Curhat De: Filosofi Nyamuk...




Malam kemarin saya duduk-duduk bersama Emak dan Babe. Kalau sedang tidak ada yang dikerjakan, kami biasa duduk santai di teras rumah. Kalau tidak pagi hari, biasanya sore atau malam, pokoknya kapanpun kami bisa menyempatkan diri berkumpul bersama. Biasanya diantara obrolan kami selalu tersedia minuman dengan uap mengepul. Bisa kopi, teh atau terkadang sedikit istimewa minuman hasil 'chef' amatiran rumah kami.

Ada banyak hal yang bisa kami bicarakan. Terkadang tentang masa lalu, tentang cerita muda Emak atau Babe. Atau sesekali membicarakan masa depan, biasanya ini tentang anak-anak Emak dan Babe. Tentang aktifitas keseharian kami, tentang cerita lucu atau jengkel atau tentang apapun. Bahkan kami sering membicarakan tentang politik, sok berkomentar ala politikus. Tapi semua itu hanya pelengkap kebersamaan kami.

Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Babe menjerit mengagetkan kami semua. Ternyata penyebabnya adalah gigitan nyamuk pada betisnya. Entahlah, saya rasa sekuat apapun gigitan nyamuk rasanya tidak akan menghasilkan jeritan sekeras itu. Entah karena suara Babe yang pada dasarnya keras, atau karena rasa kaget, atau mungkin terlalu lebay ajah (ketiganya menurun kuat pada darah saya :D).

Selang sedetik setelah menjerit dan meronta (entah bagaimana menemukan bahasa yang tepat menggambarkannya :D) Babe berdiri dan berusaha menginjak sesuatu. 'Crooot' (maaf hanya efek untuk mendramatisir :D), terjadi pertumpahan darah di atas lantai. Nyamuk yang tadi berjuang mencari bertahan hidup kini telah tergilas dengan berlumuran darah hasil buruannya. Dengan rasa puas Babe kemudian kembali duduk."Kamu lihat tuh? Nyamuk barusan?"

"Iya, lihat. Kenapa emangnya Beh? Banyak juga dia nyedot darahnya." Kataku

"Iya, habis dia nyedot kebanyakan terbangnya jadi lambat dan gak bisa tinggi. Jadinya lebih gampang di tangkep. Itu koruptor yang ketangkep sama kayak nyamuk ini. Yang di korup kebanyakan, jadinya susah kabur."

Hm... ini bagian yang saya suka. Babe suka berfilosofi dengan apa yang ditemukannya. Itu juga yang menurun dalam darah saya. Maka siap-siap saya betulkan posisi duduk, biar tambah nyaman mendengarkan kelanjutannya.

"Nyamuk itu seperti parasit, hidup dengan meminum darah manusia. Sudah fitrahnya demikian, makanya gak bisa kita salahkan. Tapi jadi masalah kalau dia nyedotnya kebanyakan. Begitu juga manusia hidup untuk memenuhi hajat hidupnya. Tapi manusia punya akal, punya nurani dan terlebih punya banyak pilihan. Bahkan dalam pilihan terbaik saja seringkali kita sering "korupsi" kecil-kecilan. Entah itu korupsi waktu, ataupun dengan menerima yang tidak menjadi hak kita. Makanya kita harus hati-hati dalam melangkah."

Uap kopi dalam cangkir kami mengepul menghilang seiring detik saat kami merenung meresapi kata-kata Babe. Selalu hening setiap Babe telah usai berfilosofi, tapi ada yang ramai di sini (kepala) dan sini (hati).

@Kamar_Buku
Jum'at, 29 Maret 2013
08:18:08 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger FLP

Kumpulan Emak Blogger

Female Blogger Banjarmasin

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan