Follow Us @curhatdecom

Kamis, 24 November 2016

Wow Sekarang kamu Modis. Kemana Hijab Lebarmu?

Disclaimer: Tulisan ini gak ada maksud untuk menyudutkan pihak manapun. Ini murni kisah gue pribadi tentang pasang surutnya Iman gue. Juga tentang kisah pencarian jati diri dari seorang "Gue".




Beberapa waktu lalu suami gue "ngomongin" temannya. Dia merasa "bingung" kenapa temannya itu dulu berhijab rapat sekarang tampil modis bahkan 'seksi' dengan hijabnya. Bahkan pandangannya terhadap Islam yang dulunya militan sekarang jadi semacam 'seadanya' (duh maaf banyak tanda petik, gue bingung ngungkapin dengan kata-kata yang tepat).

Well gak ada maksud menggurui, apalagi gibah tentang doi. Karena pembicaraan itu cukup sampai disitu. Tapi gak dengan gue, karena akhirnya gue berasa flash back kek di pelem-pelem gitu. Gue jadi teringat masa-masa pertama kali akhirnya memutuskan berhijab.

Yes, gue TAU perintah Allah kepada muslimah untuk berhijab sejak SD kelas 6. Waktu itu kakak perempuan gue yang nomor dua sudah lebih dulu berhijab saat masih SMA dan mulai aktif di kegiatan Rohis. Dan kayaknya sih orang pertama yang jadi ladang dakwah doi itu ya adik perempuan satu-satunya ini. Gue yang emang selalu exited dengan hal-hal baru merasa gue juga harus bergerak biar kekinian. Apalagi gue udeh baligh saat duduk di bangku kelas 5. Maka keputusan pakai hijab akan gue mulai saat SMP. Terlaksana? Gak sih, soalnya ternyata waktu daftar sekolah emak sama babeh keburu pesan lengan pendek semua. Ya udah deh di undur lagi ajah keinginan berhijab. Lah bisa gitu? Ya namanya juga ABG dengan pemahaman yang masih sepermukaan air itu.

Gue lulus SMP dengan membawa catatan hitam yang lumayan bikin malu keluarga karena salah pergaulan. Sampai akhirnya gue di kasih pilihan mau masuk Pesantren atau masuk SMK. Jaman itu sih ya, boro-boro solat ngaji ajah gak pernah. Belum lagi ada anak pindahan dari pesantren yang bawa cerita horor. Yang katanya kalau di pesantren setiap hari ada uji nyali. Setiap hari di kasih lihat penampakan hantu. Trus klo lagi berantem gak kayak ABG di sinetron yang maen dorong-dorongan. Tapi kalau berantem mereka kirim-kiriman bola api. Malah gue di kasih tahu bacaan dari Al Qur'an yang bisa bikin kita punya jin peliharaan. What?! Gimana gak horor tuh? Tapi setelah paham konsep pesantren beberapa tahun kemudian gue yakin doi cuma lebay biar di cap keren sama temen-temen barunya atau emang pesantrennya abal-abal makanya doi di pindah ke sekolah umum.

Akhirnya gue putuskan masuk SMK deh. Nah kisah hijrah gue akhirnya dimulai di masa putih abu-abu ini. Eciiieeee...

Gue pakai hijab tepatnya kelas 1 semester 2 (kalau gak salah). Waktu itu ceritanya gue naksir kakak kelas gue (tapi dianya enggak! Ngenes!). Nah kalau anak SMK gitu kan ada masa-masa PKL (Praktek Kerja Lapangan). Doi gak tanggung-tanggung di kirim PKL nya ke Malaysia bo! Dan gue untuk menunjukkan ke doi bahwa gue setia, gue putuskan pakai hijab (dulu nyebutnya masih jilbab). Why? Soalnya kalau pakai hijab gak boleh pacaran. Ada temen gue anak rohis sampai di sidang sama senior gara-gara pacaran. Dengan pakai hijab gue gak mau di pacarin. Gue cuma nunggu doi ajah sampai balik.
Jangan Tanya Kenapa Gue Foto di Toilet (gue juga gak tau kenapa)

Tapi konyol sih alasan gue. Lah trus kalau doi pulang doi boleh gitu macarin gue? Atau gue harus lepas hijab gitu agar doi bisa macarin gue? Yang lebih penting, emang siapa yang mau macarin gue? Kepedean abis! kwkwkw

Lanjut dulu ah...

Akhirnya gue putuskan berhijab. Pakai hijab lungsuran kakak gue. Awalnya hijabnya pendek ajah. Dan bisa di bilang ajaib kali yak. Soalnya gue emang dasar kepedean atau pegimane gitu, gue saking cintanya sama dasi sekolah yang mana pada waktu itu banyak di remeh temeh sama temen-temen gue tetep gue pake meski pakai jilbab. Padahal ada beberapa teman yang sengaja pakai seragam muslim biar gak usah pakai dasi. Cuma gue deh yang pada saat itu pakai hijab di masukin ke dalam kemeja sekolah, kemeja sekolah masuk kedalam rok, tetep pakai iket pinggang yang lebar, trus tetep pake dasi. Kata temen-temen gue "AJAIB" kwkwkw.
Setiap wanita ingin terlihat cantik

Trus seiring berjalannya waktu (tsaaaaah) gue lihat kok temen-temen rohis terlihat cantik dan anggun dengan hijab panjangnya. Kakak perempuan gue juga memulai dengan hijab panjangnya. Trus gue mikir juga, kalau gue berhijab panjang jika suatu saat gue "tersesat" setidaknya gue gak boleh sampai lepas hijab. Kalau hijab gue pendek jangan-jangan suatu saat gue punya pikiran "lepas ajah deh, masih pendek ini". Setidaknya kalau panjang dan gue suatu saat tersesat mungkin yang terjadi gue hanya akan memendekkannya saja.

Gue berasa jadi tukang ramal karena ternyata prediksi gue tepat.

Waktu SMA sih gue emang berasa kontroversi hati gitu. Hijab lebar gue membawa gue ke teman-teman Rohis. Tapi kecintaan gue terhadap musik dan kesenian belum bisa gue lepas. Gue masih aktif nyinden di ekskul Lenong Gambang Kromong sekolah. Tampil dari panggung ke panggung. Dan tatapan aneh terus gue rasakan karena kok ada sinden yang berhijab lebar? Suara itu aurat jeng...

Jangankan nyanyi, suara gue yang udeh kayak Toa ajah sering jadi bahan omongan. Gak cuma nyanyi loh, pengalaman yang gak kalah spektakuler buat gue adalah jadi pemimpin upacara hampir di tiap upacara sekolah. SMK gue minim cowo, dan kebanyakan anak cowo itu kan paling males disuruh jadi petugas. Meski gue udeh ngumpet di barisan kakak kelas atau adik kelas entah kenapa senior Paskibra sekolah selalu tahu posisi gue. Kayak punya radar gitu.

Punya suara toa dengan basic baris berbaris yang bisa di bilang bagus karena aktif di OSIS dari jaman SMP mau gak mau deh. Dan serius aneh tau di tengah lapangan teriak-teriak dengan jilbab yang ikutan berkibar kek bendera yang siap di kerek (hijab gue waktu itu sampe betis).

Dan sejak masuk Rohis niat gue berhijab mulai di luruskan lagi (dan gue berasa jadi PR besar buat senior Rohis yang suka geleng-geleng kepala liat kelakuan gue hihi). Bukan karena cowok tapi karena Allah. Karena berhijab memang kewajiban muslimah, sama wajibnya dengan Solat. Bukan karena panggilan hati. Gak percaya? Yuk buka lagi Al-Qur'an...Tapi gue sadar 100% kalau gue ngerasa kuraaaaaaang banget ilmu agama. Dan keputusan gue gak masuk pesantren menyisakan penyesalan yang 50:50, alias nyesel gak nyesel. Kalau jadi masuk pesantren mungkin gue berhijab tapi hijab yang di paksakan. Entah Allah kasih hidayah yang sama atau gak. Dan karena merasa kurang itu gue putuskan ke KUA (Kuliah Urusan Agama) alias pilih kampus yang Islami gitu.
eh ternyata masih ke save foto inagurasi nya hihi (jangan tanya kenapa gue kurus plis)

Dikampus ini gue kira akan menemukan secercah harapan. Gue akan bertemu orang-orang salih yang bisa membawa gue ke jalan yang lebih baik (ngarep juga dapet suami ustadz kwkwkw). Tapi ternyata di kampus ini gue justru menjadi BSH (Barisan Sakit Hati).

Dimulai dari inagurasi memasuki Organisasi kampus yang sejalan dengan Rohis Sekolah. Gue yang emang hapalan pas-pasan "dipaksa" mengikuti games. Jadi Gamesnya gue berjalan ala permainan ular naga gitu dengan mata di tutup slayer. Ehm... dan gue agak curang. Karena slayer gue gak tebel-tebel amat sih. Nah di games itu ceritanya ada games hapalan berantai. Setiap orang membacakan satu ayat, dan setiap berhenti di gue ayat itu berhenti.

Tau gak apa yang di lakukan para senior akhwat itu? Mereka sok-sokan marah "Ya Ampun dek gitu ajah gak bisa" ala-ala osis sekolah. Bagi gue sih lagu lama yak, gue jaman SMK malah bisa lebih galak dari mereka. Cuma yang gue gak habis pikir mereka tuh ketawa-ketawa gitu. Iya oke Gue B**o (sori gak biasa ngomong kasar, kalaupun pernah sebisa mungkin cuma dalam hati ajah). Tapi ini yang kalian sebut Ukhuwah? Gile pedih amat rasanya.

Belum lagi punya temen asrama satu lorong, satu fakultas, satu angkatan cuma beda jurusan yang sama-sama di organisasi itu. Bo, kalau ketemu di lorong ketusnya minta ampun. Gue gak pernah di sapa, tapi kalau di kampus lagi bareng temen-temen Jilbabernya baru deh gue di sapa "Eh Pita apa kabar?" di lanjut cipika cipiki. Waktu itu dalam hati gue teriak "Amiiiiit..." eh sekarang mah dah slow ajah sih. Gue anggep orang-orang yang gak tulus gitu cuma opnum. Jangan salahkan jilbabnya. Dengan atau tanpa akhlak tercela bukan salah jilbabnya. Tapi memang salah pribadinya yang memang "kurang tulus" gitu ajah hihihi.
Mulai manjangin jilbab lagi
Salah satu alasan memilih masuk organisasi itu pun karena ternyata di kampus bertebaran banyak aliran dan organisasi politik yang bagi gue "jahat" (gue kurang suka politik). Jadi bagi gue lebih aman pilih organisasi yang kurang lebih sama dengan Rohis sekolah. Walah akhirnya karena kecewa dengan ikhwah gue memutuskan mundur dan mencari kegiatan baru sesuai passion gue. Dan gue bergabung dengan Paduan Suara (asli kontroversi banget yak hihi).

Nah kampus gue pada waktu itu gak sama masanya dengan kakak gue yang dulunya juga kuliah disitu. Dulu mah pakaiannya ala-ala santri semua. Pas jaman gue beugh udeh kayak Festival Fashion Week deh tiap hari. Apalagi trend berhijab mulai macem-macem. 

Karena memutuskan masuk paduan suara, gue pun tergoda untuk pakai hijab yang di hias-hias. Tapi prinsip gue satu "Tetap menutup Dada" (nah kan prediksi gue bener). Selain biar gak aneh ada jilbaber kok paduan suara, gue juga pengen kelihatan modis. Wajarlah gue kan cewek hehehe.


Dulu suka di protes kalau gak mau "lilit" hijab karena kelihatan dada. Makanya gue pengen jadi Conductor karena kostumnya bisa beda sendiri dan menyesuaikan (dan gak perlu nyanyi) 

Tapi cerita terus berjalan, perjalanan di paduan suara pun ternyata menyisakan sesak patah hati, kehilangan sahabat karena cinta, juga karena merasa gak di anggap karena gue kalah cantik kwkwkw. Impian jadi conductor berasa kaTryak di rampas gitu ajah. Gue pun keluar dan memilih asyik di radio kampus.

Dari situlah gue mulai banyak merenungi perjalanan hijrah gue yang luar biasa jatuh bangun, sendiri. Eh gak sendiri juga sih, ada satu orang sahabat yang udeh jadi tempat curhat gue dari A-Z. Dan sampe detik ini meski terpisah pulau gue kita tetap berhubungan. Sampe sering gue culik buat nemenin gue curhat sampe nonton atau malam mingguan ala-ala jomblowati kwkwkw.

Salah satu goal pemikiran gue itu adalah dengan model hijab yang aneh-aneh. Kadang sampe di lilit-lilit dan pentul selusin juga gak cukup. Malah saking anehnya ada Jipon. Jilbab tapi tetep poinia, laaaah yang di tutupin apanya.

Gue ngerasa kayak di tampar gitu. Susah-susah gue dapat hidayah agar berberhijab secara syar'i. Tapi kenapa akhirnya gue berpaling cuma karena mau terlihat cantik. Apalagi gue galau juga bolak balik patah hati (eh gak sering sih soalnya gue setia alias susah move on) dan jomblowati abadi. Lah trus kapan gue punya pacar dan nikah. Eh tapi kan nikah gak mesti dari pacaran.

Apakah akhirnya gue bisa mempertahankan hijab lebar gue? Gak juga sih hehehe. Karena ternyata gue kembali tergoda untuk tampil modis alias dengan gaya hijab kekinian. Sampai akhirnya gue bertemu jodoh gue.

