ada seminggu setelah Umaro meninggal.

Alasan untuk Bangkit...
Acil (bibi) yang bantu-bantu di rumah beberapa waktu belakangan ini bertanya sama gue. "Bu, selama ini anak ibu ada lah sakit-sakitan atau rewel gitu?" Gue jawab sambil tersenyum, "Alhamdulillah gak ada."
Salah satu bentuk Dukungan Ayahro, ketika gue minta dibelikan buku mewarnai beserta pinsil warna untuk terapi...

Selama ini Umaro hampir gak pernah rewel, begadang dsb. Tetangga sebelah sampai tanya waktu newborn Umaro "Mba Umaro kok kalau malam saya gak pernah denger suara tangis Umaro?" gue jawab dengan santai "Ya karena emang gak pernah bangun hehehe"

Umaro hampir tidak pernah begadang, rewel panjang, selalu hepi, bahkan sakitpun tetap ceria. Semua itu gue anggap sebagai hadiah dari Allah atas upaya yang kami upayakan sejak Umaro masih dalam kandungan.

Karena gue pernah membaca artikel, kalau selama hamil ibu dalam keadaan tenang (tidak stress) anaknya tenang di perut dan lahir menjadi anak yang juga tenang. Jam tidur dan makan juga harus di kontrol saat makan. Ibu yang suka ngemil malam atau insomnia dan akhirnya begadang juga berpotensi melahirkan anak yang lapar di malam hari dan suka begadang.

Maka dengan mengingat adiknya Umaro dalam perut, gue harus segera bangkit. Gak boleh gila membantah kenyataan berlama-lama. Adiknya sama seperti Umaro, berhak mendapat kehidupan nyaman selama di rahim. Maka keputusan gue bangkit yang pertama adalah untuk Adiknya. Ketika orag-orang bilang Adik Umaro adalah pengganti dari Allah. Maka gue menolak besar. Adik Umaro adalah anugerah lain dari Allah untuk kami. Kami tidak ingin membayang-bayangi Adiknya dengan bayang-bayang Umaro. Karena akan jadi beban baginya. Setiap anak itu istimewa, mereka puny haknya masing-masing. Tidak perlu jadi bayang-bayang siapapun.

Kemudian gue juga gak mau menyusahkan suami terlalu lama. Dia juga sama merasa kehilangan seperti gue. Bahkan mungkin demi gue abang berusaha kuat, menahan luka dan air mata. Sampai akhirnya gue tanya Abang dan tawarkan untuk menangis bersama. Gue gak mau abang memendam semuanya dan malah jadi penyakit. Makanya akhirnya gue putuskan untuk mengajaknya ke dufan atau transtudio Bandung saat kami putuskan ambil cuti dan pulang ke Jakarta untuk mencari suasana baru. Gue paksa suami naik wahana-wahana ekstream (padahal abang takut ketinggian hehehe) biar bisa teriak dan meluapkan emosi.

Tapi ada ajah ya orang yang nyinyir, yang mikir kok kami bisa ceria liburan padahal baru seminggu berduka. Mereka hanya tidak tahu, bahwa kami hanya mencari cara untuk melewati luka ini. 
Perjalanan ke Transtudio Bandung

Alasan lain gue harus segera bangkit adalah untuk orangtua gue. Mereka sudah terlalu banyak masalah. Bahkan mama yang gue sering berdebat denga beliau menjadi orang yang paling membuat gue haru. Karena sebelum gue pulang ke rumah mama dengan lukanya meredam suara miring tetangga yang usil bergosip tentang keluarga kami. Meminta mereka diam tidak bertanya sama gue dan mengorek luka lebih dalam.

Alasan yang tidak kalah penting adalah demi diri gue sendiri. Gue harus bangkit, muhasabah, kembali menjalani hidup, kembali berkarya, dan terus berupaya bertemu dengan Umaro lagi. Saat gue meratap ingin ikut Umaro, ingin loncat ke dalam liang lahatnya Abang cuma bilang dengan nada santai "Bunda mau nyusul Umaro? Yakin ketemu Umaro? Dia mah enak meninggal belum ada dosa Bun, surga jaminannya. Lah kita?" Aaaargh gue iriii, kenapa ayahro bisa tetap santai?? Tapi entah hatinya, mungkin sekalut gue.

Bener, gue harus nabung. Biar bisa ketemu Umaro lagi...

Berdamai Dengan Luka...

Mungkin Allah sudah menyiapkan hati gue selama ini. Kehilangan-kehilangan kecil satu persatu sejak usia muda. Dan namanya ujian pastinya akan bertambah berat dari masa ke masa. Kalau kata temen di grup karena hadiahnya berupa surga makanya berat, coba kalau hadiahnya kupon diskon :D


Status Ayahro dulu saat di Bully Bawa Umaro Dengan motor hujan-hujanan...

Yang perlu gue lakukan adalah berdamai dengan luka ini. Memeluknya, menerimanya dan kemudian ikhlas berjalan bersamanya. Karena kalau gue menolak, gue gak akan bisa melangkah kedepan. Gak bisa nabung untuk ketemu Umaro di Surga.

Gue gak akan mencoba melupakan Umaro, karena bagi mereka yang mati. Mereka hanya tetap bisa hidup di hati dan pikiran orang yang masih hidup. Sementara mengobati luka ini dengan berkarya. Menulis lagi (sebagai terapi juga), mendongeng lagi, tersenyum lagi, dan terus bermanfaat bagi orang lain lagi. 
Mendongeng untuk donasi Palestina membuat gue ketampar, bahkan wanita/ibu di sana kehilangan putra dengan cara yang lebih menyakitkan...

Semua orang punya masalahnya masing2, diberi berdasarkan kemampuannya. Kalau ujian yang Allah kasih membuat kita semakin menjauh dari-Nya artinya ujian dari Allah sudah gagal, gak mempan. Allah kan kasih ujian karena mau hamba-nya kembali dan lebih dekat dengan-Nya. Jangan merasa paling menderita, karena kalau kita dengar kisah orang lain, bisa jadi kisah mereka lebih berat dari kita...

59 komentar:

  1. Mbak, saya bingung mau nulis apa.. Yang jelas, terima kasih sudah membuat saya banyak belajar dari tulisan Mbak... Semoga Allah selalu meridhoi Mbak sekeluarga.

    Hanya doa yg bisa saya panjatkan untuk Umaro, yg insya Allah sudah nyaman di sisi-Nya. Semoga Mbak dan Adiknya Umaro tetap semangat dan sehat ya..

    BalasHapus
  2. Berebes mili aku Pitaaaaa... Ya Allah, Allah biarkan aku menangis mengenang Umaro tersayang. Semoga Pita dan sekeluarga diberi kekuatan dalam kesabaran. Semangat menyambut adiknya Umaro :)

    BalasHapus
  3. Banyak yg saya skippp. Saya terlalu baper..dan gak tega bacanya. Hampir aja nangis.. mungkin kalau saya full baca akan berderai...
    Kalau saya ada di posisi mbak saya juga akan sama. Semua memang takdir. Terkadang bukannya kita tidak waspada...

    BalasHapus
  4. Terima kasih buat tulisan ini mba. Semoga bisa menjadi penguat buat mba yg nulis dan buat saya yg membaca.
    Semoga keluarga mba terus diberikan berkat berlimpah dari Sang Kuasa.

    BalasHapus
  5. Mbak, meskipun ini pertama kalinya saya mampir ke blog ini tapi saya rasanya pengen peluk Mbak. Semangat ya Mbak, dan benar menulis adalah salah satu terapi untuk mengobati luka :)

    BalasHapus
  6. Hi mba pita, pertama sy mengucapkan belangsukawa yg sebesar2nya atas kehilangan umaro. Saya tau psti ini tdk mudah. Saya membaca cerita mba merasakan sedih yg paling dalam. Terimakasih sdh berbagi mba. Doa saya untuk mba & kel semoga selalu dikuatkan dan dlm lindungan Allah SWT. Keep strong..

    BalasHapus
  7. Haru bacanya. Semoga kalian dikumpulkan kembali di syurga Allah.

    BalasHapus
  8. Semangat Mbaa.. Demi orang-orang yang Mba cintai dan yang mencintai Mba.. :)

    BalasHapus
  9. Mba... Ikut berdukacita yaa.. Aku nangis baca ini. Sediiih banget. Lgs inget ama anak sendiri.. Aku yakin mba dan suami bisa kuat.. :) Demi si kecil yg msh di kandungan juga..

    BalasHapus
  10. Aku dah terasa nyeri di dada, buru buru kupeluk abhi yang sedang tidur. Ya Allah, semoga diberi kekuatan untuk menerima semua takdir ini ya mbak. Peluk dari jauh

    BalasHapus
  11. Bisa saya bayangkan dukanya... Innalillahi wa Innalillahi Roji'un 😢

    BalasHapus
  12. Semoga mb Pita selalu diberi kesabaran dan keikhlasan oleh Allah swt

    BalasHapus
  13. Salam kenal mba.. Ngerembes ini air mata bacanya.. apalagi aku baru punya anak setelah menanti cukup lama. Ngebayangin rasa kehilangan mu bikin dada ikut sesak. In shaa Allah Umaro tenang di sisi Allah SWT.. tetap semangat untuk dedek bayi ya mba.. *peluuukk erat

    BalasHapus
  14. Kuat kau kak Pita..Hugs from here..aku banyak belajar dan terdiam seribu bahasa ketika mencoba memahami perasaan Kak Pita lewat tulisan ini..wlpun belum bertemu dengan Umaro..Tapi saya juga merasakan rindu melihat foto bahagianya bersama Kak Pita dan Suami..Kita yakin dan percaya Umaro sudah nyaman bersama Sang Pencipta. 😊

    BalasHapus
  15. Mbak turut berduka cita ya
    Nangis saya bacanya. Luar biasa ketegarannya mbak
    Umaro pasti tersenyum melihat bundanya bangkit seperti ini
    Sehat terus ya mbak

    BalasHapus
  16. Salam kenal mba de pita, ternyata kita sempet ketemu pas aku salaman ama uni maimon. Ada raut sedih, jadi aku pun bingung mau nyalamin mba juga.

    Aku juga ga bs ngebayangin mba, klo mengalami hal yg sama..

    BalasHapus
  17. Baca ini seperti terbawa 5 tahun lalu..smoga kbaikan selalu menyertaimu ya, pit

    BalasHapus
  18. Peluk erat buat kamu mb. Saya turut berbela sungkawa ya. Semoga diberi kekuatan selalu

    BalasHapus
  19. Semoga Umaro ditempatkan disisi yang baik bersama-Nya, kelak bisa menjadi penolong bagi kedua orang tuanya :')

    BalasHapus
  20. semoga lancar kelahiran adeknya umaro ya mak

    BalasHapus
  21. Mba Pitaa, tetap kuat ya mbaa, sehat2 lancar2 semuanya sampai adik lahir nanti.. Umaro gak akan kemana2, dia akan slalu ada di hati mba pita dan keluarga... Pelukk

    BalasHapus
  22. Pitaaaaa.... speechless, sekarang aku tau kenapa Allah memilihmuuu...big hug, aku nangiiiiss membacanya, suatu saat aku ingin bertemu denganmu.. belajar arti sabar dan mengikhlaskan.. semangat ya sayaangg, semoga sehat sampai melahirkan.. aamiinn..

    BalasHapus
  23. Terus kuat ya Mba', ada Allah bersama hambaNya. Terima kasih untuk tulisannya, jadi pengingat untuk saya agar senantiasa bersyukur dan bersabar. Semoga Allah limpahkan kebahagiaan dan kesehatan untuk Mba' sekeluarga, Aamiin.. :)

    BalasHapus
  24. Mba.. aku merasakan tulisan bisa membuatmu sedikit lega ya mba.. kami menantimu utk seseruan bareng kita lagi disini.. semangat nabung ya bundaro.. semangat dan sehat selalu

    BalasHapus
  25. Hai Mbak, virtual hug dulu yuk kita. Selalu pengen saling menguatkan deh kalau ada seorang ibu yang kehilangan anaknya, karena aku pun pernah begitu. Semoga seluruh kesedihan, emosi, dan energi negatifnya bisa disalurkan pada sesuatu yang baik ya. Nulis salah satunya. Kehilangan memang pahit tapi dengan begitu kita jadi tahu bahwa anak adalah titipan dimana kita punya batas waktu sendiri-sendiri untuk diamanahi menjaga titipan kita.

    BalasHapus
  26. Sejujurnya saya yakin klo saya d posisi mba blon tentu kuat kaya mba saat ni, tp sy cuma bisa mendoakan supaya mba diberikan kekuatan dan menjalani hari dengan kebaikan agar bisa dipertemukan oleh umaro nanti di akhirat kelak

    BalasHapus
  27. Tetap kuat mba. Allah selalu bersama. Aamiin

    BalasHapus
  28. Jangan lupakan Umaro, namun tetap fokuskan pada adiknya yang saat ini sangat membutuhkanmu Mbak.
    Allah Maha Tahu yang terbaik, meski rasanya tidak benar.
    Membaca ini, saya jadi ingin memeluk buah hati, menyalurkan semua cinta. Terima kasih sudah membaginya. Saya tahu, itu pasti tidak mudah

    BalasHapus
  29. Mba Pita...
    Kecup sayang dari saya *yang sok kenal*

    Semoga Allah mengizinkan pelangi indah menghiasi hari-hari mba Pita.
    ^^ in syaa allah.