Setelah menikah pelan-pelan gue kembali merapihkan penampilan. Suami memang bukan dari barisan pergerakan yang menuntut istrinya rapi dengan hijab syar'i. Malah pertama kali ketemu suami gue yang sempet galau pakai baju apa (biasalah mau pencitraan) akhirnya memilih to be my self ajah.
Percaya atau gak ini foto yang gue lampirkan di proposal ta'aruf kwkwkwx

Tapi entah kenapa sekarang memang lebih memilih tampil "rapi" dan gue nyaman, terutama suami ridho. Kadang gue suka tanya suami "Kalau aku pakai baju ini boleh gak" atau "Bagus gak" suka di jawab terserah. Tapi sering juga dia memberi pandangan mana yang lebih baik. Suami cuma minta hijab yang rapi tertutup dan tidak membentuk tubuh. Simple!

Sementara ilmu kami belum sampai ke pemahaman tentang cadar. Bukan tidak mungkin suatu saat gue di suruh cadaran sama suami. Ya gak papa juga sih, asalkan gue udah siap. Karena sifatnya yang tidak wajib jadi masih banyak pertimbangan. Lain halnya kalau wajib, gak usah nimbang-nimbang langsung laksanakan GRAK!

Yak, itulah sekelumit kisah tentang perjalanan hijrah gue. Apapun bentuk hijab kita saat ini itu keputusan kita. Hidup ini hanya soal pilihan kok. Makanya Allah siapkan surga dan neraka. Selama di dunia kita berproses untuk menentukan kemana kita mempertanggungjawabkan pilihan itu semua...

Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan ….(QS. An-Nur : 31)

20 komentar:

  1. Saya yakin, foto itu yg bikin taarufmu diterima, hihihi. Emang iman turun naik ya, tapi jilbab jgnlah ikut2an

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Aku suka tampil apa adanya :p

      Hapus
  2. Penampilan kita jangan ditentukan apa kata orang. Ya hrs diri kita sendiri dan be our self. ;) iya nggak mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi juga harus sesuai dengan syari'at bagi yang Muslim/ah :)

      Hapus
  3. Fotonya bikin yakin istri sholehah hihi, ayo Umaro jaga Bunda agar tetap hijab lebar ya, jangan pakai poni xixixi....

    BalasHapus
  4. mantaff mbaaa....lanjutkan perjuanganya...hehe
    salam blogger mbaa
    follback

    BalasHapus
  5. Beruntung sekali... Makin hari makin baik.
    Percaya gak percaya, soal orang yang berhijab mengikuti tren fashion itu udah saya prediksi sejak Fatin menang kontes mbak. Dan sayangnya prediksi itu tepat.

    Mudah-mudahan gak kejadian sama orang-orang terdekat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu pilihan hidup... Allah sudah punya reward terhadap masing-masing pilihan hehee

      Hapus
  6. Gambar terakhirnya itu... Happy banget mukanya ya mbak XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa sih? Mungkin itu yang bikin suami kecantol kwkwkw #plak

      Hapus
  7. Pit bener, kadang omongan orang yang pengen kita ukhuwahin dan merasa sejalur bisa bikin kita down gegara dia merendahkan kita, aku jg ngalamin. Tp aku ga mendekin hijab tp lbh kepada menjauhi org itu.. Emang temen gue dikit? Sana lo cari temen ndiri yg bsa dipedes2in hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah perjalanan membuat kita dewasa dengan porsi masing-masing #tsaaaaaah #NgomongApaSihGue :p

      Hapus
  8. Packaging emang penting ya Mbak, tapi beli hijabnya juga paling asik kalo tanpa hutang, tanpa riba dan tanpa riya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pake utang, saat terkibas angin bunyinya bukan plek..ke...plek... tapi dit...dit...dit... kredit :p

      Hapus
  9. kayak ngerasa tertampar baca ini -__- . jilbabku pun msh belang2 mbak... kdang pake, kadang lepas... aku pake kalo dikantor krn males nyepol rambut... tp diluar kantor aku blm bisa konsisten.. kdg2 make, tapi kalo lg hot2nya cuaca, lgs lepas... padahl kalo dipkir, neraka jauh lbh panas kan yaa :(... aku kenal jilbabmah udh dr smp, krn dulu sekolah di aceh, ya semuanya wajib pake jilbab di sana, mau ato ga, krn memang udh hukumnya... tp merantau ke jakarta, nth kenapa lgs buyar semuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling mendoakan semoga terus bertambah baik dan istiqomah #aamiin

      Hapus
  10. Hehehe... kakak kelas ke malaysia? Siapa yak? :D Dion? Salah yaa. Wkwkwkwk *sotoy mode on*

    BalasHapus