    BalasHapus
  30. Mbak Pita benar, jangan sekali-sekali berusaha melupakan Umaro, tapi lupakan saja kesedihannya atau pun mencari penggantinya krn dia tak terganti. Bangkit untuk sesuatu yg besar yg sudah disiapkan oleh Allah. Thanks Mbak, sudah memberikan pelajaran bagi saya

    BalasHapus
  31. Saya ga tahu harus komentar apa, saya baca dari atas sampai bawah. Semangatnya mba, cuama bisa menyemangati.

    BalasHapus
  32. Hanya manusia pilihan yang diberi ujian seberat itu, Insya Allah balasan surga menanti mbak

    BalasHapus
  33. *Peluuuuuk mba Pita. Allah punya rencana yang indah. Umaro sudah berada di tempat terbaik di sisi Allah.

    Saya hanya bisa kasih semangat buat mba Pita dan ayahnya Umaro.

    Tetap kuat dan tabah ya mba. :*

    BalasHapus
  34. Mbk pita udh mkan ? Jgn lupa mkan ya mbk,
    Big hug for u mbk pita,

    BalasHapus
  35. Pita sudah menuliskan semua jawabannya di artikel ini. Insya Allah Pita dan suami bisa menjalaninya penuh ikhlas. Amin.

    BalasHapus
  36. Gerimis bacanya mbaak.. umaro pasti bangga Dan berbahagia karena mempunyai ibu spt Mbak.. tetaplah menginspirasi Mbak..

    BalasHapus
  37. Salam kenal mbak pita. Bingung mau ngomong (nulis) apa saking ikut haru birunya. Big hug.

    BalasHapus
  38. Mba baca tulisannya mba bikin aku flashback ke 2,5th silam. Aku juga berpisah dengan anak aku yg kelahirannya sudah kunantikan hampir 5th lamanya. Nama umaro juga mirip dengan nama anak aku Omar. Kalau dibilang orang punya tabungan di surga, aku sendiri juga memilih mending ga punya tabungan drpd berpisah sama anak sedini itu,masuk surganya dari cara yg lain aja deh. Yah tapi apalah kita ini yg cuma dititipi , nyawa sendiri juga bukan milik kita tapi milik Allah SWT. Kepedihan itupun masih aku rasakan sampai sekarang, tapi tidak ada cara lain, life must go on. Kudoakan mba tetap kuat, suami juga. Semoga adiknya umaro lahir sehat dan panjang umur untuk nemanin papa mama terus. Aamiin

    BalasHapus
  39. Baca ini malem2, ngantukku hilang. Jadi mewek. Duh, alm. Umaro lucu banget, Mbak. InsyaAlloh nanti ketemu Umaro di Surga, ya, Mbak. 😇😇😇

    BalasHapus
  40. Terimakasih sudah dengan sekuat tenaga menulis tentang ini mbak pita, meskipun saya tau dengan menulis ini pasti kenangan itu muncul lagi. Tapi dari tulisan ini kami banyak belajar, bahwa nggak seharusnya kita bertanya kenapa. Nggak seharusnya kita begini dan begitu ketika menghadapi orang yang sedang berduka.

    BalasHapus
  41. Nggak bisa nulis apa-apa. Aku cuma pengen peluk mbak Pita. Mbak Pita luar biasa :) #mewek subuh2...

    BalasHapus
  42. Mba Pita smg sll sehat n kuat jalaninnya butuh waktu u/ memulihkan mmg ttp semangat y mba adik Umaro ttp sehat jg aamiin

    BalasHapus
  43. Neng Pita, baca postinganmu rasanya tak kuat membacanya sampai akhir. Tak terbayang kehilangan putra yang sedang begitu lucunya. Seberapapun hati-hatinya kita, kadang kecelakaan tetap terjadi. Itulah takdir. Itulah tantangan Allah untuk menguji keimanan kita. Anak adalah titipan. Kita berbahagia saat menerima amanahnya. Tapi mesti ikhlas saat mau tak mau harus melepasnya. The wound might never heal, tapi Pita punya kekuatan untuk membawa cahaya lewat dongeng Pita dan tulisan Pita. Keep being who you are. A strong loving woman. Biarlah orang mencibir. Mereka bukan kita. Bicara itu memang mudah dibandingkan berbuat. Keep the faith. Umaro sudah di sisi Allah yang baik. Bukankah itu satu sumber kebahagiaan pula? Mengetahui anak kita akan masuk jannah tertingginya, menjadi orang pilihan mendahului kita? Things will be okay if you let you heart heal. Bayangan si kecil akan selalu ada. Jadikanlah bayangan itu penghangat jiwa tentang satu masa ketika Allah memberikan kesempatan memiliki seorang malaikat kecil. He's there with our creator. Happy. And that's all what matters. Cheers and love - Nadiah (temanmu di FLP Bekasi)

    BalasHapus
  44. mbak Pita, aku belajar banyak sekali dari tulisan ini, entah berapa banyak dosa yg hilang diterpa dgn ujian seperti itu.
    Semoga suatu hari kita bisa bertemu ya mbak, sehat selalu :)

    BalasHapus
  45. Mbak turut berduka cita atas kepergian si ganteng Umaro. Sekaligus kagum, mbak bisa sebegitu kuatnya. Semoga sehat selalu ya Mbak, debay di perut juga sehat2 yaa.. Semangat terus Mbak :)

    BalasHapus
  46. Setuju, mbak. Karena tak ada yang tak berubah oleh waktu. Dan, tak perlu memaksa luka bergegas berlalu. ia akan beranjak sendiri seiring waktu.

    Berdamai dengan luka adalah keniscayaan, dan kita hanya kita yang bisa memutuskan.

    Peluuk, mbak...

    BalasHapus
  47. I feel you mba, saya juga kelak ingin sekali jika akhir hayat dimandikan oleh orang-orang yang menyayangi saya..seharusnya gausah dilarang ya, tapi dikasih kesempatan..wallahualam. semoga tabah dan Allah SWT makin menyayangi mba sekleuarga dan almarhum husnul khatimah. Insyaallah sih udah pasti kalau itu ya, karena dik Umaro blm baligh saat berpulang..

    BalasHapus
  48. Salut dengan semangat Mbak Pita.
    Iya, setiap orang punya masalah sendiri dan ujian pun sendiri, tinggal bagaimana setiap diri menjawab ujian itu, menolak atau menerimanya.
    Salut buat Mbak, bisa bangkit dan terus berkarya!
    Walau baru kenal, saya sampaikan salam hangat buat Mbak!

    BalasHapus
  49. Salam peluk buat Mbak Pita :"

    BalasHapus
  50. Pita pita pitaaa.. tulisanya bikin tenggelam jd dirimu.. jd merasakann apa yang pita rasakann..hikshiks hisks

    BalasHapus
  51. aku banyak belajar ikhlas dari tulisan ini.. *peluk

    BalasHapus
  52. Speechless gw, Piiiit.
    Sayang waktu kalian ke Bandung, kita nggak bisa ketemu ya.

    BalasHapus
  53. Allah akan memberi kekuatan pd org2 bertaqwa spt mba pita... semoga mba & kel selalu diberikan perlindungan & kebahagiaan, al fatihah utk umaro sang ahli syurga... #peluk

    BalasHapus
  54. Aku malah kagum dengan pita yanh tidak mau lama-lama tenggelam dalam kesedihan. Sehat terus ya bumil dan bayinya

    BalasHapus
  55. Semoga Allah swt.memberi pahala atas kesabarannya dan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat untuk Mba Pita sekeluarga. Terima kasih sudah mau berbagi cerita. Saya mendapatkan banyak pelajaran dan hikmahnya.

    BalasHapus
  56. Yang sabar mbak. Hanya heran saja dengan mereka yang kepo nggak pada tempatnya ini. Apalagi yang sampai menyalahkan. Sebagai ortu, saa yakin semua pasti sudah mengupayakan keselamatan anaknya.

    Satu hal yang harus mereka tahu, menjaga batita yg super aktif itu bukan hal mudah. Bahkan hanya lengah beberapa detik saja mereka sudah hilang dari radar. Kayak anak saya, ditinggal 2 menit ngelayanin pembeli, dia sudah kesedak tempe goreng yg ternyata dikasih sama pembeli. Baru diajak orang ngomong semenit saja, eh mulutnya sudah ngemut peniti.

    Jadi, sungguh sangat melukai ketika kita tengah berduka sementara mereka sibuk menyalahkan. Semoga mbak makin kuat ya. :)

    BalasHapus
  57. Aku nggak sanggup bacanya mbak... Semoga Allah berikan mbak Pita rejeki barokah yang luar biasa setelah ujian ini. Aamiin Allahumma Aamiin. Saya nggak bisa baca sampai selesai, nggak mampu...

    BalasHapus
  58. masyaAllah,terima kasih pencerahannya kak pita.

    Terus melangkah dan berkarya

    BalasHapus
  59. Bundaro kuat ya buat calon baby. Insyaallah Umaro bahagia disana (surga).

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger FLP

Kumpulan Emak Blogger

Female Blogger Banjarmasin

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan